Mengagumi Ular Jinak di Pulau Ular

Bima (Suara NTB) – Pulau yang satu ini belum terlalu banyak yang mengenalnya. Pulau Ular, pulau yang dihuni oleh ratusan bahkan ribuan ular jinak yang mengagumkan.

Pulau Ular terletak di Desa Pai Kecamatan Wera berbatasan dengan Kecamatan Sape Kabupaten Bima, Jarak tempuh dari ibukota Kabupaten berkisar 84 kilometer ke arah timur melewati jalur selatan Kecamatan Sape, begitu juga melewati arah utara melewati kecamatan Ambalawi dan Wera.

Iklan

Jika ditempuh menggunakan sepeda motor jarak rata-rata 60 sampai 80 kilometer/perjam, bisa memakan waktu hingga tiga jam setengah agar sampai ke tempat yang belum banyak tersentuh pembangunan itu.

Ular-ular jinak yang hidup di celah-celah bebatuan karang di Pulau Ular.

Saat Suara NTB berkunjung pada 2015 lalu, masih banyak jalan-jalan yang belum diaspal. Sinyal telepon seluler juga timbul tenggelam ketika memasuki daerah ini. Fasilitas kesehatan pun belum memadai.

Warga Desa Pai, Radiman (24) kepada Suara NTB, di pantai Pai, saat memandu tim jelajah menyeberang menuju pulau ular, menuturkan cerita turun-temurun yang membuat pulau ini dinamakan Pulau Ular. Pulau ini dinamakan demikian karena memang terdapat banyak ular jinak yang diperkirakan mencapai ratusan bahkan ribuan ekor jumlahnya. Uniknya, ular yang hidup di pulau ini tidak berbisa, sehingga orang bisa mudah memegangnya. Bahkan dijadikan mainan.

“Kadang dikalungkan di leher, dan kalau musim hujan seperti ini, ular-ularnya mudah sekali ditemukan di atas bukit pulau, dan bila matahari terbenam Banyak sekali jumlahnya yang keluar dari lubang dan rongga bebatuan untuk mencari makanan berupa ikan-ikan kecil,” imbuhnya.

Pengunjung bermain dengan ular jinak yang hidup di Pulau Ular.

Dikatakannya ular tersebut tidak bisa dibawa pulang di luar pulau itu. Kalaupun dibawa, ular-ular tersebut akan kembali ke tempatnya asalnya. Warga setempat mempercayai, bila sang ular tidak pulang, maka akan membahayakan, mendatangkan bencana dan bahaya buat masyarakat Pai. Karena kepercayaan ini, warga setempat sangat menjaga keberadaan ular-ular itu.

“Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang dan singgah di sini, alasannya karena rasa penasaran yang tinggi, melihat ular-ular yang jinak terkadang mau dibawa pulang namun dilarang oleh warga kami karena selain menjaga kelestariannya, juga dipercayai mendatangkan musibah,” ujarnya.

Salah seorang pengunjung, Irwan, warga kelurahan Rabangondu Kota Bima, mengaku keinginannya bisa melihat pulau ular akhirnya bisa terwujud.

Selama ini dia hanya mendengarkan dari mulut ke mulut tentang keberadaan pulau itu. Tentang ular yang bisa bertahan di sebuah pulau yang letaknya di lepas pantai, di atas pulau di antara celah-celah bebatuan, atau bergelantungan pada tebing-tebing terjal.

“Seperti di alam mimpi ketika sampai ke tempat ini, selain perjalanan yang berjam-jam, yang cukup menguras tenaga , melihat ular-ular yang sangat lucu, jinak mampu mengobati rasa capek, ketika bermain-main dengan ular ini,” ungkapnya kepada Suara NTB.

Irwan berharap pemerintah memperhatikan serius keberadaan Pulau itu, karena setahunya, pulau yang didiami ular-ular ini, hanya ada di Desa Pai, tidak ada di tempat lain.

Irwan pun yakin tempat ini jika dikelola dengan baik bisa menjadi pusat wisata yang sangat diminati oleh wisatawan domestik bahkan di mancanegara.

“Tempat ini sangat langka bahkan bisa jadi satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Kalau pemerintah serius memperhatikan pulau ini, yakin saya akan mampu menyaingi Pulau Komodo yang sudah terkenal terlebih dahulu karena hidupnya di satu pulau juga, persis dengan pulau ular ini,” harapnya. (uki)