Mengenang Bapak Voli Pantai NTB, Nur Ahmad Yani

Mataram (suarantb.com) – Nur Ahmad Yani, sosok kelahiran 17 mei 1958 ini disebut Bapak Voli Pantai NTB. Tanpa usaha dari beliau dan keluarga, tidak akan lahir atlet-atlet Voli Pantai NTB berprestasi seperti sekarang ini. Mereka menyediakan tempat berlatih bagi atlet di hotel yang mereka miliki, Hotel Pondok Senggigi. Dari sinilah lahir atlet berprestasi seperti Putu Timi, Agus Salim dan Anjas Asmara.

“Pak Yani adalah bapak anak-anak voli pantai NTB. Saat itu Pak Tajundi kakak Pak Yani, pemilik Hotel Pondok Senggigi, memberi kami tempat bernaung dan berlatih gratis,” kenang Pelatih Voli Pantai, Agus Salim.

Iklan

Atlet-atlet dibebaskan berlatih di lapangan voli dan voli pantai yang ada di hotel tersebut. “Melalui Pak Yani lah kami mengenal olahraga voli pantai. Saya, Mbak Putu Timi dan atlet-atlet sebelum kami belajar dari Pak Yani,” jelasnya.

Kerja keras, kesabaran dan keikhlasan Yani dalam mengajar anak didiknya berbuah manis. Anak asuhnya berhasil tercatat sebagai atlet berprestasi di tingkat nasional dan internasional.

“Dulu tidak ada yang menyangka bahwa NTB punya atlet voli pantai. Bahkan sampai bisa ikut Kejurnas. Itu pun dibiayai mereka, pokoknya harus bisa ikut Kejurnas ada atau tidak biaya dari pemda,” tuturnya.

Selain atlet senior, para atlet muda voli pantai NTB, seperti Putu Dini Jasita Utami dan Dhita Juliana, juga merasakan bimbingan Yani. Mereka sepakat, Yani sudah seperti sosok Bapak bagi mereka. Selalu menemani saat mereka latihan, jika mereka pulang ke daerah.
“Selama Pelatda ini beliau selalu ada saat latihan. Kalau kami pulang ke Lombok juga sering tidur di rumahnya. Sudah seperti keluarga sendiri lah,” ujar Putu Dini.

Sebagai pelatih, Yani telah mengukir prestasi gemilang untuk voli pantai NTB. Dengan atlet yang bahkan bisa menembus Olimpiade, seperti Putu Timi dan Agus Salim. Dan usaha ini sekarang dilanjutkan Agus Salim. Ia melatih atlet-atlet muda NTB, yang berhasil menjadi tim peringkat satu di Indonesia, yaitu Putu Dini Jasita Utami dan Dhita Juliana.

Berikut beberapa nama atlet yang telah dilatih Yani beserta beberapa prestasi yang diraihnya. Putu Timi YR meraih emas PON dan SEA Games 1997, Olimpiade Atlanta 1996 meraih rangking 13 dunia. Agus Salim juga meraih emas PON dan SEA Games 1997 dan perak pada Asian Games 1998 dan 2002. Anjas Asmara meraih emas PON 1998 dan perunggu di Asian Games 1998. Dhita Juliana dan Putu Dini meraih emas PON 2012, perak pada SEA Games 2011 dan emas di Kejuaraan Dunia Negara Islam ISG 2013.

Saat ini, para atlet dan pelatih voli pantai NTB merasa kehilangan sosok yang telah pergi untuk selamanya pada tanggal 4 Agustus lalu. Almarhum meninggal dunia saat tengah melatih para atlet pelatda PON. Di tengah latihan, ia tiba-tiba terjatuh akibat serangan jantung dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sayang, nyawanya tidak tertolong.

Pak Yani memang sempat didiagnosa memiliki riwayat penyakit jantung. Namun, hal itu tak menyurutkan niatnya untuk terus melatih atlet. Karena kecintaannya pada voli pantai, ia selalu hadir saat latihan. “Saat sedang latihan, beliau tiba-tiba jatuh. Memang sebelumya ada gejala jantung. Beberapa bulan sebelumnya sudah ada gejala sakit,” kenang Surahman Sidik, seorang pelatih atlet Pelatda PON NTB.
Agus Salim sendiri menegaskan bahwa almarhum telah mereka anggap layaknya seorang ayah. Pengabdian Nur Ahmad Yani bersama jasa-jasanya, tetap hidup dalam memori para atlet penerus perjuangannya. Ia akan selalu dikenang sebagai teladan yang baik dan tanpa pamrih bagi atlet yang ingin berprestasi.

“Saya selalu menjadikan kisah Pak Yani sebagai motivasi buat atlet. Karena ia ikhlas mengajar dan berkorban buat voli pantai NTB. Tanpa pernah meminta balasan apa pun,” pungkas Agus. (ros)