Muncul Dampak Negatif, Sektor Pariwisata Sering Jadi Kambing Hitam

Mataram (suarantb.com) – Perkembangan pariwisata selalu memberikan dampak positif dan negatif bagi daerah. Dampak positifnya, pariwisata menjadi salah satu sumber peningkatan ekonomi daerah, karena mampu berperan sebagai multiplier effect dalam menggerakkan sektor lainnya.

Pengamat Pariwisata Akademi Pariwisata (Akpar) Mataram, Drs. I Putu Gede, M. Par, perlu kiranya dilakukan antisipasi dini terkait dampak negatif yang muncul seiring dengan pengembangan sektor pariwisata di NTB.

Iklan

“Yang penting antisipasinya dan jadi PR (pekerjaan rumah) ke depannya, agar bagaimana masyarakat NTB bisa mendeteksi secara dini gejala-gejala yang timbul dari berkembangnya pariwisata ini,” ujarnya saat dihubungi suarantb.com, Rabu, 15 Maret 2017.

Namun, Putu Gede mengatakan sektor pariwisata bukan menjadi satu-satunya penyebab munculnya hal-hal yang bersifat negatif tersebut. “Bukan hanya dari parisiwata saja yang bawa hal negatif, semua sektor yang dikembangkan pasti punya sisi negatifnya juga,” katanya.

Namun menurutnya, tak jarang sektor pariwisata dijadikan “kambing hitam”  ketika terdapat hal-hal bersifat negatif yang muncul. Disamping perannya yang juga besar dalam mengembangkan perekonomian daerah.

“Seperti narkoba misalnya, apa hanya di daerah pariwisata aja, kan ndak. Di Aceh contohnya banyak, padahal bukan daerah destinasi pariwisata. Teroris misalnya, juga berkembang di Jakarta dan lainnya yang bukan daerah pariwisata,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengungkapkan perlu adanya deteksi dini oleh masyarakat ketika melihat dan mengetahui hal-hal yang bersifat mencurigakan. Keterlibatan aparat juga dinilai penting dalam mencegah hal-hal yang dapat merugikan pengembangan pariwisata.

Menurut Direktur Akpar Mataram ini, NTB sudah sangat siap dalam menerima perkembangan pariwisata. Namun ia menekankan agar masyarakat harus memiliki kesiapan dalam menghadapi pariwisata yang semakin berkembang ke depannya.

Putu Gede juga mengatakan  bagaimana pengembangan pariwisata tersebut dapat dinikmati oleh berbagai pihak. Sehingga tidak menimbulkan ketimpangan di dalamnya. “Ibaratnya kue pariwisata udah ada, tinggal gimana untuk bagi kue-kue ini agar jangan dinikmati oleh beberapa kelompok orang saja,” imbuhnya.

Terakhir, Putu Gede menekankan agar pariwisata yang dikembangkan harus berbasis masyarakat. Artinya, dapat dinikmati masyarakat setempat. “Bagaimana pariwisata yang berbasis masyarakat ini nantinya juga dinikmati masyarakat juga. Jangan sampai masyarakat ini nanti hanya jadi peninton,” sarannya. (hvy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here