Menguatkan Mental, Mengelola SDA Secara Bijaksana

Mataram (Suara NTB) – Pembangunan infrastruktur di NTB menunjukkan tren yang baik. Tren yang baik ini sebaiknya didukung dengan pemanfaatan, melalui pembinaan masyarakat. Selain itu, dalam menunjang pembangunan sosial, sangat diperlukan perhatian pada perhitungan futuristis. Terutama di dalam perencanaan pembangunan.

‘’Saya kira infrastruktur yang sudah berhasil kita genjot ini harus benar-benar ke depan dimanfaatkan melalui pembinaan mentalitas masyarakat kita,” ujar TGH. Hasanain Juaini dalam diskusi terbatas dengan tema ‘’Refleksi 58 Tahun NTB’’ yang digelar Pemprov NTB bekerjasama dengan Harian Suara NTB, Kamis, 15 Desember 2016.

Iklan

Menurut Hasanain, bangunan sosial saat ini, tidak terlepas dari tren-tren global. Menurutnya, hal ini sangat memengaruhi perubahan pola kehidupan. ‘’Sementara kemampuan kita untuk mengantisipasi perubahan pola itu, biasa-biasa saja. Harus luar biasa , harus out of the box,’’ katanya.

Ia menekankan, prasyarat pembangunan sosial di abad 21, harus mengikutsertakan perhitungan-perhitungan futuristis.Apa saja yang akan terjadi di masa yang akan datang seharusnya sudah masuk dalam perencanaan. Ia mengambil contoh sejumlah proyek di NTB, seperti pabrik gula di Dompu, Global Hub, dan KEK Mandalika.

‘’Tapi kalau unsur futuristisnya tidak betul-betul masuk di dalam tahap perencanaan ini. Saya khawatir, kita akhirnya akan menonton kemakmuran ini,’’ ujarnya.
Keberhasilan saat ini di NTB, terutama modal infrastruktur diapresiasi olehnya. Bahkan modal yang sudah didapatkan saat ini dianggapnya sudah berlebih. Namun, ia memandang, banyak modal infrastruktur yang dibangun dengan susah payah itu, begitu selesai, belum berguna seperti yang diinginkan.

Hal itulah yang menurutnya, ke depan perlu digenjot agar dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan itu harus juga diikuti dengan kesanggupan masyarkaat untuk memanfaatkannya. ‘’Ke depan yang harus kita genjot juga agar termanfaatkan semua prestasi yang sudah itu, self help kita. Kesanggupan masyarakat untuk menolong dirinya itu harus,’’ kata Hasanain.

  Agar Sampah Tak Memicu Konflik

Pemerintah harus mengarah pada pemberdayaan tersebut. Ia mengemukakan, masyarakat masih tidak terbiasa membela dirinya. Padahal memiliki modal infrastruktur itu. Kemampuan masyarakat untuk membangun infrastruktur sendiri ini sudah dibuktikan secara nyata lewat pembangunan ribuan masjid yang ada di NTB. Secara infrastruktur sudah bagus. Hanya saja, masjid yang sudah terbangun belum dimaksimalkan fungsinya. Seandainya masjid dapat diperluas manfaatnya, maka masjid dapat menjadi universitas terbuka yang tidak pernah libur.

“Dosennya tetap ada, mahasiswa tetap ada, prosesnya berjalan. Jadi ini contoh infrastruktur yang kita sudah sukses bangun tapi belum kita manfaatkan dengan maksimal,” ujarnya.
Ke depan, yang harus diperhatikan juga berkaitan dengan kepastian-kepastian di berbagai sektor. Seperti kepastian pada lingkungan, diperlukan bentuk jaminannya. Tidak bisa juga diabaikan kepentingan pada sektor energi. Ia menyoroti pemanfaatan listrik yang belum maksimal untuk memproduksi. Selain juga pada sektor pertanian yang mulai ditinggalkan, karena dianggap tidak kompetitif.

Tak kalah pentingnya, masyarakat harus memiliki rancangan sendiri untuk mendukung upaya self help atau menolong diri sendiri itu. Menurutnya, secara sederhana, seperti peningkatan usia perkawinan.

‘’Ini program orang, kalau program kita sebenarnya, bagaimana menyiapkan suami istri ini menjadi calon ibu yang baik, menjadi calon bapak yang baik, dan sebagainya. Kita selalu bisa diintervensi program-program kita. Harusnya kita tetap komit, inilah yang kita perlukan. Karena kita punya program sendiri, punya masalah sendiri,’’ jelasnya.
Selain itu, masalah mental masyarakat juga harus dibenahi. Terutama berkaitan dengan tanggung jawab masyarakat. Terkadang, masalah mereka, mereka limpahkan kepada orang lain. “Ini masalah mental,” katanya.

Bijak Mengelola SDA

Provinsi NTB memiliki banyak Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat NTB pada umumnya. Namun tentu saja pemanfaatan itu harus dikelola secara bijak. Model pengelolaannya harus menghitung juga dampak yang sekiranya dapat ditimbulkan. Hal ini harus menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya pemerintah namun juga masyarakat NTB. Sebab keberadaan SDA sangat penting untuk menunjang kehidupan di masa mendatang.

  Pemain Buzz Bozz FC Ini Jadikan Fokus Sebagai Kunci

‘’Saya punya tiga pertanyaan, pertama apakah pembangunan ekonomi kita itu prospek dan tidak berdampak buruk bagi masyarakat. Kedua, apakah ekonomi kita prospek menjadi efisiensi sumber daya. Dan ketiga, sejauh mana kemudian pembangunan ekonomi kita memberikan kesejahteraan yang adil dan merata. Karena ini terkait dengan sebaran SDA dan sebagainya,’’ kata Leader WWF, Ridha Hakim, dalam diskusi tersebut.

Eksploitasi dari SDA yang berlebihan tentu saja berdampak pada ekonomi kita. Data menyebutkan, daerah dengan lahan kritis di NTB saat ini mencapai 71,59 persen di Lombok dan 70,09 persen di Sumbawa. Tingkat bahaya erosinya dikatakan sudah tergolong berat. Tapi di satu sisi tren kebutuhan air di NTB meningkat untuk irigasi mencapai 63,05 persen.

Sementara untuk kebutuhan industri bertambah menjadi 76,01 persen. Sedangkan indeks kebutuhan air di NTB sudah berada di atas 100 persen. Hal ini menandakan bahwa kondisi di NTB sudah dalam keadaan kritis dan merupakan persoalan serius yang harus dicarikan jalan keluar.

Sementara itu, di sisi lain juga harus dilihat fakta-fakta bahwa di RPJM, telah ditargetkan jumlah penduduk yang mendapatkan layanan air minum mencapai 70 persen. Sementara di NTB hanya mampu mencapai angka 52,31 persen. Jumlah ini juga masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 62,27 persen. Sementara Pemda hanya mengalokasikan 0,4 persen anggaran dari APBD daerahnya. Hal ini juga kemungkinan disebabkan karena kemampuan daerah memang hanya sampai situ saja.

‘’Kita memang punya tata ruang RPJM dan program. Tapi ke aspek lingkungan yang masih menjadi pertanyaan besar kita. Sejauh mana ini bisa menopang. Kita khawatir daya lingkungan tidak dapat memberikan yang signifikan. Pemda harus berani tetapkan daya dukung daerah kita berapa. Kalau tidak ini akan terus menurun. Di satu sisi tren ekonomi akan menurun juga. Kita (WWF) sedang menghitung di titik berapa akan turun,’’ ujarnya.

  Kebutuhan Listrik Pelabuhan Internasional Gili Mas Dipenuhi

Ridha menuturkan bahwa pihaknya juga melihat perkembangan pariwisata yang memang tidak jauh dari sumber daya alam. Misalnya wisata diving yang memang banyak digemari oleh wisatawan. Namun semakin hari terumbu karang di NTB semakin berkurang. Padahal itu merupakan daya tarik yang diinginkan oleh wisatawan. Hal ini disebabkan salah satunya karena masih maraknya illegal fishing di perairan NTB. Sementara hal ini juga akan berdampak pada nilai tawar dari nelayan. Sehingga akan menimbulkan kerugian secara ekonomi.

‘’Kami juga melakukan wawancara dengan wisatawan. Hampir 80 persen wisatawan itu menyukai keindahan bawah laut kita. Tetapi terumbu karang semakin hari semakin rusak, kondisinya cukup mengkhawatirkan. Kami prihatin tingkat kerusakan terumbu karang kita tinggi sekali akibat illegal fishing ini,’’ ungkapnya.

Ridha juga menyoroti kantong kemiskinan yang ada di perbatasan hutan dan pesisir pantai di NTB. Menurut data yang dihimpun WWF, terdapat 500 lebih desa yang merupakan kantong kemiskinan. Di mana 364 desa diantaranya merupakan desa yang ada di pinggir hutan. Pada dasarnya hasil yang diperoleh cukup banyak, namun petani dan nelayan kerapkali merugi karena harus berurusan dengan tengkulak.

‘’Dari tujuh desa yang kami lakukan penelitian di dekat hutan. Dalam 10 hari mencapai Rp 1,2 miliar transaksinya. Sementara 90 persennya itu dikuasai oleh tengkulak. Karena tidak ada regulasi yang mengatur itu. Mungkin kita bisa mengharapkan Bumdes. Saya kira kalau hampir 500 desa ini Bumdesnya benar benar diperkuat, saya kira akan dapat menutup sedikit pergerakan tengkulak. Padahal permintaan pasar begitu besar,” ujarnya. (ron/lin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here