Mengintip Aktivitas Pengolahan Ikan Hiu di Lombok Timur

Selong (suarantb.com) – Terletak agak jauh dari pemukiman penduduk, melalui jalanan yang sedikit berbatu dan menanjak di Desa Rumbuk Kecamatan Sakra Lombok Timur. Di sinilah berdiri bangunan bercat biru, yang sudah dikenal warga sebagai “pabrik” pengolahan ikan hiu.

Mendekati bangunan yang berdiri di atas lahan milik Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ini, bau amis dan busuk langsung menusuk hidung. Memasuki bangunan yang berbentuk bangunan rumah dengan kamar-kamar tersebut, lalat-lalat terlihat menyerbu. Juga burung walet yang sepertinya membangun sarang di sana.

Iklan

Sirip hiu kering yang tengah dijemur di dekat jalan masuk, langsung menarik perhatian. Saat itu, sekitar pukul 09.00 pagi hari Minggu, 10 Desember 2017, belum terlihat kesibukan di tempat pengolahan ikan hiu itu. Setelah mengitari halaman dan bangunan tersebut, suarantb.com menemukan seorang lelaki tua yang tengah bergulat dengan tulang belulang ikan hiu.

Setelah didekati, pria yang enggan menyebutkan namanya itu mengaku sedang menjemur tulang hiu. “Ini tulang hiu, mau dijual,” katanya.
Dijelaskannya, tulang-tulang hiu tidak dibuang begitu saja, melainkan dikeringkan kemudian dikirim ke luar daerah, salah satunya Surabaya untuk diolah kembali. Salah seorang pekerja, Sukri mengatakan aktivitas kerja di tempat tersebut dimulai pukul 12.00 Wita. Ada puluhan pekerja yang menggantungkan hidupnya di tempat tersebut.

“Ada banyak kamar-kamar di sini, kalau mau kerja pilih mau masuk kamar yang mana. Tiap kamar kerjaannya beda-beda, bayarannya juga beda,” tuturnya.

Kebanyakan pekerja di pabrik ini berasal dari Desa Rumbuk. Masing-masing orang bisa memilih hendak mengerjakan bagian mana dari tubuh hiu tersebut untuk dijadikan olahan. Karena dari satu ekor ikan hiu, tidak ada satu pun bagian tubuh yang dibuang.

Mulai dari daging, yang diolah menjadi sate. Kulit hiu dikeringkan menjadi kerupuk, tulang belulang hiu pun memiliki nilai jual sendiri. “Kalau tulang yang dikeringkan kita jual dari sini Rp 20 ribu per kilogram, yang lain harganya macam-macam,” ungkapnya.

Ditanya tentang sirip hiu yang terkenal menjadi bahan utama sup, karena kandungannya yang diyakini baik untuk kesehatan juga memiliki harga beragam. Sirip kualitas rendah dijual Rp 100 ribu per kilogram. Sementara itu sirip hiu berkualitas super dijual hingga Rp 8 juta per kilogram.

“Yang super itu kalau hiunya gede-gede, kalau sekarang kan sudah jarang. Sudah turun jadi harganya,” ucapnya.
Sukri juga mengeluhkan jumlah hiu hasil tangkapan yang kian berkuran. Dimana hingga siang hari, belum ada hiu hasil tangkapan yang bisa diolah. “Sekarang sudah semakin berkurang yang datang, kalau dulu banyak,” lanjutnya.

Data Badan Pengelolaan dan Sumber daya Laut (BSPL) Wilayah Denpasar, tahun ini sebanyak 30 ton kulit hiu dikirim ke luar NTB oleh pengepul di Pulau Lombok. Koordinator BPSPL untuk wilayah NTB, Barmawi menyebutkan, pada 2016 lalu, total yang terdata sebanyak 8.000 ekor hiu berhasil ditangkap oleh nelayan dan mendarat di Tanjung Luar. Sebelumnya, 2014 total hasil tangkapan nelayan sebanyak 6.000 ekor hiu, 2015 sebanyak 5.000 ekor dan tahun 2017 ini diprediksi hasil tangkapan menurun.

Di Tanjung Luar, menurut data yang diterima oleh BPSPL, sekitar 40 sampai 60 kapal tangkap digunakan sehari-hari oleh nelayan untuk berburu hiu. Hasil tangkapannya, biasanya dikirim ke Surabaya dalam bentuk hanya sirip, kulit atau tulang-tulangnya.

Untuk sirip ini, kata Barmawi, dihargai Rp 1-5 juta sampai Rp 2,5 juta dalam satu set sirip. Mencakup dua sirip dada, satu sirip punggung, dan satu sirip bagian ekor bawah hiu. “Untuk pengiriman ke luar daerah, sirip, ataupun kulitnya, selalu dikoordinasikan dengan kami untuk memastikan tidak ada organ dari jenis hiu yang dilarang ditangkap,’’ tandas Barmawi. (ros)