Modal BPR Diharuskan Minimal Rp3 Miliar

Ketua Perbarindo Provinsi NTB, Yanuar Alfan (Suara NTB/Bul)

Mataram (Suara NTB) – Modal inti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maupun BPR Syariah pada 2019 mendatang harus terpenuhi sebesar Rp3 miliar minimal. Ketentuan ini diberlakukan untuk memperkuat daya tahan BPR terhadap tantangan.

“Kalau modal kuat, pertahanan juga kuat, ekspansinya pasti juga kuat,” kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTB, Farid Faletehan.

Iklan

Ketentuan terbaru ini mengatur bagaimana modal inti BPR di bawah 3 miliar, dapat dipenuhi menjadi Rp3 miliar. BPR dengan modal inti lebih dari Rp3 miliar, harus memperkuat modal intinya menjadi Rp6 miliar. Ketentuan ini berlaku hingga akhir tahun 2019 mendatang.

Bagi BPR yang modal intinya di bawah 3 miliar, serta tak memungkinkan memenuhi modal inti dalam waktu dekat, otoritas mengharapkan dilakukan merger (penyatuan).

“Paling lambat tahun 2022 mendatang semua BPR modal intinya harus Rp6 miliar. Kalau tidak, sanksinya penghentian salah satu kegiatan operasional bank,” jelas Farid.

Terpisah, Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Provinsi NTB, Yanuar Alfan tidak memungkiri, dari 29 BPR konvensional dan 3 BPR syariah yang beroperasi di NTB, beberapa di antaranya masih mengelola modal inti di bawah Rp3 miliar.

Terhadap kebijakan ini, Perbarindo telah seringkali melakukan koordinasi dengan OJK. Baru-baru ini, rombongan pengurus pusat Perbarindo memberikan bantuan kepada korban gempa. Dalam kesempatan ini, Perbarindo pusat juga mengingatkan kepada anggota di NTB untuk memperhatikan hal itu.

Awal Oktober ini, evaluasi akan dilakukan kepada seluruh BPR-BPRS. Evaluasi dan menekankan agar BPR tetap memenuhi ketentuan tersebut.

“Dalam grup-grup WA, kami juga sampaikan kepada teman-teman. Kita ingatkan, sekiranya berat memenuhi modal inti, bagi yang grup sebaiknya merger,” kata Yanuar.

Dengan situasi saat ini. Tidak mudah menurut Yanuar memenuhi ketentuan minimum modal BPR-BPRS. Apalagi dengan batas waktu yang sangat mepet, 2019. Melihat kinerja rata-rata anggota Perbarindo, per Juli 2018 dibanding Juli 2017, aset bank mengalami pertumbuhan yang negatif.

Demikian halnya dengan kredit (pembiayaan) yang naik hanya 0,22 persen. bagaimana mungkin pemegang saham mengharapkan dividen tinggi. Ditambah lagi kredit macet rata-rata mengalami kenaikan menjadi 15 persen.

“Tahun ini cukup berat. Jalan satu-satunya merger,” demikian Yanuar Alfan. (bul)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional