Mulai 10 Oktober, 100 Persen Limbah Medis Diolah di NTB

Madani Mukarom. (Suara NTB/her)

Mataram (Suara NTB) – Pemprov NTB menyatakan mulai 10 Oktober, 100 persen limbah medis yang dihasilkan di NTB akan diolah di Pabrik Limbah Medis Sekotong Lombok Barat (Lobar). Dinas Kesehatan (Dikes) NTB mencatat, produksi limbah medis Covid-19 selama delapan bulan terakhir sebanyak 89.842 kg.

Secara keseluruhan, produksi limbah medis di NTB saat ini antara 6 – 7 ton per hari. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Ir. Madani Mukarom, B.Sc.F., M.Si., mengatakan kapasitas pabrik limbah medis yang berada di Sekotong sebesar 300 kg jam. Jika beroperasi 24 jam, maka mampu mengolah limbah medis sebanyak 7,2 ton sehari.

Iklan

“Sehingga 100 persen limbah medis di NTB bisa terkelola semuanya dengan baik di sana,” kata Madani dikonfirmasi usai rapat koordinasi dengan Dikes NTB dan seluruh rumah sakit dan Fasyankes di Mataram, Rabu, 6 Oktober 2021.

Setelah rakor dengan rumah sakit dan Fasyankes, Madani mengatakan Pemprov akan mengundang seluruh transporter atau pihak ketiga yang selama ini mengirim limbah medis ke Pulau Jawa. Dalam rakor dengan rumah sakit penghasil limbah medis di NTB, kata Madani, transporter yang sudah menjalin kerja sama pengiriman limbah medis ke Pulau Jawa “dipaksa” agar tak lagi mengirim limbah medis ke luar daerah.

Karena NTB sudah memiliki fasilitas pengolahan limbah medis di Sekotong Lombok Barat. Dari sisi biaya, kata Madani, transporter diuntungkan. Karena dengan mengirim limbah medis ke pabrik yang ada di Sekotong, maka biaya transportasi lebih murah.

‘’Itu akan menguntungkan mereka kalau dikirim ke Sekotong. Karena kalau ke Jawa, maka ada biayanya,’’ terangnya.

Ia menyebut ada 4 transporter limbah medis di NTB. Namun yang aktif melaporkan kegiatannya ke Dinas LHK hanya 2 transporter. “Mulai 10 Oktober, 100 persen limbah medis diolah di NTB,” tandasnya.

Kepala Dikes NTB, dr. H. Lalu Hamzi Fikri, M.M., MARS., mengatakan sudah ada komitmen dari seluruh rumah sakit dan Fasyankes yang ada di NTB untuk mengirim limbah medis ke pabrik yang ada di Sekotong. Sesuai target Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, pabrik limbah medis Sekotong beroperasi penuh mulai 10 Oktober mendatang.

“Tetapi tanggal 9 Oktober, sampah limbah medis sudah ada di tempat. Terutama prioritas limbah medis dari rumah sakit lingkup provinsi. Kemudian dilanjutkan dengan kabupaten/kota,” katanya.

Fikri mengatakan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan transporter atau pihak ketiga yang selama ini bekerja sama dengan rumah sakit untuk pengiriman limbah medis ke luar daerah. Ia menyebut, produksi limbah medis di NTB cukup besar, yaitu 6-7 ton per hari.

Untuk limbah medis Covid-19 saja, selama 8 bulan terakhir jumlahnya 89.842 kg. Biaya yang dikeluarkan rumah sakit untuk pengiriman limbah medis ke Pulau Jawa sekitar Rp3,58 miliar lebih. “Itu belum limbah medis lainnya. Itu hanya limbah Covid saja,” katanya.

Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial dan Kemasyarakatan, Drs. H. Wirajaya Kusuma, M.H., mengatakan, selama ini limbah medis yang dihasilkan rumah sakit dan Fasyankes dikirim ke Pulau Jawa. Sekarang, dengan adanya fasilitas berupa pabrik limbah medis yang dibangun Kementerian LHK di Sekotong, maka semua limbah medis bisa diolah di dalam daerah.

‘’Banyak kemanfaatan yang didapatkan Pemprov terutama PAD. Ini sangat bagus. Ke depan, dengan jumlah  limbah medis yang terus bertambah. Kita barengi dengan pengelolaan limbah medis yang baik,’’ kata Wirajaya. (nas)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional