Musim Kemarau Hampir Merata di NTB, Kebutuhan Air Bersih Paling Krusial

BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat menyebutkan hampir seluruh wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Tampak daerah yang berwarna titik merah sudah memasuki musim kemarau. (Suara NTB/BMKG_StametLobar)

Mataram (Suara NTB) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lombok Barat mengatakan pada dasarian I Mei 2021, hampir seluruh wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyatakan kebutuhan air bersih menjadi persoalan yang paling krusial setiap memasuki musim kemarau.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Nindya Kirana menjelaskan curah hujan di seluruh wilayah NTB pada dasarian I Mei 2021 berada pada kategori rendah, yaitu 0 – 50 mm per dasarian.  Curah hujan tertinggi terjadi di wilayah Kediri di Kabupaten Lombok Barat, dengan jumlah curah hujan sebesar 138 mm/dasarian.

Iklan

Dijelaskan, sifat hujan pada dasarian I Mei 2021 di wilayah NTB bervariasi pada katagori Bawah Normal (BN) hingga Atas Normal (AN). Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut – turut (HTH) umumnya dalam kategori pendek, yaitu 6 – 10 hari. Namun ada beberapa wilayah terpantau mengalami HTH dengan kriteria panjang, yaitu 21 – 30 hari  hingga sangat panjang, 31 – 60 hari.

Nindya menyebutkan HTH terpanjang terpantau di Pos Hujan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur yaitu sepanjang 51 hari. ‘’Monitoring musim kemarau 2021 pada dasarian I Mei 2021 umumnya menunjukkan bahwa hampir seluruh wilayah NTB sudah memasuki musim kemarau,’’ kata Nindya, pekan kemarin.

Namun,  beberapa wilayah termonitor masih belum memasuki musim kemarau. Seperti sebagian wilayah Kabupaten Lombok Utara, sebagian wilayah Kabupaten Lombok Barat, serta sebagian wilayah Kota Mataram.

Dijelaskan, saat ini, angin timuran secara umum mendominasi wilayah Indonesia, termasuk NTB. Pergerakan MJO saat ini terpantau tidak aktif di Benua Maritim. Anomali OLR menunjukkan di wilayah NTB mengalami daerah subsiden hingga pertengahan Mei 2021, namun pada akhir Mei terdapat potensi konvektifitas akibat dari aktivitas MJO.

‘’Oleh karena itu, perluang terjadinya pembentukan awan hujan pada akhir bulan Mei 2021 cukup besar,’’ katanya.

Nindya menambahkan, pada dasarian II Mei 2021, diprakirakan terdapat peluang curah hujan  di bawah 20 mm/dasarian sebesar 50 – 90 persen yang merata hampir di seluruh wilayah NTB. Sedangkan peluang curah hujan di atas 50 mm/dasarian di bawah 10 persen yang terjadi di seluruh wilayah NTB.

Di awal musim kemarau ini, masyarakat NTB diimbau agar lebih bijak menggunakan air bersih. Namun masyarakat juga diminta tetap waspada dan berhati – hati terhadap potensi terjadinya cuaca ekstrem yang bersifal lokal.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. Zainal Abidin, M.Si mengatakan, penanganan jangka pendek yang akan dilakukan bersama kabupaten/kota mengantisipasi bencana kekeringan yang berakibat krisis air bersih adalah droping air bersih. ‘’Yang krusial nanti kebutuhan air minum. Karena masyarakat bisa nyari air minum 2 sampai kilometer,’’ terangnya.

Namun, kata Zainal, dengan adanya hujan yang masih turun meskipun sedikit, masyarakat menampungnya. Ia mengatakan penanganan krisis air bersih dengan melakukan droping ke masyarakat terdampak kembali akan dilakukan.

‘’Kita akan koordinasi dengan kawan-kawan Dinas Sosial dan kabupaten/kota untuk penanganannya. Sama dengan tahun kemarin,’’ ujarnya.

Mantan Penjabat Sementara Bupati Sumbawa ini mengatakan penanganan jangka panjang masalah krisis air bersih di NTB akibat bencana kekeringan yang berulang setiap tahun tergantung kesuksesan dalam melakukan reboisasi atau rehabilitasi hutan dan lahan yang gundul. Ia mengatakan menyusutnya jumlah mata air di NTB akibat kurangnya tutupan lahan.

“Sekarang BNPB kerja sama dengan TNI melakukan reboisasi. Meskipun satu hektare, dua hektare per desa itu bagus. Ndak usah banyak-banyak, tetapi dilaksanakan di seluruh desa. Kita akan bersinergi dengan kabupaten/kota,” tandasnya.

Pada 2020, jumlah penduduk yang terdampak kekeringan sebanyak  705.691 jiwa atau 199.294 KK. Tersebar di 341 desa, 75 kecamatan dan 9 kabupaten/kota di NTB. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional