Musim Hujan di Depan Mata, NTB Siapkan Rencana Kontijensi

Ilustrasi musim hujan (Gambar oleh WikimediaImages dari Pixabay)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menyusun rencana kontijensi menghadapi potensi ancaman bencana banjir dan tanah longsor pada Desember, Januari dan Februari mendatang. Akibat La Nina, curah hujan diperkirakan 40 persen lebih tinggi dari kondisi normal. Sehingga potensi banjir dan tanah longsor di NTB cukup besar.

‘’Intensitas hujan, 40 persen dari kondisi normal karena dalam kondisi La Nina. Permukaan air laut di Samudera Pasifik, suhunya rendah, sehingga curah hujan akan tinggi.  Sehingga potensi banjir maupun longsor di akhir tahun mulai Desember, Januari dan Februari sangat besar potensinya di NTB,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ir. IGB. Sugihartha, M.T., dikonfirmasi Rabu, 14 Oktober 2020.

Iklan

Ia menjelaskan, saat ini NTB dalam masa peralihan musim. Dari musim kemarau menuju musim hujan. Berdasarkan informasi dari BMKG, kata Sugihartha, Pulau Lombok akan memasuki musim penghujan mulai November. Sedangkan Pulau Sumbawa akan memasuki musim penghujan pada Desember.

Memasuki musim penghujan tersebut, bencana banjir dan tanah longsor cukup besar. Karena curah hujan cukup tinggi. ‘’Sehingga kami menyusun rencana kontijensi, rencana aksi. Apa langkah-langkah yang akan dilakukan mengantisipasi La Nina ini,’’ ucapnya.

Sugihartha menambahkan, pihaknya sedang melakukan mapping atau pemetaan daerah-daerah yang rawan banjir dan tanah longsor di seluruh wilayah NTB. Kemudian, juga akan dilihat sumber daya di daerah sekitar.

‘’Supaya gerak cepat melakukan tindakan dalam menangani nanti. Kita sekarang dalam kondisi menyusun rencana kontijensi, memadukan seluruh kekuatan untuk bisa mempercepat penanganan apabila terjadi bencana,’’ terangnya.

Untuk kondisi saat ini, kata Sugihartha, meskipun hujan sudah turun di NTB. Namun beberapa kabupaten/kota masih dalam kondisi kekeringan. Bahkan, ada tiga kabupaten yang menaikkan status menjadi tanggap darurat kekeringan.

Tiga daerah tersebut, yaitu Kabupaten Bima, Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Lombok Timur. ‘’Meskipun beberapa kali turun hujan, bukan berarti air tanah sudah naik. Sehingga kekeringan masih terjadi. Bisa dibuktikan, tiga kabupaten di Bima, Sumbawa dan Lombok Timur bukan lagi siaga darurat tapi tanggap darurat,’’ terangnya.

Sebelumnya, BMKG Stasiun Klimatologi Lombok Barat sudah mengingatkan agar masyarakat NTB mewaspadai  sejumlah bencana yang berpotensi terjadi pada bulan Oktober dan November. Karena, pada bulan Oktober dan November, NTB memasuki musim pancaroba, yaitu peralihan musim kemarau ke musim penghujan.

‘’Dalam masa peralihan musim atau pancaroba. Kebetulan musim pancaroba di NTB berada di bulan Oktober, perlu diwaspadai munculnya hujan secara tiba-tiba. Sangat sporadis, kencang dan durasi yang pendek tetapi lebat,’’ kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Satisun Klimatologi Lombok Barat, Luhur Tri Uji Prayitno, S.P., M. Ling.

Selain hujan lebat disertai angin kencang, pada musim pancaroba juga berpotensi angin puting beliung. Kemudian, angin kencang dengan rata-rata kecepatan 40 knot. “Harus kita waspdai di bulan Oktober ini. Masyarakat harus mewaspasai genangan, banjir, pohon tumbang dan tanah longsor,” tambahnya.

Menurut Luhur, sejumlah potensi bencana di musim pancaroba sering terjadi setiap tahun. Untuk itu, untuk mencegah dampak yang ditimbulkan, maka pohon-pohon yang lebat harus dipangkas. Begitu juga selokan atau saluran drainase harus dibersihkan.

Luhur mengatakan NTB belum memasuki musim hujan, meskipun ada beberapa kali turun hujan. NTB akan memasuki musim hujan pada dasarian pertama atau 10 hari pertama bulan November sampai dasarian kedua Desember 2020.

Awal musim hujan di setiap daerah di NTB berbeda-beda. Karena di NTB, kata Luhur, ada 21 zona musim atau ZOM. Sehingga dalam satu kabupaten, ada yang awal musimnya berbeda. Walaupun berbeda awal musimnya, namun jaraknya tidak terlalu jauh, ada yang 10 hari atau 20 hari.

“Jadi, awal musim hujan kita (NTB) antara awal November sampai Desember dasarian kedua. Puncak musim hujannya di Januari sampai Februari 2021,” tuturnya.

Luhur menjelaskan puncak musim kemarau di NTB sudah dilalui pada Agustus lalu. Sekarang, merupakan akhir dari musim kemarau yang disebut musim pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. (nas)