Meski Miskin, Sering Juara Sejak SD Sampai SMA

Nama Jumiatun Muslimin heboh dalam beberapa hari terakhir ini, setelah diamankan aparat gabungan TNI/Polri, belum lama ini. Perempuan yang juga dikenal dengan sebutan Umi Delima ini ditangkap karena diduga terlibat dalam jaringan teroris. Ia juga merupakan istri Santoso, pimpinan Mujahiddin Indonesia Timur (MIT). Siapa sebenarnya Jumiatun?

Diketahui, Jumiatun merupakan warga asli Desa Campa Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Gufran (43) yang berprofesi sebagai buruh tani dan Salmah (42).

Iklan

“Kalau disini (Campa) Jumiatun biasa dipanggil Ipa,” ucap Misran (35) paman Jumiatun saat ditemui Suara NTB, di Desa Campa, Rabu 27 Juli 2016.

Jumiatun menghabiskan masa kecil di Desa Campa. Perempuan berusia 22 tahun ini akrab dipanggil Ipa, menamatkan pendidikan SD di Inpres Campa, SMP 3 Madapangga kemudian melanjutkan pendidikan SMA Muhamadiyah Sila Kecamatan Bolo, dan tinggal di Desa Kananga Kecamatan Bolo hingga tamat SMA.

“Ipa anak pintar, sering raih juara mulai dari SD hingga SMA,” katanya. Keseharian Ipa selama SD hingga SMA, seperti perempuan pada umumnya. Ia dikenal santun, ramah, lembut. Selain itu, Ipa anak yang rajin dan suka membantu kedua orangtuanya yang berstatus ekonomi lemah (miskin), bekerja sebagai buruh tani di sawah milik warga setempat.

Selain itu, bapak Jumiatun, Gufran mengalami keterbelakangan mental atau gangguan bicara (gagu). Hanya saja Ia paham apa yang disampaikan orang, apa yang didengar dan dilihatnya. Namun kini keberadaannya tidak diketahui. Pihak keluarga pun terus mencarinya.

“Sudah 10 hari tidak ada di kampung. Kami tidak tahu entah dimana sekarang. Kami terus mencarinya,” tutur Misran.

Ipa sendiri memiliki seorang kakak laki-laki bernama Muslimin, yang diketahui saat ini bekerja sebagai buruh pabrik swasta di Jakarta. Ia juga memiliki adik perempuan bernama Hasnah, yang saat ini berada di Makassar untuk melanjutkan kuliah.

Sebelum menjadi istri Santoso, Jumiatun tinggal di rumah panggung reyot bertiang enam, di Rt 11 Rw 2 Dusun Dua Desa Campa Kecamatan Madapangga Kabupaten Bima. Hanya saja rumah tersebut direhab pada tahun 2013 silam melalui Proyek Penanggulangan Kemiskinan dan Perkotaan (P2KP).

Keluarga mengetahui, Jumiatun selama ini telah hilang entah kemana. Mengingat selama 2012 tidak pernah memberi tanpa kabar. Keluargapun pasrah dan mengikhlaskan kepergiannya. Akan tetapi, mereka bersyukur, setelah Jumiatun diketahui masih hidup dan kondisinya baik-baik saja meski telah diamankan aparat kepolisian karena diduga terlibat jaringan Poso.

“Dia (Jumiatun) tiba-tiba menghilang. Kamipun baru tahu ternyata Ipa sudah diamankan Polisi karena selama 2012 hilang kontak dengannya,” ujar Misran.

Dia berharap Ipa dikembalikan kepada pihak keluarga. Sebab ia tidak bersalah dan tidak mengetahui apa-apa dalam persoalan ini.

Kepala Desa Campa, H. Mansyur membenarkan bahwa Jumiatun adalah salahseorang warganya. Ia mengetahui dan mengenalinyadari pemberitaan televisi. Bahwa Ia merupakan salahsatu masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). “Saya mengenalinya saat menyaksikan berita di TV, sekitar satu minggu yang lalu,” pungkasnya. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here