Musik “Kebangru’an” sebagai Pengobatan Gangguan Mental dalam Perspektif Tradisional

Musik kebangru’an sebagai pengobatan gangguan mental. Mahasiswa Unram melakukan penelitian tentang musik kebangru’an. Penelitian ini dilakukan dalam rangka pelaksaanan PKM Riset Sosial Humaniora oleh Kemenristekdikti 2021. (Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Mahasiswa Universitas Mataram (Unram) melakukan penelitian tentang musik kebangru’an sebagai pengobatan gangguan mental. Tim mahasiswa Unram ini diketuai oleh Dina Khaerunisa  (Pendidikan Sosiologi 2018) dan beranggotakan Muhammad Iqbal Zuwandi (Pendidikan Matematika 2019), Uswatun Hasanah (Pendidikan Kimia 2020), Hartina (Pendidikan Sosiologi 2018), dan Nurul Amalia (Ilmu Hukum 2018). Penelitian ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora oleh Kemenristekdikti 2021.

Penelitian yang dilakukan mengenai pengobatan tradisional seperti musik kebangru’an mampu mengobati gangguan mental. Penelitian dilakukan di Dusun Benyer Pringgabaya Lombok Timur. Kebangru’an adalah istilah lokal masyarakat Sasak untuk menyebut kerasukan atau kesurupan. Kebangru’an menurut masyarakat Sasak adalah suatu keadaan di mana seseorang dirasuki makhluk halus atau roh leluhur, sehingga menimbulkan perilaku aneh seperti berteriak, mengamuk, dan perilaku aneh lainnya yang di luar kebiasaan.

Iklan

Di Dusun Benyer terdapat fenomena kebangru’an yakni seseorang yang dirasuki roh dengan perilaku khas berupa bernyanyi, namun terlepas dari kesadarannya.  “Gini dulu, kadang-kadang sampai tiga hari tiga malam dia kayak orang kerasukan, bolak-balik segala macam sudah nyanyi-nyanyi-lah gitu, terus nyanyiannya khusus dia, dia keluar sendiri dia bikin sendiri, kita tidak tahu,” ujar Nurhayati, keluarga penderita kebangru’an.

Ndek narak idap lek te, lek daratan ne marak idap ngelayang lek tengak laut idapn, kosong sekali ndarak isin idapn. Terus  waktum  perjalanan no selame ne  satu minggu kosong terus. (Tidak ada rasanya di sini,seperti rasanya ada di tengah laut, kosong sekali, nggak ada rasanya. Selama satu minggu kosong terus.),”  ujar Husniah, penderita kebangru’an.

Di Dusun Benyer, ketika terjadi kebangru’an, musik kebangru’an ini digunakan sebagai penyembuhnya. Biasanya mereka yang kebangru’an bersenandung dan meminta diiringi oleh musik ini. Kemudian keluarga penderita kebangru’an melakukan kesepakatan dengan pemain musik terkat pengobatan yang akan dilakukan. Kalau pihak keluarga meminta selama tujuh hari maka diiringilah penderita kebangru’an selama tujuh hari.

“Selama berapa hari dia minta, ya kalau tujuh hari ya tujuh hari harus itu,  setelah tujuh hari itu pergi dengan sendirinya. Kalau keluarganya tidak mau menuruti apa yang dimau si kebangru’an ini, keluarganya tidak mau anaknya menari dicarikanlah dia dukun ‘orang pintar’ untuk mengobatinya supaya dia bebas dari kebangru’an itu. Saya sudah saksikan dicarikan dia dukun justru dia tambah gerang agresif begitu. Jadi maunya dia apa yang dinginkan itu yang harus diikuti, minta musik ini untuk mengiringi dia,” jelas pemain musik kebangru’an, Rihin.

Kebangru’an juga diartikan sebagai penyampaian pesan oleh leluhur kepada manusia terlepas baik buruknya pesan yang disampaikan. Musik yang dahulu beraliran dinamisme atau mempercayai ada kekuatan gaib pada alat musik yang ada sehingga mendewakan kini telah berubah relnya menjadi musik yang memberi syiar agar manusia kembali kepada jati dirinya.

Proses penyembuhan yang pada zaman dulu awalnya dilakukan dengan mendewakan alat musik tersebut, kini dilakukan kepada Allah SWT dengan terus berdzikir dalam hati dan diniatkan untuk kesembuhan penderita kebangru’an.

“Jadinya ketika kita bermain musik itu, kita terus berdzikir kepada Allah diniatkan untuk kesembuhan orang yang kebangruan,” ujar Ake, seorang pemain musik kebangruan.

Kebangru’an atau kerasukan adalah perspektif tradisional gangguan mental yang istilah medisnya yakni dissociative trance disorder atau possession disorder (Veratamala, 2019). Gejala dari gangguan ini berupa kehilangan identitas diri dan terjadi di luar kemauan.

Jika dikaitkan dengan masyarakat Sasak yang cenderung masih memegang teguh nilai tradisional dan mempercayai adanya mahkluk selain manusia, pengobatan tradisional semacam ini bukan merupakan suatu hal yang jarang ditemui.

Dalam musik ini banyak pesan-pesan yang disampaikan misalnya melalui filosofi alat musik yang dimainkan. Beberapa di antaraya adalah gendang berfungsi mengatur ritme musik. Cepat atau lambatnya ritme musik diatur oleh gendang. Gendang menggambarkan pikiran manusia karena pikiranlah yang sangat berperan penting dalam menjalani dinamika kehidupan. Suling yang dimainkan dengan cara menutup dan melepas beberapa lubang yang ada sehingga menimbulkan suara yang indah. Suling memiliki makna gambaran fisik manusia. Lubang di dalam suling adalah sebagai panca indra yang harus dijaga pada situasi tertentu.

Seiring berkembangnya zaman, musik ini tidak hanya digunakan untuk mengobati orang kebangru’an  saja, tetapi juga dapat dinikmati sebagai seni pertunjukkan. Perbedaan permainan musik ntuk mengobati kebangru’an dan sebagai sarana hiburan terletak pada niat. “Kita juga sering bermain di acara-acara hajatan, khitanan, nikahan, kalu ada yang ngundang kita datang,” ujar Ake, pemain musik kebangru’an. “Jadi memainkan alat musik itu tergantung apa yang diniatkan,” tambah Rihin, pemain musik kebangru’an.

Pemain musik kebangru’an sangat minim regenerasi. Terlihat dari pemainnya yang cendeung berusia lanjut  atau sekitar 40 tahun ke atas. Untuk itu dibutuhkan regenerasi agar musik ini mampu berkembang dan tidak tertelan zaman. Musik tradisioanal ini merupakan salah satu musik khas Lombok yang harus dilestarikan.

“Kalau kita memahami pesan di dalam musik itu, apa yang disampaikan, kemudian simbol-simbol apa yang di dalamnya, apa yang dipahami,  ini harus dikembangkan. Minimal harus ada regenerasi untuk masa yang akan datang. Mungkin pak Rihin sebentar sudah sepuh harus diganti dengan yang muda supaya akan terus tumbuh dan berkembang,” harap Ake.

Selain regenerasi, juga dibutuhkan kerja sama dengan pihak lain seperti seniman yang sekiranya mampu untuk mengambangkan musik ini. “Makanya saya usahakan kepada seniman tolong ciptakan saya lagu, lirik lagunya yang penting bisa masuk di gending ini, tetapi masih belum ada,” ujar Rihin, pemain musik kebangru’an.

Untuk itu, selain memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang penyembuhan melalui musik kebangru’an, diharapkan juga dapat memberi manfaat berupa pengenalan musik tradisonal khas Sasak ini kepada khalayak, agar regenerasi bisa berjalan dan musik ini dapat bertahan dan berkembang sebagai musik tradisional khas Lombok. (ron)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional