Mulai 8 Agustus, Bupati Lotim Izinkan Belajar Tatap Muka di Sekolah

H.M. Sukiman Azmy. (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Bupati Lombok Timur (Lotim), Drs. H. M. Sukiman Azmy, MM., menegaskan akan membuka kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah per tanggal 8 Agustus mendatang. Meski masih berisiko terjadinya penyebaran Covid-19, kebijakan yang diambil ini untuk memberikan kepastian kepada masyarakat dalam mengenyam dunia pendidikan.

“Kita tidak boleh berlarut-larut dalam ketidakpastian. Per tanggal 8 Agustus 2020, saya akan masukkan siswa untuk menggelar KBM secara tatap muka di sekolah,” terang bupati dalam acara peresmian musala dan kunjungan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) NTB di halaman Kemenag Lotim, Rabu, 29 Juli 2020.

Iklan

Menurut bupati, berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemda Lotim dalam mencegah terjadinya penularan Covid-19. Di antaranya berupa rapid test berbasis masjid, berbasis pasar dan berbasis sekolah. Dari rapid test tersebut, pada kenyataannya tidak ada yang reaktif. Untuk itu, ia meminta kepada jajaran Kemenag, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) agar tidak lagi yang menghalangi untuk siswa mengenyam pendidikan secara tata muka di sekolah.

Akan tetapi, tambahnya, penerapan protokol kesehatan di lingkungan pendidikan harus tetap diterapkan. Pihak sekolah atau madrasah harus menyediakan fasilitas-fasilitas tempat mencuci tangan, hand sanitizer, bahkan rutin melakukan pengecekan suhu tubuh siswa. Untuk cek suhu ini, bupati mengingatkan supaya dilakukan di tangan, bukan di kepala karena sangat berbahaya untuk saraf dan dampak lainnya.

Pihak sekolah juga diminta untuk membuat suatu strategi pembelajaran di tengah pandemi Covid-19. Misalnya untuk kegiatan tatap muka di sekolah dilakukan secara sistem sif atau pembagian siswa. Misalnya dari pukul 07:00 wita sampai pukul 09:00 wita yang masuk 20 siswa, dari pukul 09:00 hingga pukul 11:00 wita 20 siswa dan seterusnya. Dengan sistem ini, penumpukan siswa dapat terhindari.

 “Jika dari tes kesehatan secara rutin dilakukan selama KBM di sekolah ditemukan adanya guru maupun siswa yang reaktif. Tentu kita langsung melakukan perawatan. Tapi selama ini, rapid test di masjid, di pasar tidak ada ditemukan,”tegasnya.

Pada kesempatan ini, bupati juga menyinggung jika pembelajaran secara digital belum dapat diterapkan secara maksimal. Meski siswa memiliki handphone namun cara pengoperasian dan ketersediaan kouta menjadi faktor penghambat. Tak terkecuali persoalan yang sama dihadapi oleh tenaga pendidik. Untuk itu, orang nomor satu di Gumi Selaparang ini tetap akan mengizinkan siswa masuk pada 8 Agustus mendatang.

“Meskipun saya dilarang oleh provinsi. Saya akan tetap memasukkan siswa ke sekolah tanggal 8 Agustus. Jika risikonya ada yang reaktif, swab positif Covid-19. Maka kita tinggal rawat,”tegasnya. (yon)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here