Mengenal ‘’Wepure’’, Alat Penjernih Air Buatan Siswa MAN 1 Lotim

Tim KIR MAN 1 Lotim sedang memperkenalkan Wepure alat penjernih air. (Suara NTB/ist)

MAN 1 Lombok Timur (Lotim) terus memacu prestasi siswanya dalam berbagai bidang. Salah satunya saat ini tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) MAN 1 Lotim yang terdiri atas Baiq Ade Winanda (XI MIA 3), M. Sya’rowi Ismail (X MIA 5), Aulia Dina Islami (XI IS 4) sukses mewakili NTB untuk mengikuti lomba inovasi bidang pengelolaan sumber daya air yang diselenggarakan Direktoral Bina Sumber Daya Air Kementerian PUPR Jakarta Tahun 2021 setelah lolos seleksi awal yang dilakukan panitia pusat.

Sya’rowi yang menjadi ketua tim didampingi mentornya Bukhori Muslim mengatakan karya inovasi ini berupa alat yang mampu menjernihkan air. Karya ini dilatarbelakangi oleh kondisi daerah yang sering terjadi bencana dan air bersih menjadi permasalahan yang kontroversial saat terjadi bencana.

Iklan

Kekurangan air bersih, menimbulkan berbagai penyakit seperti penyakit kulit dan pencernaan. Di samping itu tidak jarang terjadi konflik sosial gara-gara perebutan air bersih di tengah masyarakat, sehingga tujuan penelitian ini yaitu untuk menciptakan sebuah alat penjernihan air yang diberi nama Wepure (Water Purifier) berbasis Internet of Thing yang mudah dioperasikan dalam kondisi bencana.

Selain itu penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas alat Wepure sebagai penjernih air. Sedangkan, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development dengan jenis penelitian eksperimen.

Indikator yang digunakan dalam uji kualitas air yaitu warna, pH dan jumlah mikroorganisme yang ditemukan pada air sebelum dan sesudah proses penjernihan menggunakan alat Wepure. Hasil penelitian ini yaitu alat Wepure mampu menjernihkan air kotor menjadi air bersih yang layak digunakan untuk keperluan sehari-hari.

Dijelaskannya terdapat ada tiga jenis air yang sudah diujicobakan yaitu air got, air sungai, dan air lumpur. Dari hasil uji coba bahwa air yang sebelumnya keruh namun setelah melalui proses alat Wepure air tersebut menjadi jernih. Rata-rata pH dari ketiga sampel air tersebut sebelumnya memiliki nilai pH 7,6 hingga 9,0 (mengandung basa) yang tidak layak dikonsumsi, namun setelah melalui proses alat yang dibuat nilai pH menjadi normal yaitu di antara 7,0 dan 7,6.

Sementara itu, hasil uji mikroorganisme sebelum dan sesudah proses penjernihan air menunjukkan mikroorganisme alga yang ada pada air sebelum dijernihkan lebih banyak daripada mikroorganisme sesudah melalu proses penjernihan air. Selain itu, pengoperasian sistem kerja alat Wepure dapat dilakukan melalui smartphone, sehingga mudah melakukan pengontrolan.

Selanjutnya Sya’rowi berharap agar karya timnya ini dapat dikembangkan oleh pemerintah untuk dapat bermanfaat bagi masyarakat terutama masyarakat yang terkena bencana.  “Alat ini murah karena biaya yang dibutuhkan tidak lebih dari 200 ribu,” ungkap Sya’rowi menyakinkan sembari berharap dukungan dan doa masyarakat NTB agar meraih juara di saat presentasi virtual sekitar Juni 2021 ini. Amin (dys)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional