Mengejar Prestasi, Membangun Kemandirian Finansial

Atlet NTB, Lalu Muhammad Zohri (kiri) berlari sambil menerima tongkat dari rekannya Sapwaturrahman (tengah) pada final lari 4x100 meter estafet putra PON Papua di Stadion Atletik Mimika Sport Centre, Kabupaten Mimika, Papua, Rabu, 13 Oktober 2021.(ant/bali post)

Prestasi di lapangan, dan kemandirian finansial seringkali jadi dua hal yang sulit diraih oleh para atlet NTB. Sebagian gagal menggabungkan keduanya dan hanya bisa berprestasi di lapangan. Namun, ada juga yang meraih keduanya lewat prestasi olahraga.

KEBERHASILAN di lapangan yang tak diimbangi kemandirian finansial dirasakan oleh Munakip. Atlet tarung derajat yang mempersembahkan medali emas untuk NTB di PON Jawa Barat 2016 ini kini harus hidup sederhana dengan gaji sebagai tenaga honorer yang tak seberapa.

Iklan

Soal prestasi, petarung asal Kelurahan Prapen, Praya, Lombok Tengah tak perlu diragukan. Pria kelahiran 1986 ini tercatat pernah meraih perunggu Kejuaraan Tarung derajat tingkat nasional tahun 2007 silam. Kemudian perak tahun 2008 dan emas sejak tahun 2009 sampai 2014. Di tingkat nasional, terakhir Munakip menyambet emas PON 2016. Setelah sebelumya juga meraih emas pada kejuaran nasional Tarung derajat pada 2013 sampai 2015. Sedangkan untuk level Asia, pernah menjuarai kejuaraan Asia di Bali tahun 2014 lalu.

Sayangnya, kecemerlangan di lapangan, ternyata belum selaras dengan kehidupan finansial di luar lapangan. Meski punya prestasi tinggi, kehidupan atlet peraih medali emas PON 2016 ini, sangat sederhana.

Munakip sejauh ini masih tercatat sebagai pegawai honor di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Loteng sejak 2019 lalu. Dengan honor hanya Rp400 ribu per bulan, diakuinya jauh dari kata ideal. Untuk menghidupi istri dan anak-anaknya jelas tidak akan cukup. Namun semua itu tetap dijalankan, karena tuntutan tugas dan tanggung jawab.

Munakip. (Suara NTB/dok)

Selain menjadi pegawai honor, Munakip juga mengabdikan diri sebagai guru honor di MI Tiwu Lekong. “Jadi Senin-Jumat saya jadi honorer di Dispora Loteng. Sabtunya saya mengajar di MI. Sore baru kita melatih,” terang bapak tiga anak ini.

Ia pun mengaku besar harapanya bisa diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebagaimana yang pernah dijanjikan pemerintah daerah untuk mengangkat atlet yang telah berprestasi di level nasional menjadi PNS. Tapi harapan tersebut sampai saat ini tak kunjung tercapai. Pemerintah daerah berdalih, belum bisa mengangkat atlet berprestasi sebagai PNS, lantara terkendala formasi.

“Memang belum ada formasi pengangkatan PNS bagi atlet berprestasi sejauh dari pemerintah.  Sehingga tentu sebagai mantan atlet nasional, kita sangat berharap bisa diangkat sebagai PNS oleh pemerintah. Paling tidak menyiapkan formasi pengangkatan PNS bagi atlet berprestasi,” ujarnya.

Sebagai atlet, ia mengakui cukup berharap pemerintah, khususnya pemerintah daerah Lombok Tengah bisa memberikan perhatian.

“Syukur-syukur bisa diangkat sebagai PNS. Sehingga bisa fokus membinan calon-calon atlet potensi masa depan daerah ini,” ujarnya.

Bonus Besar

Apa yang dirasakan Munakip cukup kontras dengan yang dihadapi oleh atlet atletik NTB, Lalu Muhammad Zohri dan Sapwaturrahman. Keduanya adalah dua nama kebanggaan NTB di ajang PON Papua 2021. Zohri dan Sapwa menjadi tipikal atlet yang cukup beruntung karena selain tampil baik di lapangan, mereka juga bisa mapan secara finansial. Semua itu berkat bonus bernilai tinggi yang mereka raih dari penampilannya.

Di PON Papua 2021, kedua atlet ini kembali meneguhkan statusnya sebagai pahlawan baru NTB setelah menyumbang masing-masing dua medali emas. Zohri meraih dua emas di  nomor 100 meter dan 200 meter atletik, sementara Sapwaturrahman meraih dua medali emas di nomor lompat jauh dan lompat jangkit.

Prestasi Zohri dan Sapwaturrahman di cabang olahraga atletik dinilai patut menjadi inspirasi atlet-atlet muda NTB. Pasalnya, selain sukses menjadi atlet terbaik Indonesia, kedua atlet ini juga dinilai sukses secara finansial karena bisa hidup mapan ekonomi atas hasil prestasi yang sudah diraih.

Ketua Kontingen PON NTB, H. Mori Hanafi yang ditemui Suara NTB, di sela-sela acara penyambutan atlet di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), Minggu (17/10) mengatakan sangat bangga dan senang melihat aksi kedua atlet itu di PON XX/2021. Ia mengaku sangat senang Zohri dan Sapwa masih bisa menyumbangkan medali emas di PON meskipun persiapan atlet di tengah Covid-19 tak bisa maksimal.

“Kita bersyukur Lalu Muhammad Zohri dan Sapwaturrahman bisa menyumbang masing-masing dua medali emas di PON. Ini sesuai harapan dan target kami,” ucapnya.

Wakil Ketua DPRD NTB ini mengatakan bahwa penampilan kedua atlet di PON memang belum maksimal, karena masih dalam pemilihan cedera. Namun meski dalam kondisi kurang prima namun kedua atlet itu masih bisa mengamankan empat medali emas. Masing-masing menyumbang dua medali emas di nomor yang berbeda.

“Usia Zohri masih muda, dan Sapwaturrahman masih bisa tampil di PON /2024. Kita harapkan kedua atlet ini bisa mempersiapkan diri menghadapi PON mendatang,” harapnya.

Terpisah, pelatih atletik NTB yang juga asisten pelatih PB PASI, Fadlin mengungkapkan prestasi  Zohri  di kancah internasional mulai meroket saat ia menjadi bintang di IAAF World U-20 Championship di Tempere, Finlandia. Di ajang tersebut, Zohri mencatatkan waktu 10,18 detik di nomor 100 meter.

Setelah keberhasilan itu, Zohri terus menunjukkan peningkatan kemampuan. Ia seolah bisa dengan cepat menunjukkan perkembangan dan mampu mempertajam catatan waktu miliknya.

Pada 22 April 2019, Zohri juga kembali tampil di Asian Athletics Championship di Doha, Qatar. Kali ini ia kembali mempertajam catatan waktunya menjadi 10.13 Detik.

Catatan waktu terbaik milik Zohri saat ini ada di angka 10,03 detik yang ia torehkan saat tampil di Seiko Golden Grand Prix 2019 di Osaka, Jepang. Zohri di ambang sejarah jadi pelari Indonesia pertama yang mampu menembus catatan waktu di kisaran 10 detik.

Selanjutnya, prestasi terbaik Sapwaturrahman  di atletik sendiri dimulai pada PON Jabar tahun 2016 dengan meriah medali emas di nomor lompat jauh. Selanjutnya prestasi terbaik Sapwaturrahman saat meraih medali perunggu di Asian Games 2018 dengan mencatat rekor lompatan terjauh Indonesia yakni 8.09 meter.  Dan terakhir di SEA Games 2019, Sapwaturrahman meraih medali emas di lompat jauh.

Selain berhasil mencetak prestasi di kancah nasional dan internasional kedua atlet ini juga sukses secara finansial. Pasalnya dari hasil prestasi yang diukir di beberapa event Internasional kedua atlet ini dibanjiri bonus ratusan juta hingga miliaran yang diberikan oleh pihak Pemerintah Pusat, daerah dan sektor swasta.

“Saya tidak bisa mengungkapkan secara rinci berapa bonus yang didapat dua atlet ini. Tapi kalau di hitung-hitung angkanya cukup banyak. Angkatnya bisa menembus miliaran,” ucap Fadlin yang juga merupakan mantan atlet NTB yang sukses membawa tim estafet 4×100 meter Indonesia meraih medali perak di Asian Games 2018. (aan/fan)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional