Mereka Tidak Takut Bermukim di Sekitar Pekuburan

Ampenan (Suara NTB) – Melongok ke pinggiran Ampenan, tepatnya di Pondok Prasi, kita akan menemukan deretan makam warga keturunan Tionghoa yang posisinya berdekatan dengan pantai. Puluhan nisan bertuliskan aksara Mandarin berada di sini. Penanggalan tahunnya pun sudah cukup tua, rata-rata sudah lebih 50 tahun. Tetapi ada yang unik di deretan makam-makam ini. Deretan rumah serta tempat usaha pemindangan ikan menghiasi makam ini.

Karena sudah biasa, mereka tidak merasa takut berdampingan tempat tinggal dengan makam-makam tersebut. Apalagi kambing-kambing milik warga bebas berkeliaran mencari makan di antara makam tersebut. “Makam-makam ini sudah lama tidak ada yang urus,” kata H. Abdussalam, salah satu warga Pondok Prasi. Ia menuturkan, makam ini sudah ada sejak dulu di mana pemukiman belum sebanyak yang sekarang.

Iklan

“Dulu di sini sepi, hanya ada semak-belukar saja. Sampai orang tidak berani lewat kalau sudah sore,” ujarnya. Salam menuturkan, sebelum banyak pemukiman di dekat makam itu, hanya terdapat 1-2 rumah yang sudah lama berdiri di sana. “Kalau ramainya mulai sejak awal 2000-an dan kebanyakan merupakan pendatang,” tukasnya.

Puluhan makam yang ada di sini, kata Salam, banyak yang tidak pernah dicari kembali oleh keluarganya. “Tetapi ada juga yang sudah memindahkan jasad yang ada di dalamnya untuk dipindahkan ke pemakaman Bintaro,” ujarnya seraya menunjukkan makam yang kosong. Tetapi, walaupun begitu keadaan makam tertata rapi karena adanya pagar pembatas yang memisahkan makam dengan jalan serta pantai. “Biar ditahu batasnya sampai mana, agar keluarga yang dimakamkan disini tahu,” tambahnya.

Jika terjadi banjir rob, makam warga keturunan ini juga ikut terkena banjir. “Kenanya sampai pagar yang berbatasan dengan jalan,” kata Salam. Murniati, salah satu warga yang rumahnya berdekatan dengan makam, dirinya sudah puluhan tahun tinggal di situ.

“Saya termasuk yang pertama tinggal di sini, saat masih semak belukar dulunya,” ujarnya. Dirinya menyewa tanah di sana yang setiap tahunnya selalu dikenai pajak.

“Tapi katanya rumah saya bakalan kena gusur untuk pembangunan pantai itu, tapi gak jadi-jadi,” kata Murniati. Saat ditanyakan apakah dirinya tidak takut tinggal berdekatan dengan kuburan, ia hanya tertawa saja. “Sudah biasa soalnya jadi tidak ada takut lagi. Tidak ada apa-apa juga,” tukasnya. (uul)