MNEK di Trawangan, Sebuah Kapal Laut Ditenggelamkan

Tanjung (Suara NTB) – Kegiatan Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2018 di Gili Trawangan, Minggu, 6 Mei 2018 berlangsung semarak. Para peserta (kru) angkatan laut dari negara Rusia, China, Francis, Korea, Malaysia, dan Srilangka dan Indonesia, turut meramaikan salah satu acara yang bertujuan untuk menjaga keamanan biota laut di seluruh perairan Indonesia khususnya Gili Trawangan.

Pada kesempatan itu, hadir antara lain Laksamana Muda Edi Sucipto, Bupati KLU, Dr. H. Najmul Akhyar, SH.MH., Kapolres Lombok Utara AKBP Afriadi Lesmana, S.IK., Anggota Komisi II DPRD KLU, HM. Arsan, Kepala Syahbandar Pelabuhan Bangsal, Madhi, seluruh pejabat OPD Pemda KLU, Kepala Desa Gili Indah, HM. Taufik, serta kru angkatan laut 7 negara.

Iklan

Sebelum acara dimulai pukul 11.30 wita di hotel Villa Ombak Gili Trawangan, para tamu diterima di depan Villa Ombak dengan suguhan tarian tradisional Lombok Utara. Serangkaian acara yang dilewati, penekanan tombol sirine kegiatan MNEK oleh Bupati KLU dan Laksamana Muda Sedi Sucipto, pelepasan baby turtle oleh undangan, kegiatan transportasi koral (penanaman karang) oleh penyelam AL Indonesia dan delegasinya beserta 151 divers perusahaan yang ada di Gili Trawangan. Tamu undangan juga menyaksikan video conference bersama Kepala Staf TNI Angkatan Laut.

Asisten Potensi Maritim (Aspotmar) Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muda TNI, Edi Sucipto, menjelaskan MNEK kali ini diikuti 36 Negara di dunia. Jumlah ini meningkat jika dibandingkan kegiatan pertama yang diselenggarakan di NTT yang diikuti 18 negara, maupun kegiatan kedua di Padang, Sumatera Barat, yang diikuti 32 negara. Meningkatnya jumlah peserta ini menunjukkan bahwa negara lain melihat potensi angkatan laut Indonesia.

Edi menyebut, ada tiga fungsi AL sebagai penopang keamanan poros maritim bangsa, di antaranya militer, kedaulatan hukum, dan diplomasi. MNEK di Lombok dianggapnya sebagai fungsi diplomasi menjalin hubungan dengan negara-negara di dunia. Terlebih visi yang diusung dalam acara yaitu “Cooperation to Respond Disaster and Humanitarian Issues” yang dilatari letak geofrafis Indonesia.

“Kerjasama untuk menanggapi bencana dan permasalahan kemanusiaan. Karena kami tidak bisa sendiri menanggulangi bencana, maka itu dibutuhkan kerjasama yang baik. Demikian juga dengan negara lain, misalnya ada bencana di sana kita siap membantu,” pungkasnya.

Edi Sucipto menambahkan dalam hal diplomasi, maka AL juga bekerjasama dengan AL negara lain untuk menjaga keamanan biota laut di seluruh Indonesia. “Laut merupakan kekayaan biota negara kita yang sangat perlu kami jaga dan harus dikelola secara baik untuk masa depan bangsa ini. Dalam hal ini, maka kami AL Indonesia dan delegasi akan melakukan perbaikan dan mengembangkan terumbu karang yang ada di Gili Trawangan. Sebagai bentuk pengembangan tersebut, maka kami menenggelamkan kapal untuk penanaman terumbu karang bawah laut di Gili Trawangan,” pungkasnya.

Sementara, Bupati Lombok Utara, Dr. H. Najmul Akhyar, SH. MH., melihat momen MNEK tahun 2018 di NTB memberi dampak luar biasa bagi Lombok Utara . Dinilai Pemda KLU dapat memperkenalkan potensi pariwisata dan kekayaan alam lain yang dimilikinya.
“Saya menyampaikan terima kasih atas ide penenggelaman kapal selam untuk terumbu karang di Gili Trawangan guna menjaga kelestraian terumbu karang, yang sangat relevan dengan kebijakan pembangunan pariwisata di Lombok Utara,” katanya.

Bupati menyampaikan, berdasarkan analisa segmentasi pasar wisatawan, bahwa wisatawan Timur Tengah dan Eropa lebih menyukai wisata alam dan rehat di resort. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di pegunungan, pantai dan spa. Untuk wisata belanja (shopping) dan kuliner, menurut dia, pasar Timur Tengah harus disediakan paket wisatanya.

“Hotel bintang 4 dan bintang 5 jadi pilihan utama (full service apartement). Selama liburan biasanya mereka membawa keluarga besar, dan dalam waktu cukup lama. Karakternya tidak mau repot, semua harus ditangani tour operator. Sementara wisatawan Asia Tenggara lebih senang jalan-jalan dan belanja. mereka juga suka wisata paket ziarah jejak Islam, wisata hari raya qurban, wisata spiritual ke lokasi peninggalan sejarah islam,” paparnya.

Beberapa analisa itu menjadi pertimbangan logis kenapa pengembangan pariwisata di Lombok Utara mengambil pendekatan wisata halal. Alasannya, selain kewajiban moral untuk meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan wisata konvensional, ekonomi industri berbasis syariah di Indonesia juga perlu didukung oleh Lombok Utara.

“Justru pasar wisata syariah itu terbesar ada di Indonesia, karena Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,” imbuhnya. (ari)