Menjejaki “Negeri 1001 Larangan”

Singapura (suarantb.com) – Singapura. Mendengar nama tersebut, banyak orang berpikir tentang aneka larangan di negeri tersebut. Negara yang dapat diperhitungkan menjadi barometer ekonomi global tersebut, menjadi tempat yang menarik dikunjung. Selain soal banyaknya larangan, karakter masyarakat di sana, patut untuk diketahui.

Mengenal lebih dekat Singapura, suarantb.com mencoba menelusuri negara tersebut. Melalui pelabuhan penyeberangan Batam – Singapura, dengan waktu tempuh kurang dari dua jam, suarantb.com tiba di Singapura. Itu setelah melalui ketatnya imigrasi di Singapura.

Iklan

Masjid Al-Falah di Singapura.

Masjid Al-Falah di Singapura.

Di imigrasi, semua barang akan diperiksa. Wisatawan tidak diperbolehkan membawa rokok yang masih bersegel dan permen karet. Itu karena ketatnya aturan yang diberlakukan di negeri tersebut. Sehingga tidak jarang, Singapura dijuluki “Negeri 1001 Larangan.”

Tiba di sana, Warga Negara Indonesia, tidak terlalu khawatir soal bahasa. Selain menggunakan bahasa Inggris, Singapura juga menggunakan bahasa Melayu. Dulunya bahasa Melayu merupakan bahasa resmi di sana. Namun, seiring kemajuan Singapura secara global, kini bahasa resminya adalah bahasa Inggris, selain Melayu, Mandarin, dan Tamil.

Salah satu larangan memancing di Singapura.

Salah satu larangan memancing di Singapura.

Saat melintasi kota di sana, kita akan melihat secara langsung salah satu pelabuhan tersibuk di dunia. Pelabuhan Singapura (Port of Singapore) sempat menyandang status pelabuhan terbesar di dunia, sebelum disingkirkan oleh Pelabuhan Shanghai, China.

Untuk tahun 2012 sebanyak 30 juta truk besar melintas di pelabuhan tersebut. Pelabuhan yang menjadi jalur impor maupun ekspor ini menjadi penentu utama perkembangan ekonomi Singapura. Sehingga Singapura merupakan salah satu dari empat “macan ekonomi” Asia Timur.

Pelabuhan Singapura (Port of Singapore) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia.

Pelabuhan Singapura (Port of Singapore) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia.

Kishore Mahbubani dalam bukunya berjudul “Asia Hamisfer Baru Dunia” mengatakan dalam 30 tahun pertama kemerdekaannya dari Kuala Lumpur (1965-1995), Singapura mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat, dengan angka pertumbuhan rata-rata 8,6 persen. Produk nasional bruto Singapura naik dari 1 miliar dolar AS menjadi 86 miliar dolar AS dalam periode yang sama.

  Kunjungan Delegasi Raja Salman ke Lombok Belum Pasti

Di bagian berikutnya Kishore mengatakan seorang tetua pemimpin revolusi Tiongkok, Deng Xiaoping pernah berseru pada rakyat China untuk belajar dari Singapura. Alasannya karena Singapura memiliki tatanan sosial yang bagus dan dikelola dengan baik.

 Merlion, patung singa laut di Singapura.

Merlion, patung singa laut di Singapura.

Itu adalah sedikit ulasan terkait ekonomi Singapura. Soal tertibnya berlalulintas, jangan kaget, karena sepanjang berada di Singapura, anda tidak akan pernah mendengar bunyi klakson kendaraan saat melintas. Mengapa?

Karena di negara tersebut, ketertiban berkendara menjadi prioritas utama. Meskipun banyak lampu lalulintas, namun masyarakat di sana dapat dengan tertib dan sabar berkendara. Seorang pemandu wisata mengatakan, suatu ketika di kawasan pusat perbelanjaan pernah sebuah mobil membunyikan klakson kendaraannya. Seketika itu juga masyarakat berhamburan keluar, karena mengira ada kebakaran. Hal itu disebabkan masyarakat telah terbiasa tidak membunyikan klakson. Menurut masyarakat di sana, kendaraan yang membunyikan klakson menandakan pengemudinya sedang marah.

 Banyak wisatawan berselfie berlatar Merlion.

Banyak wisatawan berselfie berlatar Merlion.

Soal larangan, sangat ketat diberlakukan di sana. Banyak larangan yang dinilai sepele, namun memiliki hukuman denda yang tinggi. Merokok di tempat umum dikenai denda SGD 1000, atau sekitar Rp 9.341.634. Memancing di tempat wisata dikenai SGD 3000, dan larangan lain seperti berdiri di sisi kanan eskalator, menyeberang sembarangan, mengunduh lagu ilegal, meludah di tempat umum, selfie sembarangan, makan permen karet, main layang-layang, dan lainnya.

Aturan tersebut diberlakukan agar masyarakat menjadi tertib. Uniknya, banyaknya sanksi yang diberlakukan, tidak sebanding dengan kehadiran polisi di tengah kota. Sehari berada di sana, kami tidak pernah menemukan polisi. Itu karena keamanan dipantau melalui CCTV. Sehingga puluhan ribu CCTV terpasang di negara tersebut. Larangan-larangan yang beragam, menjadi pertanyaan, siapa sih regulator yang menciptakan aturan seketat itu? Tidak heran, ketika Indonesia mengirim asap dari hutan di Riau yang terbakar 2015 lalu, membuat Singapura meradang.

  Taman Budaya Buka Ruang, Teater NTB Diharapkan Kembali Bangkit

Pelabuhan Singapura (Port of Singapore) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia.

Pelabuhan Singapura (Port of Singapore) menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia.

Istirahat perjalanan, kami menunaikan sholat di salah satu masjid di Singapura. Masjid Al-Falah. Di sana beragam umat muslim lintas kebangsaan berkumpul dan berdiskusi. Dari Malaysia, Indonesia, Bangladesh, China, dan Singapura sendiri. Persatuan umat muslim rantauan terpupuk di sana. Masjid bergaya arsitektur modern ini, membuat semua betah berada di sana. Selain menyediakan wifi gratis, masjid tersebut juga menyediakan minuman dan kopi untuk yang berkunjung ke sana.

Sholat berjamaah bersama umat muslim lintas negara, membuat hati menjadi syahdu. Di sini menjadi bukti kuatnya persaudaraan. Berbagi ilmu agama dengan penuh toleransi menjadi salah satu bentuk sujud pada Sang Kuasa.

Kami juga mengunjungi Merlion, yaitu patung berbentuk singa laut yang menyemburkan air dari mulutnya. Rancangan Fraser Brunner ini menjadi simbol merek dagang Singapura hingga saat ini. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Singapura, tentu tidak akan melewati momen berfoto di sana. Patung yang mengisahkan legenda Singapura, Sang Nila Utama, yang melihat seekor singa saat berburu di sebuah pulau, kini menjadi simbol Singapura. Puluhan wisatawan berfoto ria dengan latar Merlion. Meskipun beberapa penelitian mengatakan tidak ada singa di Singapura.

Hampir sehari berada di sana, suarantb.com, kembali pulang dengan membawa oleh-oleh ukiran tinta artikel ini. Berharap suatu waktu dapat berkunjung menikmati keindahan Singapura lebih lama lagi. (szr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here