Monev PPS Bendungan Meninting, Pembebasan Lahan Tinggal Lima Bidang Tanah

Kepala Kejati NTB Tomo Sitepu didampingi Kepala BWS Nusa Tenggara I Hendra memantau progres pekerjaan pembangunan Bendungan Meninting di Gunungsari, Lombok Barat saat monitoring dan evaluasi Tim Pengamanan Proyek Strategis (PPS) Kejati NTB.(Suara NTB/Kejati NTB)

Mataram (Suara NTB) – Kajati NTB Tomo Sitepu memantau langsung capaian proyek Bendungan Meninting di Penimbung, Gunungsari, Lombok Barat. Pemantauan dalam rangka tugas Pengamanan Proyek Strategis (PPS) terhadap proyek tahun jamak senilai Rp1,35 triliun ini. Pekerjaan konstruksi tercapai sesuai target meskipun masih terkendala pembebasan sebagian lahan.

“Untuk konstruksinya berdasarkan kontrak tahun jamak sudah tercapai 16,01 persen. Sementara untuk pekerjaan tahun 2021 ini saja sudah tercapai 65,60 persen,” ucap Tomo Kamis, 7 Oktober 2021 dalam hasil pemantauan dan evaluasinya bersama Kepala BWS Nusa Tenggara I Dr Hendra.

Iklan

Kemudian untuk pembebasan lahan baru tercapai 70 persen. Identifikasi masalahnya, pembayaran pembebasan lahan untuk area buangan galian seluas 38,37 hektare belum selesai. Masyarakat pemilik lahan belum setuju dengan jumlah ganti rugi. “Itu lima bidang lahan dari total 382 bidang lahan yang dibebaskan,” sebutnya.

Solusi dari kendala itu, sambung Tomo, yakni dengan mengadakan musyawarah bersama masyarakat pemilik lahan yang menolak besaran ganti rugi menurut perhitungan Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Apabila masih menolak juga, maka dapat ditempuh mekanisme pengajuan keberatan ke pengadilan.

Rujukannya pada ketentuan pasal 75 PP No19/2021 tentang penyelenggaran pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum. Yang pada intinya menerangkan tata cara penyelesaian apabila tidak tercapai kesepakatan. Keberatan diajukan paling lama 14 hari sejak ditandatanganinya berita acara hasil musyawarah.

“Tim PPS telah berkoordinasi dengan BPN Lombok Barat terkait percepatan proses penyelesaian penghitungan dan validasi agar dapat segera dilakukan pembayaran kepada masyarakat yang terdampak pembebasan lahan,” paparnya.

Sementara Hendra menjelaskan, Bendungan Meninting dibangun untuk meningkatkan kebutuhan air baku Pulau Lombok. Memanfatkan saluran Jangkok Babak dan Babak-Renggang-Rutus mencakup 12 daerah aliran sungai interkoneksi yang melayani daerah irigasi seluas 70 ribu hektare.

Bendungan Meninting ini diproyeksikan menghasilkan air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik yang dihajatkan untuk mengairi irigasi seluas 1.559 hektare. Kemudian dimanfaatkan sebagai sumber air PLTA berkapasitas 0,8 megawatt. “Bendungan ini juga sebagai pengendali banjir,” terangnya. (why)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional