Mulai Hari Ini, Rp95 Ribu Bisa Rapid Test di Hepatika Mataram

Pemeriksaan rapid test berbiaya murah di Klinik Hepatika Mataram. (Suara NTB/alfan)

Mataram (Suara NTB) – Pengembangan RI-GHA Covid-19 sebagai alat rapid test buatan asli Indonesia di Laboratorium Hepatika Bumi Gora Mataram berhasil melewati tahap validasi. Pengembangan alat rapid test tersebut menjadi harapan untuk rapid test berbiaya murah.

Direktur Laboratorium Hepatika Bumi Gora Mataram, Prof. dr. Mulyanto, menerangkan uji validasi yang dilakukan di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Airlangga selesai dilakukan untuk RI-GHA Covid-19.

Iklan

“Insyallah hari ini selesai. Kemenristek pesan untuk keperluan disumbangkan, kami sudah jadi semuanya di bawah koordinasi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) mewakili Kemenristek,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa, 30 Juni 2020 di Mataram.

Berdasarkan rapat pendahuluan dengan BPPT, harga maksimal penjualan RI-GHA Covid-19 adalah Rp75.000. Jika dibandingkan dengan harga alat rapid test impor yang saat ini beredar di pasaran, maka harganya tentu lebih murah.

Pengembangan alat rapid test tersebut diterangkan melibatkan peneliti dari Unviersitas Gadjah Mada, Laboratorium Hepatika Mataram, dan Universitas Airlangga. Pemesanan selanjutnya dilakukan melalui BPPT, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dalam daerah.

Menurut Mulyanto, sampai saat ini pihaknya telah membuat hampir 80.000 alat rapid test. Dimana 10.000 diberikan ke rumah sakit dan untuk memenuhi kebutuhan validasi, sedangkan 70.000 lainnya untuk memenuhi permintaan Kemenristek.

Pemesanan juga disebut datang dari pihak swasta dan pemerintah, termasuk Pemprov NTB. “Tapi kami belum bisa pastikan karena bahan bakunya harus didatangkan dari Amerika. Jadi cukup sulit, tapi rencananya akhir bulan ini sudah bisa dipenuhi pesanan-pesanan itu,” jelasnya.

Di sisi lain, klinik di Laboratorium Hepatika Bumi Gora juga memanfaatkan pengembangan alat rapid test tersebut untuk menyediakan pelayanan rapid test berbiaya murah. Terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di NTB.

  34.000 PMI Segera Dipulangkan, Pemprov Khawatir Muncul Klaster Baru Corona di NTB

“Itu baru mulai hari ini, setelah dapat izin untuk dipasarkan. Berarti Rp75 ribu hanya (alat) tesnya saja. Dengan PPN dan alat untuk pengambil darah, biaya pemeriksaannya jadi Rp95.000,” ujar Mulyanto.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, menerangkan rapid test di Klinik Hepatika Bumi Gora memang terbilang murah. Mengingat untuk fasilitas kesehatan lainnya di NTB masih menggunakan alat rapid test impor yang dibeli dengan harga lebih mahal.

Untuk itu, Pemprov NTB juga telah mengajukan pembelian alat rapid test buatan lokal tersebut. Terutama untuk memberikan layanan rapid test yang lebih luas. “Kita sudah ada rencana beli, tapi sudah dijawab akhir Juli baru dapat,” jelas Eka.

Diterangkan, saat ini stok alat rapid test yang dimilik Gugus Tugas Penanganan Covid-19 NTB berjumlah sekitar 7.700. Mengingat penyediaan alat rapid test murah dari Laboratorium Hepatika Bumi Gora baru didapatkan pada Juli mendatang, maka pengadaan tersebut diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan pemeriksaan gratis bagi pelajar dan mahasiswa.

“Kita harus hitung untuk pelajar dan mahasiswa mulai masuk Juli, kita sedang berhitung untuk rencana penggeratisan itu,” ujar Eka.

Di sisi lain, upaya membebaskan biaya rapid test tersebut harus memenuhi beberapa syarat. Antara lain adanya bukti pemberitahuan dimulainya proses belajar-mengajar dari sekolah ataupun universitas.

Diterangkan, sampai saat ini pemerintah daerah telah menggeratiskan rapid test bagi sekitar 800 orang santri.

“Ada 200 santri yang hari ini kita periksa, sebelumnya juga ada 300 orang dari Gontor dan 300 orang lainnya dari pesantren di Situbondo. Mereka memberitahu secara resmi tanggal 1 Juli mereka mau berangkat,” pungkasnya. (bay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here