Menhir di Saneo Terancam Perambahan

Menhir peninggalan sejarah di kawasan hutan Panca Desa Saneo, terancam perambahan hutan, Minggu, 2 Agustus 2020.(Suara NTB/Disbudpar)

Dompu (Suara NTB) – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Dompu, sudah mengusulkan ke Balai Arkeologi (Balar) Denpasar untuk melakukan penelitian mendalam terkait batu tunggal atau menhir peninggalan sejarah di kawasan hutan Panca Desa Saneo. Pasalnya, dari sejumlah temuan pendukung kuat dugaan lokasi itu pernah menjadi area pemukiman warga serta pusat peribadatan. Demikian diungkap Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Dompu, Wahyo Ragil ketika dihubungi Suara NTB, Minggu, 2 Agustus 2020.

Ia mengatakan, atas informasi warga soal terancamnya keberadaan benda peninggalan sejarah oleh aktifitas perambahan hutan untuk penanaman jagung, pihaknya bersama elemen terkait langsung terjun meninjau lokasi. Selain mendapati menhir berdiri tegak, terdapat pemakaman serta susunan bebatuan di zaman megalitikum. “Temuan itu sudah kita dokumentasikan dan kirim ke Balar untuk dilakukan penelitian,” terangnya.

Iklan

Kawasan hutan Panca di bawah pengelolaan KPH Toffo Pajo Soromandi (Topaso), menurut dia, tidak saja menyimpan beberapa benda sejarah tersebut. Tetapi masih banyak kekayaan budaya lain yang perlu diteliti dan dijaga keberlangsungannya.

Menyangkut menhir yang kini terancam perambahan, Disbudpar sudah bersurat ke sejumlah pihak seperti DLHK, BKPH, DPRD dan unsur terkait untuk segera menentukan sikap. Karena ketika dibiarkan berlanjut dipastikan peninggalan-peninggalan sejarah ini akan hancur.

“Kalau kita biarkan ini berlanjut selain merusak ekosistem lingkungan, peninggalan sejarah juga pasti akan hilang,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi sebelum masuknya temuan tersebut dalam agenda penelitian Balai Arkeologi, tambah Wahyono Ragil, Disbudpar berencana memasang papan informasi yang berisi larangan perambahan pada sekitar lokasi itu, termasuk titik-titik lain yang diketahui banyak menyimpan benda bernilai sejarah.

Disinggung kelanjutan ekskavasi situs Dorobata di Kelurahan Kandai I sendiri, ia memastikan, tahun ini tidak ada penggalian atau penelitian secara langsung di lapangan karena terkendala Covid-19. “Untuk Situs Dorobata tahun ini tidak ada kegiatan penelitian secara langsung, kemungkinan dilanjutkan tahun depan,” pungkasnya. (jun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here