Menjadikan Sekolah Sebagai Tempat Menyenangkan Bagi Pelajar

Mataram (Suara NTB) – Membangun iklim yang sehat demi menjadikan sebuah sekolah sebagai tempat menyenangkan bagi pelajar merupakan keharusan. Hal ini menjadi inovasi baru dalam budaya pembelajaran di lingkungan pendidikan.

Proses pembelajaran yang terbangun di sekolah selama ini masih belum sesuai harapan. Setiap lembaga pendidikan dituntut berinovasi agar menghasilkan produk yang lebih baik. Tiap – tiap sekolah bertanggungjawab untuk mencetak generasi yang cerdas dan unggul, berkarakter baik serta memegang teguh nilai – nilai kebudayaan.

Iklan

Sebuah lembaga donor asal Australia berkenan datang ke NTB untuk membantu sekolah – sekolah agar berinovasi. Inovasi yang diharapkan terletak pada sistem dan pola proses pembelajaran yang dilakukan sehari – hari. Lembaga INOVASI dari Departement Foreign Australian Trade itu menggelontorkan dana senilai 12 juta Dolar Australia per tahun. Program itu akan berlangsung sejak 2016 – 2019 mendatang.

“Inovasi yang ingin dilakukan tidak berbentuk pembangunan infrastruktur gedung dan lainnya, tetapi yang lebih kita harapkan ialah timbulnya inovasi pada pola dari strategi proses pembelajaran yang berlangsung,” jelas Prof. Nizam, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam konfrensi pers yang terselenggara di Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Senin, 19 September 2016.

Ia berpendapat bahwa setiap sekolah di daerah ini harus berinovasi guna menciptakan kualitas dan mutu pendidikan yang baik. Ia mengatakan, di NTB telah ditetapkan sekolah yang tersebar di enam Kabupaten akan dibantunya untuk menciptakan inovasi. Seluruh sekolah kecuali di Kota Mataram, Lombok Timur dan Kota Bima akan dibantunya menciptakan terobosan sehingga mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas.

“Jenjang sekolahnya hanya SD dan SMP, kalau SMA tidak. Kami memilih enam Kabupaten sebagai tempat pelaksanaan program inovasi ini karena melihat antusias penyelenggara pendidikan di daerah ini cukup tinggi,” kata Jessica Ludwig Mairof, Warga Australia yang memimpin pelaksanaan program tersebut di NTB.

Awalnya, lembaga donor dari negeri kangguru itu hanya akan memilih dua kabupaten sebagai lokasi pelaksanaan programnya. Namun, karena antusiasme pemerintah dan penyelenggara lembaga pendidikan di daerah ini cukup tinggi, pihaknya kemudian memperluas cakupan lokasi realisasi program.

Adapun keenam kabupaten yakni Kabupaten Lombok Utara, Lombok Tengah dan seluruh Kabupaten di Pulau Sumbawa, dipilih menjadi lokasi pelaksanaan program inovasi karena wilayah tersebut baru selesai melaksanakan pilkada. Kabupaten Lombok Timur tidak terpilih menjadi wilayah pelaksanaan program inovasi tersebut. Padahal, persoalan yang menjangkit sektor pendidikan di kabupaten yang satu ini jauh lebih kritis ketimbang wilayah – wilayah lain.

“Enam kabupaten ini dipilih karena baru selesai pilkada. Jadi tujuannya, agar program ini dapat disesuaikan dengan RPJMD masing – masing kabupaten. Kalau kabupaten yang belum melaksanakan pilkada, khawatirnya program ini tidak menjadi program lanjutan pada periode kepemimpinan berikutnya,” tanggap H. Ilham, Sekretaris Bappeda NTB ketika ditanya mengenai dasar penentuan lokasi implementasi program bantuan dari negara tetangga itu. (met)