Mengenang Kembali Sosok Ina Ka’u Mari, Hj. Siti Maryam Binti Sultan Muhammad Salahuddin

Bima (Suara NTB) – Dr. Hj Siti Maryam M. Salahuddin, SH, atau warga Bima biasa menyebut dan mengenal dengan “Ruma Ina Ka’u Mari”. Dia anak kedua dari empat bersaudara dari Sultan Bima terakhir, yakni Muhammad Salahuddin.

Ina Ka’u Mari lahir pada 13 Juni 1927. Pada masa kecil, meskipun berada di lingkungan keluarga Sultan, namun dalam hal pendidikan dirinya merasa kesulitan untuk bersekolah.

Iklan

Warga pribumi asli kesulitan mendapat akses pendidikan karena pada saat itu, Indonesia, termasuk Bima, di bawah penjajahan Belanda. Namun untuk mengisi waktu luang tersebut dirinya memanfaatkan membaca buku.

Setelah perang Dunia II dan Indonesia merdeka, barulah Maryam kecil bisa mengenal dunia sekolah. Bahkan dia meninggalkan Bima menuju Jakarta dan masuk ke Sekolah SMAN Boedi Oetomo dan kuliah.

Setelah 12 tahun Indonesia merdeka, kemudian pada tahun 1957, dia melepaskan masa lajangnya. Dari pernikahannya tersebut tidak memiliki anak, sehingga dirinya mengangkat anak sepupunya yang bernama Dewi.

Tiga tahun selepas pernikahannya, tepat pada tahun 1960, Siti Maryam melanjutkan kuliah di Kampus ternama di Indonesia, yakni Universitas Indonesia (UI) mengambil Jurusan Hukum.

Di kampus itu, dia hanya membutuhkan tiga tahun untuk meraih predikat sarjana hukum. Selepas itu selanjutnya bekerja di Departemen Luar Negeri sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Seiring berjalannya waktu, dirinya memutuskan untuk kembali ke provinsi kampung halaman dan memilih menetap tinggal di Mataram. Tujuannya saat itu ingin membangun NTB yang memang terbilang masih terbelakang.

Cita-citanya ingin membangun NTB terasa sudah di depan mata. Pada saat Gubernur Wasita Kusuma, dia dipercaya menjadi asisten III. Jabatan itu berlanjut sampai  ke Gatot Suherman Gubernur baru.

Setelah cukup lama duduk di pemerintahan, pada  tahun 1992 dirinya pensiun, kemudian merambah karir ke dunia politik. Selama lima tahun ia mengemban jabatan sebagai Anggota DPR/MPR RI perwakilan NTB.

Maryam duduk di Komisi II, beberapa keberhasilan yang dicapai saat itu, yakni mendorong terbentuknya Kota Mataram, dalam kelengkapan administrasi.

Untuk mengisi waktu kekosongan tersebut Maryam, memilih mengajar di kampus di Mataram seperti di Unram dan universitas 45, dan seringkali diundang sebagai pembicara untuk kegiatan seminar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pada Tahun 2007, Siti Maryam melanjutkan program Doktor di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, mengambil jurusan Filologi. Ilmu yang mempelajari naskah-naskah manuskrip atau mempelajari bahasa dalam sumber sejarah yang ditulis pada masa lampau. Pada tahun 2010, beliau resmi menyandang Doktor

Sedangkan di Bima, dirinya mempunyai museum Samparaja, yang diresmikan oleh menteri kebudayaan pada tahun 1995, tempat tersebut menyimpan beberapa koleksi peninggalan kesultanan Bima.

Masih tersimpan rapi di tempat tersebut, seperti Manuskrip Kesultanan, Meriam tua milik Kolonial Belanda, sampai perabotan-perabotan zaman kesultanan dulu.

Peneliti, arkeolog, budayawan, sejarawan hingga mahasiswa lokal, dalam negeri dan mancanegara pernah mengunjungi Museum yang terletak di jalan Gajah Mada Karara Kota Bima yang juga merupakan kediaman pribadinya.

Tamu yang yang berkunjung di kediamannya akan disuguhkan salah satu buku besar atau naskah bersampul kulit yang lusuh, yang dikenal Bo Sangaji Kai. Dalam naskah tersebut sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, yang asli bahasa adalah Arab-Melayu.

Beberapa halaman nampak ada bagian yang pudar dan tidak terbaca, Dalam naskah tersebut, berupa catatan atau tulisan Sultan Bima dulu, saat ini satu-satunya yang bisa membaca dan menerjemahkan naskah itu hanya Maryam yang dipelajarinya selama lima tahun.

Sedangkan masalah tulisan Maryam pernah menerbitkan buku tentang Bima, seperti Pemerintahan Adat Kesultanan, (1992), dan Katalog naskah Bima, (2007), yang hingga kini sebagai referensi mahasiswa dan peneliti dalam menguak sejarah Kesultanan Bima.

Terakhir buku yang berhasil diterbitkan yakni buku berjudul Naskah Hukum Adat Tanah Bima, dalam perspektif hukum Islam, yang diterbitkan pada tahun 2015 lalu. (uki)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here