Meningkat, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Selama Pandemi

Hj. Nurhidayati (Suara NTB/rus), Ririn Hayudiani  (Suara NTB/rus)

Selong (Suara NTB) – Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) sudah berlangsung 10 bulan. Situasi pandemi ini menimbulkan dampak yang luar biasa di segala lini. Perempuan dan anak paling merasakan dampaknya. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini meningkat hingga 75 persen.

Demikian disampaikan Wakil Direktur Program Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra, Ririn Hayudiani menjawab Suara NTB di kantornya, Senin, 7 Desember 2020.

Iklan

Mengacu pada data Komnas Perempuan dan sejumlah NGO mencatat tren peningkatan kasus secara nasional cukup signifikan. Ririn menegaskan, penanganan isu gender ini tidak bisa diabaikan dan dilakukan sambil lalu. Penanganannya harus dituntaskan.

“Saya pikir, Satgas covid 19 juga harus melihat itu. Kalau perkawinan anak terus terjadi, maka akan menambah kasus kematian ibu, gizi buruk, anak Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), mungkin juga stunting dan kemiskinan,” paparnya.

Mengacu pada prinsip tujuan pembangunan berkelanjutan maka tidak boleh ada satu pun elemen bangsa yang tertinggal. Diakui, sudah cukup banyak upaya memang sudah dilakukan pemerintah. Akan tetapi, sering sekali isu gender ini lupa ditangani. LPSDM berharap pemerintah tidak melalaikan isu-isu gender.

Kepala UPTD Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Hj. Nurhidayati, S.ST., M.PH., saat dikonfirmasi membernarkan terjadinya tren peningkatan kasus kekerasan perempuan selama masa pandemi. Khususnya Lotim tergambar tren peningkatan kasus.

Data UPDTD PPA DP3AKB, kasus kekerasan anak sampai Oktober 2020 tercatat 91 kasus. Sedangkan kekerasan perempuan 76 kasus. Sebagai perbandingan data saat puncak pandemi Covid-19 bulan Juni 2020 dibandingkan data bulan Juni 2019 terjadi kenaikan.

Kasus dominan pada anak ini adalah pernikahan dini selama 2020 tercatat 25 kasus, menyusul kasus pemerkosaan terhadap anak 23 kasus. Pada perempuan paling banyak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebanyak 35 kasus, disusul pemukulan 18 kasus, pemerkosaan 14 kasus.

Istri Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim yang secara ex officio menjadi Ketua Dharma Wanita Lotim ini menerangkan,  penyebab peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini karena dampak dari perubahan perilaku masyarakat selama pandemi. Kondisi perekonomian keluarga menjadi terganggu. Pencaharian menurun memicu stres pada keluarga. (rus)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional