Menurun, Penerimaan Pajak dari Sektor Tambang

Mataram (Suara NTB) – Penerimaan pajak dari sektor tambang mengalami penurunan. Terutama untuk tambang skala besar, PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat.

Penurunan penerimaan pajak, terutama dari pajak karyawannya, setelah adanya efisiensi karyawan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan yang mengganti operasional PT. Newmont Nusa Tenggara itu.

Iklan

Hal ini diungkapkan Kepala Kanwil Pajak Nusa Tenggara, Suparno di Mataram. Meski begitu, ia menyebut angka pasti besaran penurunan penerimaan pajak karyawannya.

Diketahui, pasca Newmont memindahtangankan seluruh operasional dan aset tambang yang ada di Batu Hijau ke PT. AMNT sebagai perusahaan nasional. Efisiensi besar-besaran dilakukan. Apalagi, saat ini AMNT masih dalam masa transisi.

“Pabrik AMNT, ya ke pusat bayar pajaknya. Yang terdaftar di kita cuma cabang, yang kita dapat hanya pajak atas karyawan,” jelas Suparno.

Penurunan penerimaan pajak atas karyawan perusahaan tambang ini, dipengaruhi karena efisiensi karyawan. Selain itu, dari biaya rutin yang dibayar setiap bulannya, PTKP atau Penghasilan Tidak Kena Pajak adalah bagi mereka yang biasanya memiliki penghasilan tidak terlalu tinggi mengalami kenaikan. Sehingga, penghasilan kena pajaknya menurun.

Keberadaan tambang raksasa ini, justru berbeda keadaannya dengan penerimaan pajak dari di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Pujut, Lombok Tengah. Suparno menyebut, keberadaan investasi di KEK ini terus dipantau.

Jumlah Wajib Pajak (WP)nya mengalami peningkatan. Dari sebelumnya hanya 830 WP, naik menjadi 900 WP.

Dengan tumbuhnya investasi di KEK Mandalika, jumlah usaha juga mengalami pertumbuhan. Sejalan dengan itu, pertumbuhan penerimaan pajak di sekitar KEK Mandalika juga telah tumbuh mencapai 32 persen. Pada periode Januari-April 2018, dibanding periode yang sama tahun 2017 lalu

“Karena di sana banyak beredar uang dan transaksi bergerak. Dari pajak orang pribadi dan pajak badan,” demikian Suparno.

Sumber penerimaan pajak dilihat dari dua hal. Satu dari belanja pemerintah, dan satu lainnya dari belanja swasta.

Untuk wilayah Nusa Tenggara (NTB, NTT). Tahun 2017 lalu pagu-nya sebesar Rp 59 triliun. Tahun 2018 ini naik menjadi Rp 62 triliun. “Sejauh ini, pertumbuhanya bagus. Belanja pemerintah sudah 15 persen penerimaannya,” demikian Suparno. (bul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here