Merajut Rasa Aman dengan Cita-cita Kesejahteraan Rakyat

Kesejahteraan dan keamanan saling menopang pembangunan. Tingginya kemiskinan dan pengangguran berdampak pada gangguan keamanan. Suatu daerah akan maju bila dapat mengoptimalkan potensinya.

Demikian pandangan Kapolda NTB, Brigjen Pol Drs Firli MSi. Menerima kunjungan Suara NTB di ruang kerjanya, Senin, 8 Mei 2017, mantan ajudan Wapres RI ke-11, Prof. Dr. Boediono itu mengungkapkan gagasannya soal pembangunan NTB.

Iklan

Firli yang lulus dari Akademi Kepolisian tahun 1990 itu berpendapat, menyejahterakan setiap lapisan masyarakat adalah salah satu kunci menciptakan keamanan. Rasa aman itu pula yang memuluskan upaya memakmurkan daerah.

“Security dan prosperity sangat dekat. Seperti dua sisi mata uang. Seketika suatu daerah angka kemiskinannya tinggi, angka pengangguran tinggi, saya bisa jamin angka kriminalitas pasti tinggi,” ungkapnya.

Relasi sosial ekonomi itu menurutnya berdasar pada upaya manusia memenuhi kebutuhan hidup. Tertutupnya akses ekonomi bisa membuat seseorang gelap mata. Dalam kehidupannya hal itu mendorong seseorang terjerambab dalam jurang kriminalitas.

“Pada dasarnya kebutuhan itu tetap bahkan meningkat. Sementara lapangan pekerjaan tidak terjamin, muncul niat mencari jalan pintas, khususnya kejahatan konvensional seperti pencurian,” kata mantan Wakapolda Jateng itu.

Perwira tinggi kelahiran Palembang, Sumatra Selatan itu mengutarakan, NTB harus memahami potensi kemudian mengoptimalkannya. Ia yakin setiap pemerintah daerah tujuan utamanya menyejahterakan masyarakatnya.

“Kalau ingin menyejahteraan orang potensi daerah harus dikuasai. Potensi NTB itu ada pertanian, pariwisata, kelautan, dan pertambangan. Kuasai itu,” kata Firli.

Masing-masing potensi itu saling menopang untuk dapat dioptimalkan. Kemajuan pariwisata NTB sekarang ini harus dipandang sebagai salah satu pintu gerbang masyarakat untuk keluar dari jurang kemiskinan.

“Jangan wisatawan meningkat, suplai logistik atau tenaga kerjanya bukan dari NTB. tentu kita tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa,” sebutnya.

Menyejahterakan rakyat dalam konsep pengentasan kemiskinan juga diimplementasikan secara menyeluruh oleh berbagai elemen. Contoh paling dekat pembangunan sumber daya manusia.

Lewat pendidikan, kemampuan dan keterampilan masyarakat NTB diasah sesuai potensi tadi. “Dari sekian banyak universitas ada tidak fakultas atau politeknik yang membuka jurusan tentang potensi daerah, seperti pariwisata dengan segala keterampilan yang dibutuhkannya,” kata Kapolda.

“Belum ada. Padahal sudah beberapa tahun kita menyadari potensi kita. Unntuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan, kita harus menyiapkan generasi kita,” imbuhnya.

Kepemimpinan Transformatif

Motor utama penggerak kesejahteraan diwakili pemerintah daerah, sementara kepolisian berada di garis depan menjaga keamanan untuk iklim ekonomi kondusif. Firli menyebut tiga pilar utama mewujudkan daerah yang aman, adil, dan makmur.

“Pertama, prosperity atau kesejahteraan, kemakmuran. Program pembangunan ekonomi yang memberikan kesempatan merata bagi seluruh anak bangsa,” sebutnya soal kesempatan untuk makmur adalah milik setiap warga.

Capaian kesejahteraan itu, lanjut dia, dapat diukur dari angka pengangguran yang turun, lapangan kerja yang meluas, pertumbuhan ekonomi meningkat, kemiskinan menurun, indeks pembangunan manusia membaik, kematian ibu melahirkan menurun, dan kematian bayi berkurang.

“Itu indikator kesejahteraan rakyat. Pemerintah daerah bekerja keras untuk mewujudkan itu,” tegasnya. Kedua, soal keamanan.

“Ini tanggung jawab kepolisian. Indikator juga ada,” ujarnya sambil menyebut, semakin nihilnya konflik sosial, kondusifnya iklim usaha, meningkatnya rasa aman, dan berkurangnya daerah rawan kejahatan.

Faktor terakhir, kata Firli, yakni pertahanan daerah menjaga keutuhan dan kedaulatan negara. “Ini dari TNI. Menjaga seluruh rakyat Indonesia terlindungi dari ancaman negara lain,” jelasnya.

Tiga faktor itu dapat menjadi pegangan visi pembangunan NTB yang mencari pemimpin baru pada 2018 mendatang. “Ciptakan NTB yang nyaman, mau nyalon jangan hanya mikir kekuasaan, repot kita. Yang kasihan rakyat,” pungkasnya dengan senyum merekah. (why)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here