Minimalisir ‘’Illegal Logging’’, TNI Dikerahkan Masuk Hutan

Dandim 1615 Lotim, Agus Setiandar (Suara NTB/yon)

Selong (Suara NTB) – Kasus penebangan pohon secara liar atau illegal logging terhadap hutan di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini begitu masif. Padahal dampak dari illegal logging ini sangat mengancam keselamatan dan kelangsungan hidup manusia dengan rusaknya alam. Dampak yang dimaksudkan, yakni terjadinya berbagai macam bencana.

Demikian disampaikan, Dandim 1615 Lotim, Letkol. Inf. Agus Setiandar, SIP, dikonfirmasi, Kamis, 20 Desember 2018.

Iklan

Untuk itu, katanya, khusus untuk pengamanan hutan di Padak Guar Kecamatan Sambelia maupun di Bebidas Kecamatan Wanasaba, Kodim mengerahkan seluruh personel dari Posramil Wanasaba Koramil 1615-11/Aikmel. Bahkan apabila ada kejadian, akan diperkuat Koramil 1615-11/Aikmel dan bila butuh penambahan personel akan dikerahkan dari Makodim Lotim.

“Karena pengrusakannya sedemikian masif, kita antisipasi dampak yang lebih besar dan lebih lama daripada sekedar kebutuhan ekonomi yang masih bisa dan banyak solusinya,” kata Dandim.

Dampak yang lebih besar dan lebih lama dimaksud di antaranya berupa terjadinya, bencana kekeringan yang saat ini sudah terjadi dan akan bertambah parah jika dibiarkan, rusaknya ekosistem, ancaman banjir bandang. Termasuk perubahan iklim yang sekarang sudah dirasakan dengan semakin panjangnya musim kemarau dan semakin singkat musim hujan di Pulau Lombok.

Sementara di lokasi restorasi hutan lindung di Dusun Dasan Tinggi Desa Sembelia ditempatkan 5 petugas gabungan Kodim, Polres Lotim dan Polhut untuk mengantisipasi pelebaran perambahan hutan lindung dan pengerusakan terhadap upaya restorasi yang telah dilaksanakan.

Maka dari itu, Dandim Agus Setiandar menegaskan jika terdapat satuan tugas yang dibentuk oleh kehutanan, tetapi akan lebih efektif bila pelaksanaan patroli didasarkan atau dibantu dengan informasi yang akurat dari masyarakat, karena disadari bahwa kawasan hutan lindung ini baik yang dikelola oleh TNGR maupun KPH sangat luas, sedangkan jumlah Satgas sangat terbatas.

Sebelumnya, Kepala KPH Rinjani Timur, Ir.Lalu Saladin Jufri, MSi, menyebutkan kondisi hutan di Lotim saat ini yang masih utuh sekitar 60 persen dan akan terus diselamatkan semaksimal mungkin. Sementara 40 persennya sudah dirambah secara liar. Perambahan paling parah terjadi di Kecamatan Jerowaru, Sambelia dan Pringgabaya. Sedangkan untuk di wilayah Kecamatan Suela dan Sembalun masih tergolong aman karena masih adanya kelompok HKM yang intens melakukan pengawasan selain berkoordinasi dengan aparat kepolisian, TNI, TNGR dan camat hingga ke tingkat dusun.  (yon)