Moringa Sasambo : Teh Ajaib Berbahan Dasar Kelor

Mataram (suarantb.com) – Kelor, lumrah dikonsumsi masyarakat NTB sebagai lauk dan bisa dibeli dengan harga murah di pasaran. Bahkan satu ikat daun kelor biasanya dihargai hanya Rp 500-1000.

Murahnya harga kelor, serta keberadaannya yang kerap tumbuh liar di pekarangan, membuat orang luput dari besarnya manfaat tanaman berdaun bulat ini. Tapi tidak dengan Nasrin H. Muhtar, pengusaha jamu yang terkenal dengan produk Jamu Sasambonya. Berbekal pengetahuan akan sejuta khasiat kelor, ia membuat kelor naik kelas menjadi produk baru dengan harga 100 kali lipat lebih mahal.

Iklan

Produk teh serbuk Moringa Sasambo yang berbahan dasar kelor asli NTB.

“Apa yang sudah ditanam masyarakat itu yang saya manfaatin. Saya melihat potensi di daerah ada banyak kelor, bahkan setiap rumah punya kelor. Kenapa tidak dimanfaatkan?” ungkapnya pada suarantb.com, Kamis, 16 Maret 2017.

Dorongan mengolah kelor menjadi obat herbal diakui Nasrin setelah melihat fakta banyak negara sudah terlebih dulu membuat produk olahan dari kelor. Jepang, Korea hingga Jerman berbondong-bondong memproduksinya, padahal tanaman kelor atau moringa tidak bisa ditemui di semua negara tersebut.

“Saya terinspirasi bagaimana kelor itu bisa dimanfaatkan masyarakat. Selama ini mereka sudah konsumsi kelor. Orang berpradigma kelor itu bikin rematik, ternyata setelah saya browsing ada 40 khasiat kelor itu, bisa untuk kesehatan tubuh. Kenapa kita tidak produksi?” tandasnya.

Saat menelusuri informasi di internet, pria asal Dompu ini menemukan fakta kelor dijual dengan harga mahal di luar sana. Di Korea, satu kapsul dari ekstrak kelor dihargai Rp 150 ribu, sementara 100 gram serbuk kelor dijual seharga 30 dollar atau sekitar Rp 390 ribu.

Peluang ini tentu tidak dilewatkannya, Nasrin langsung mencoba memproduksi olahan dari kelor. Selain memanfaatkan komoditas lokal, produk ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Sehingga masyarakat yang sebelumnya bergantung pada komoditas lain, bisa nanam ini. Bisa dengan hanya nanam di depan rumah, cuma memang dulu belum ada yang bisa mengakomodir, mereka mau jual kemana. Kalau sekarang ada yang mau jual kelornya ke saya, boleh,” ucapnya bersungguh-sungguh.

Saat ini, diakuinya suplai kelor yang ia datangkan dari Dompu, sebab belum menemukan tempat penyuplai kelor di Mataram. Namun, ke depan ia meyakinkan kelor yang biasanya dijual ke pasar bisa dijual rutin padanya. Ini tentunya membantu tambahan penghasilan masyarakat yang memiliki tanaman kelor.

“Kalau saya bisa beli rutin kan mereka bisa tinggal nanam di pekarangan rumah. Berarti ada income yang dimanfaatkan,” katanya.

Oleh Nasrin, kelor ini diolah menjadi tiga produk, yaitu serbuk teh kelor, teh celup dan selanjutnya menyusul ekstrak kelor dalam bentuk kapsul. Cara pengolahannya semua dimulai dari pengeringan daun kelor dengan cara diangin-anginkan saja. Proses ini membutuhkan waktu sekitar empat hari tanpa sinar matahari, sebab panas matahari berpotensi merusak klorofil dalam daun.

Sejak diluncurkan Senin, 13 Maret kemarin, Nasrin sudah mulai menerima pesanan yang tertarik mencoba produk kelornya. “Lewat online sudah banyak yang pesan, kemarin saya sudah kirim ke Papua, Jakarta dan Bogor,” ucapnya.

Produk olahan kelor ini dibanderol dengan harga beragam. Untuk serbuk kelor kalengan seberat 100 gram dijual seharga Rp 75 ribu dan 150 gram Rp 100 ribu dan untuk teh, per sachet dihargai Rp 2000. Sementara itu, produk kapsul belum diproduksi. Namun, Nasrin mengatakan kapsul harus diproduksinya juga, karena semua peralatan yang dibutuhkan telah dimilikinya.

Dengan membeli produk kelor ini, Nasrin menjelaskan ada tiga manfaat langsung yang bisa diberikan untuk NTB. “Pertama, mensejahterakan petani lokal yang menanam kelor ini, membuka lapangan kerja dan pastinya untuk kesehatan. Bahan bakunya kita beli di sini, asli dari sini. Daripada beli teh merek lain tidak ada kontribusi positifnya untuk NTB,” katanya mantap. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here