Mengintip Zaman Paleozoikum di Pulau Satonda

pulau satonde

Dompu (Suara NTB) – Pulau dan Danau Satonda tidak hanya memiliki pesona alam. Di dalamnya, hidup keajaiban biologis yang menarik untuk didalami. Ilmuwan Eropa yang meneliti Danau Satonda ini, menyebutnya sebagai “salah satu laboratorium paleooseanografi paling menarik” di dunia.

November 1984 silam, peneliti terkemuka dari Eropa, Stephan Kempe dan sejumlah rekannya yang tergabung dalam Ekspedisi Indonesia-Belanda SNELLIUS II pertama kali menyadari bahwa Danau Satonda bukanlah danau biasa.

Iklan

Rekan Kempe, ilmuwan Josef Kazmierczak yang kemudian membuktikan adanya makhluk mikrobiologis yang unik setelah meneliti sampel berupa karang-karang dari danau ini. Organisme ini, diyakininya memiliki kesamaan struktur biologis dengan organisme yang hidup di awal zaman paleozoikum, sebuah zaman sekitar 542 sampai 251 juta tahun silam.

FOTO 2

Pengunjung menikmati terapi ikan di danau Satonda.

Dalam laporannya pula, Kempe, Kazmierczak dan rekannya yang lain menyebut danau ini sebagai sebuah habitat unik di dunia. Sebab, habitat di danau ini terbentuk dari kawah, yang terisi oleh air laut. Alam dan waktu tampaknya telah bersiasat sedemikian rupa, menjaga rahasia biologis berusia ratusan juta tahun itu tetap lestari sampai sekarang.

Pergerakan alam di masa lampau telah membuat koneksi danau dengan air laut terputus. Kondisi ini membuat air di danau menjadi asin, namun memiliki kadar kebasaan yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan air laut biasa.

Baik Kramer maupun Kazmierczak sama-sama berpendapat, ceruk di Pulau Satonda yang kemudian menjadi danau itu, muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah purba. Ia diperkirakan terbentuk lebih dari 10.000 tahun lalu.

Satonda menjadi objek wisata ikonik karena tipografi alamnya yang berupa bentang pegunungan berketinggian 289 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Pada bagian tengah pulau, terlihat ceruk danau yang dari atas akan tampak sangat tenang.

  TP4D Persilakan Polisi Usut Dermaga Sebotok

Pulau Satonda berada di wilayah administrasi Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu. Pulau ini dapat dicapai dalam waktu sekitar 20 menit menggunakan perahu cadik dari daratan Desa Nangamiro Pekat.

Dari pusat kota Dompu menuju Nangamiro, dibutuhkan waktu tempuh sekitar tiga hingga lima jam perjalanan darat. Namun, jika berangkat dari Kabupaten Sumbawa, waktu tempuhnya mungkin sekitar delapan jam perjalanan darat. Sementara dari Kabupaten Bima, juga dibutuhkan waktu sekitar lima jam perjalanan.

Pulau Satonda sendiri dikenal dengan keindahan alamnya. Pesisir pantainya berpasir putih, dengan terumbu karang yang indah dan aneka ragam flora dan fauna yang memikat.

Keindahan alam di sekitar pulau Satonda menjadikan daerah ini sebagai tempat singgah bagi setiap kapal pesiar tujuan pulau Moyo Sumbawa dan pulau Komodo NTT dari Benoa Bali dan Lombok. Wisatawan mancanegara singgah di pulau Satonda untuk menikmati keindah laut sekitarnya dengan melakukan snorkeling dan menyaksikan danau Satonda.

CAMERA

Seorang wisatawan tengah menikmati terumbu karang di sekitar Pulau Satonda.

Danau Satonda memiliki keasaman air yang tinggi sehingga hanya hidup ikan berdiameter kecil. Tak heran jika banyak pengunjung danau ini yang memanfaatkannya untuk melakukan terapi ikan.

Satonda terletak tidak jauh dari Gunung Tambora yaitu sekitar 30 kilometer dari puncak Tambora. Karena masih sebagai daerah singgahan, keberadaan pulau Satonda belum banyak memberi keuntungan bagi masyarakat sekitar. Padahal, tak sedikit tokoh nasional dan bahkan tokoh dunia seperti Putri Diana Inggris yang pernah singgah di Satonda.

Satonda bisa dikatakan masih ‘perawan’. Sebab, meski memiliki pesona yang memikat, namun ia hanya dijadikan persinggahan. Baharuddin, petugas BKSDA penjaga pulau Satonda, mengungkapkan, pulau ini masih menjadi daerah singgahan wisatawan mancanegara yang datang dari Bali dan Lombok dengan tujuan pulau Moyo Sumbawa dan pulau Komodo. Kunjungan wisatawan ini empat hari dalam sepekan, yaitu setiap Selasa, Kamis, Jumat dan Minggu.

  Malas, Bintara Polres Dompu Dipecat

“Wisatawan ini datang dengan kapal pesiar dan langsung menyandar di tengah laut. Mereka tidak menginap, setelah snorkeling dan diving, mereka lanjutkan perjalanan,” katanya.

Diakui Baharuddin, karena menjadi daerah singgahan, dampak terhadap masyarakat sekitar belum dirasakan. Apalagi para wisman hanya melakukan diving dan snorkeling di sekitar pulau Satonda. Retribusi yang ditarik dari pengunjung memang tidak masuk ke kas daerah, karena dikelola oleh BKSDA Provinsi NTB.

Satonda, lanjut Baharuddin, memiliki alam bawah laut yang memesona dengan terumbu karang dan ikan warna-warninya. Keindahan pulau ini telah diakui wisatawan dunia. Kebanyakan, wisatawan yang berlayarlah yang singgah di sana. Selain keindahan alamnya, Pulau Satonda juga memiliki keunikan dengan danaunya yang tidak berhubung dengan laut, tapi airnya asin. (aan/ula)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here