Mogok Kerja Perbesar Peningkatan Angka Kemiskinan di Mataram

H. Mahmuddin Tura. (Suara NTB/cem)

Mataram (Suara NTB) – Jumlah warga miskin di Kota Mataram diprediksi meningkat akibat pandemi virus corona (Covid-19) yang masih berlangsung sampai saat ini. Tidak sampai di situ, potensi mogok kerja yang digaungkan setelah peresmian UU Cipta Kerja Omnibus Law pada Senin, 5 Oktober 2020.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Kota Mataram, H. Mahmuddin Tura, menerangkan Kota Mataram merupakan satu-satunya wilayah di NTB yang 42 persen penduduk miskinnya bekerja di sektor formal. “Kalau ada mogok kerja (dari jumlah tersebut) bisa tambah angka kemiskinan,” ujarnya, Rabu, 7 Oktober 2020.

Iklan

Diterangkan, sebelumnya pihaknya juga memprediksi peningkatan angka kemiskinan di Kota Mataram akibat pandemi. Kendati demikian, sampai saat ini belum didapati angka pasti mengikuti periode penghitungan yang belum selesai. “Dengan pandemi ini jumlah warga miskin di Kota Mataram meningkat, namun angka rillnya belum ada datanya. Kita belum tahu angkanya,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkot Mataram melakukan refocusing anggaran mencapai Rp350 miliar serta disentralisasi untuk pengadaan Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang disinergikan dengan pemanfaatan UMKM lokal. Berdasarkan data penerima JPS Kota Mataram sendiri, sebanyak 70.000 Kepala Keluarga (KK) masuk dalam kategori miskin dan rentan miskin. Di mana untuk kategori miskin tercatat sebanyak 41.000 KK yang kemudian diberikan bantuan tersebut.

Selain itu, jumlah penduduk miskin di Kota Mataram berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Maret 2019 tercatat sebesar 43,19 ribu orang atau 8,92 persen. Pada Maret 2018, jumlah penduduk miskin 42,60 ribu orang atau 8,96 persen. Terlihat terjadi penurunan persentase penduduk miskin selama periode Maret 2018 – Maret 2019 yaitu 0,04 persen. Selama periode Maret 2018 – Maret 2019, garis kemiskinan mengalami kenaikan yaitu dari Rp457.950 per kapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp480.304 per kapita per bulan pada bulan yang sama di tahun 2019.

Indeks Kedalaman Kemiskinan di Kota Mataram juga tercatat mengalami kenaikan dari 1,17 pada Maret 2018 menjadi 1,55 pada Maret 2019. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin di Kota Mataram cenderung menjauh dari garis kemiskinan. Sedangkan, indeks keparahan kemiskinan juga mengalami kenaikan dari 0,22 menjadi 0,45 pada Bulan Maret 2018 dan Maret 2019. Artinya, kesenjangan penduduk miskin semakin meningkat. (bay)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional