Monumen Mataram Metro Miring?

Pengendara melintas di ruas jalan lingkar depan monumen Mataram Metro di Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Minggu, 9 Agustus 2020. Monumen ini salah satu proyek yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tetapi belum rampung. Proyek ini berpotensi kembali mangkrak karena keterbatasan anggaran. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Rapat kerja Komisi III DPRD Kota Mataram dengan Dinas PUPR Kota Mataram menggambarkan lemahnya perencanaan pembangunan monumen Mataram Metro. Sejumlah anggota Komisi III mengkritisi kinerja rekanan monumen bernilai Rp11 miliar itu. Demikian pula dengan peran pengawas yang dianggap abai terhadap kualitas pekerjaan.

Wakil Ketua Komisi III, I Gusti Nyoman Agung Sugantha, ST., menilai bangunan tugu monumen Mataram Metro agak miring.

Iklan

‘’Mungkin saja, waktu pembangunan dasar belum kering sudah ditimpa beban berat sehingga terjadi kemiringan,’’ ujarnya. Penilaian Agung diperkuat dengan pendapat yang disampaikan Sekretaris Komisi III, Irawan Aprianto, ST.

Irawan mengungkapkan, Komisi III pernah melakukan inspeksi mendadak terhadap pembangunan monumen Mataram Metro. Mandor proyek tersebut mengaku salah satu yang menjadi kendala molornya pengerjaan monumen Mataram Metro adalah ‘’warisan’’ pekerjaan dari rekanan terdahulu.

‘’Jadi strukturnya melenceng sampai 20 cm. Jadi ini akhirnya disesuaikan dulu oleh rekanan sebelum melanjutkan pekerjaan,’’ katanya.

Namun yang menjadi keheranan komisi yang membidangi masalah pembangunan ini adalah, peran pengawas yang dianggap tidak maksimal.

‘’Yang menjadi pertanyaan kami, kok diloloskan oleh pengawas,’’ sesalnya. Demikian pula dengan alasan bahwa alat berat berupa crane akhirnya tidak dapat digunakan karena medan yang berat.

’Kan dari awal lokasinya memang di situ, tidak pindah-pindah. Jadi harusnya dari awal harus sudah dipikirkan bagaimana skenarionya menggunakan crane di sana,’’ demikian Irawan.

Anggota Komisi III lainnya, Ahmad Azhari Gufron, S.Si., menduga ada bagian dari material pembangunan monumen Mataram Metro yang dikerjakan di lokasi proyek.

Kepala Dinas PUPR, Miftahurahman membantah, material pembangunan dikerjakan di lokasi pembangunan proyek. ‘’Semua bahannya itu pabrikasi,’’ cetusnya.

Dia mengaku, rekanan tidak bisa maksimal menggunakan alat berat. Miftah tidak menyangkal bahwa struktur awal bangunan tugu monumen Mataram Metro memang ada kemiringan antara 15 – 18 persen.

Faktor cuaca juga turut mempengaruhi molornya pembangunan proyek yang mulai dikerjakan Bulan Juli 2019 ini. ‘’Saya katakan sama Pak Walikota ini pekerjaan seni, seharusnya multiyears,’’ sebutnya.

Terkait peran pengawasan, ke depan pihaknya akan melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap proyek fisik yang menjadi bidang tugas Dinas PUPR.

‘’Kalau masalah kemiringan, terus terang saya belum mampu melihat kemiringan monumen Mataram Metro. Pak Agung hebat sekali bisa melihat kemiringan itu,’’ kelakarnya. (fit)