Musik Genggong Terancam Punah

Giri Menang (suarantb.com) – NTB merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang memiliki keragaman budaya. Salah satu dari keragaman budayanya adalah musik tradisi. Musik memang menjadi salah satu jenis kesenian yang diterima secara luas di provinsi ini.
Salah satu seni musik tradisi yang ada di NTB adalah musik tradisi genggong. Musik yang instrumennya berasal dari bambu ini tergolong sulit untuk dimainkan. Karena tidak hanya ditiup, ada unsur teknik lain yang dilakukan melalui tarik ulur tali senar.

Oleh sebab itu, tidak heran keberadaan pemain genggong di NTB khususnya di Pulau Lombok terbilang langka. Dan satu-satunya kelompok seni tradisi genggong yang masih bertahan adalah Kelompok Genggong Desa Gelangsar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Itupun dengan kenyataan bahwa rata-rata dari pemainnya sudah berusia 70 tahun ke atas.

Budayawan NTB, Sahnan, SH mengatakan musik genggong Gelangsar memang sempat menjadi musik yang cukup populer di masa lalu. Bahkan jenis musik ini begitu disenangi oleh para tentara Jepang yang dulu bertugas di Pulau Lombok pada saat perang dunia ke-2.

Dari penuturan Sahnan, setelah kemerdekaan, sempat sekali waktu musisi genggong Gelangsar diundang untuk bermain di Dusun Golong Narmada Kabupaten Lombok Barat. Sampai di lokasi, betapa terkejutnya mereka ketika mendapati kenyataan bahwa yang akan mereka hibur adalah Veteran Tentara Nipon yang rata-rata sudah berusia 80 tahun ke atas.

Disampaikan Sahnan, para veteran tersebut sengaja jauh-jauh datang ke Indonesia hanya karena rindu untuk mendengarkan alunan musik genggong Gelangsar.

“Tempo dulu kesenian ini paling disenangi oleh orang Jepang. Sempat sekali waktu genggong diundang main ke Golong, ternyata yang diiringi Tentara Jepang yang berusia 80 tahun di sebuah pematang sawah,” tutur Sahnan, Rabu, 7 Desember 2016.

Hal tersebut, lanjut Sahnan sontak membuat para pemain genggong Gelangsar menjadi kaget. Berangkat dari hal tersebut, kemudian muncul keinginan menampilkan kembali musik genggong ke hadapan masyarakat. Hal itu sebagai salah satu cara memunculkan kembali kejayaan masa lalu musik genggong.

Keinginan itu juga dikarenakan kenyataan saat ini, sebagian besar masyarakat NTB khususnya pulau Lombok yang sudah tidak peduli dengan keberadaan musik genggong yang sempat terkenal tersebut. Diinisiasi oleh Dewan kesenian Lombok Barat, genggong Gelangsar kemudian ditampilkan kembali ke hadapan masyarakat.

Hal tersebut terjadi Selasa, 6 Desember 2016 malam, bertempat di Gedung Kesenian Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Dari pantauan suarantb.com, penampilan apik kelompok musik tradisi genggong Gelangsar berhasil memunculkan decak kagum para penonton yang hadir menyaksikan pertunjukan. Hal itu dibuktikan dengan riuhnya tepuk tangan penonton yang mengapresiasi penampilan mereka.

Usia para pemain musik genggong yang rata-rata 70 tahun itu tidak menjadi halangan bagi mereka dalam beraksi menghibur penonton pada malam itu. Dengan apik mereka memainkan tiga lagu berturut-turut, beberapa di antaranya adalah Layang Senang Pertemon dan Gending Para Pemenang.

Sebagai musik tradisi asli suku Sasak, Genggong menjadi bukti bahwa NTB memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah dengan bangsa lain. Meskipun tidak setenar musik tiup Didgeridoo milik bangsa Aborigin Australia, keberadaan musik genggong sudah cukup menjadi bukti.

Memang, keberadaan musik Genggong yang tidak sepopuler Didgeridoo ditambah dengan terbatasnya jumlah masyarakat yang bisa memainkan jenis musik ini, tentu menjadi persoalan lain bagi Dewan Kesenian Lombok Barat dalam melestarikannya.
“Kini pemain genggong yang tersisa sudah berusia 60, 70, 80 tahun,” kata Sahnan.

Namun setidaknya, lanjut Sahnan pertunjukan  musik genggong malam itu menjadi langkah positif Dewan Kesenian Lombok Barat dalam melestarikan musik genggong. Ia mengharapkan kegiatan tersebut bisa menggugah masyarakat dalam melestarikan musik Genggong. Ketika hal tersebut tidak terjadi, maka tidak perlu waktu lama untuk jenis musik ini menjadi hanya tinggal cerita.

Untuk diketahui, Kelompok Genggong Gelangsar menjadi satu-satunya kelompok musik tradisi Genggong yang saat ini masih bisa bertahan. Itu pun dengan usia rata-rata para pemain 70 tahun ke atas. (ast)