Minus, Pertumbuhan Ekonomi NTB Tanpa Pertambangan

I Gusti Lanang Putra (Suara NTB/nas)

Mataram (Suara NTB) – Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis pertumbuhan ekonomi NTB triwulan IV 2020 pada 5 Februari mendatang. Ekonomi NTB pada triwulan IV diharapkan kembali bangkit dan tidak terjun bebas seperti pada triwulan III yang hampir mencapai minus 5 persen.

‘’Mudah-mudahan (pertumbuhan ekonomi) kita tidak sampai terjun bebas. Kalau kita lihat dari tren yang tadi (setiap triwulan), kalau di posisi triwulan III, kita sudah berada di minus 5 persen, kalau tidak termasuk pertambangan. Tetapi kalau masih masuk pertambangan, kita masih pertumbuhan yang positif,’’ ujar Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS NTB, I Gusti Lanang Putra di Mataram, pekan kemarin.

Iklan

Lanang mengatakan, pihaknya belum berani memprediksi apakah pertumbuhan ekonomi triwulan IV masih mengalami kontraksi atau tidak. Memang, ada harapan ekonomi NTB triwulan IV mulai pulih. Tetapi ternyata pandemi Covid-19 di NTB masih menunjukkan tanda yang perlu penanganan.

Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi NTB sampai triwulan III 2020. Pertumbuhan ekonomi NTB dengan memasukkan sektor pertambangan masih positif. Namun, jika tanpa sektor pertambangan, pertumbuhan ekonomi NTB mengalami kontraksi atau minus.

Pada triwulan I 2020, pertumbuhan ekonomi NTB dengan memasukkan sektor pertambangan bijih logam sebesar 3,08 persen, triwulan II turun menjadi 0,78 persen dan triwulan III sebesar 0,13 persen.

Sedangkan tanpa sektor pertambangan bijoh logam, pertumbuhan ekonomi NTB triwulan I 2020 sebesar 0,13 persen. Kemudian minus 4,10 persen pada triwulan II dan kembali minus 4,98 persen di triwulan III 2020.

“Gambarannya, untuk kinerja PT. AMNT cukup bagus. Sehingga begitu kita mengeluarkan pertambangan dan bijih logam, ekonomi kita sangat terpengaruh dengan adanya pandemi,” katanya.

Lanang mengatakan pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap turunnya pertumbuhan ekonomi NTB. Ia memberikan contoh, pada triwulan I 2019, ekonomi NTB sebesar 2,27 persen, sedangkan triwulan I 2020 sebesar 0,13 persen.

“Kemudian triwulan II dan III, terjadi pertumbuhan ekonomi yang negatif sebagai dampak pandemi. Kondisi pertumbuhan ekonomi kita sampai triwulan III  terjadi kontraksi hampir sekitar 5 persen,” terangnya.

Lanang menyebut ada tiga lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi sampai triwulan III 2020. Yaitu, pertambangan dan penggalian tumbuh 34,66 persen, jasa keuangan dan asuransi tumbuh sebesar 13,12 persen dan informasi dan komunikasi tumbuh sebesar 12,53 persen.

Ia menjelaskan ekonomi NTB sampai triwulan III sebagian besar ditopang oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 61,88 persen. Kemudian pembentukan modal tetap bruto atau investasi sebesar 35,80 persen.

Selanjutnya, pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 15,46 persen, ekspor luar negeri 5,65 persen, impor luar negeri 3,14 persen, pengeluaran konsumsi LNPRT sebesar 1,62 persen, perubahan inventori 0,62 persen dan net ekspor antar daerah minus 17,89 persen.

Pemprov NTB telah melakukan revisi target pertumbuhan ekonomi dalam revisi RPJMD 2019 – 2023. Semula, Pemprov menargetkan pertumbuhan ekonomi NTB tanpa pertambangan bijih logam pada 2023 sebesar 6,5 – 7,0 persen.  Namun, akibat pandemi Covid-19, target direvisi menjadi 4,5 – 5,0 persen di tahun 2023.

Kepala Bappeda NTB, Dr. Ir. H. Amry Rakhman, M.Si., sebelumnya mengatakan bahwa pada 2020, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 2 – 2,5 persen. Target sebelumnya dalam RPJMD 2019-2023 sebesar 5 – 5,5 persen.

Pada 2021, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 3 – 3,5 persen, turun dari target sebelumnya dalam RPJMD sebesar 5,5 – 6 persen. Sedangkan pada 2022, target pertumbuhan ekonomi NTB direvisi menjadi 4 – 4,5 persen, dari target dalam RPJMD sebesar 6 – 6,5 persen.  Amry mengatakan meskipun NTB masih dilanda pandemi Covid-19,  ekonomi NTB diperkirakan tumbuh positif sebesar 2 – 2,5 persen di tahun 2020. (nas)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional