Mendorong Tumbuhnya Industri Kecil dan Menengah

Dompu (Suara NTB) – Pengenaan sarung tenun tradisional masyarakat suku Mbojo (Dompu dan Bima) kembali dicatatkan di museum rekor dunia Indonesia oleh masyarakat dan pemerintah Kabupaten Dompu. Pemecahan rekor ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tapi mendorong bangkitnya industri kecil menengah di tengah masyarakat.

Hal ini juga menunjukkan kesatuan dan persatuan masyarakat Dompu masih cukup tinggi. Karena upaya pencatatan rekor Muri, masing – masing warga secara sukarela mengadakan sendiri sarung Nggoli yang dikenakan dan perangkat lainnya. “Ini menunjukkan kebersamaan kita semua. Semangat ini, memindahkan gunung  Tambora sekali pun dapat kita lakukan,” tegas Bupati Dompu, Drs. H. Bambang M. Yasin pada event parade Katente dan Saremba Tembe, Sabtu, 1 April 2017 lalu.

Iklan

Pada event tarian massal saremba tembe di lapangan beringin Setda Dompu, dan parade katente dan saremba tembe dari Taman Kota menuju lapangan Karijawa, sebagian besar peserta mengenakan sarung baru dan diduga dibeli menjelang kegiatan. Rata – rata sarung nggoli dijual para pedagang Rp 200 ribu per lembar.

Ketika peserta mengenakan sarung baru, dengan jumlah peserta parade sebanyak 27.011 orang, maka akan ada 27.011 lembar sarung baru atau 54.022 lembar sarung nggoli. Bila diuangkan, ada sekitar Rp 10,804 miliar uang beredar menjelang tari serta parade budaya saremba dan katente.

Bagi wakil Ketua Komisi II DPRD Dompu, Abdullah, S.Kel mengungkapkan, semangat kontribusi dan pengorbanan masyarakat Dompu untuk geliat budaya dan identitasnya dalam mengenakan sarung nggoli harus diapresiasi oleh semua pihak. Namun semangat ini harus dijaga dan dilestarikan, sehingga tidak hanya menjadi event tahunan. Tapi harus dilestarikan dalam bentuk kebijakan oleh pemerintah daerah, seperti pakaian di hari kerja.

Dengan demikian, kerajinan tenun tetap dilestarikan dan terjaga pasarnya. Persoalan pasar inilah yang menyebabkan para pengrajin tenun nggoli di Dompu tidak banyak tumbuh seperti halnya di daerah lain. “Ketika dilestarikan, maka akan banyak pengrajin tenun nggoli di daerah,” katanya.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, H Ichtiar, SH terlihat gembira usai menerima piagam penghargaan dari Muri.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Dompu, H. Ichtiar, SH mengatakan, harapan agar budaya rimpu dan saremba maupun katente dilestarikan dalam pakaian seragam kerja patut diapresiasi. Pihaknya pun akan menkaji dan mendiskusikannya. Sehingga pada akhirnya dibuatkan peraturan Bupati yang akan diikuti oleh para pegawai.

“Saya akan berikan masukan ke Bupati tentang pakaian kerja khusus saremba dan rimpu,” ungkapnya, Minggu malam.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Dompu, Muhammad, ST, M.Si yang dihubungi terpisah, Senin, 3 April 2017 mengungkapkan, ada empat kelompok pengrajin tenun nggoli di Kabupaten Dompu yaitu di Saka Desa Mangge Asi, Ranggo, Wawonduru, dan Madaprama. Namun yang tetap intens dan tetap tersedia sarung tenunnya ada di Desa Mangge Asi dan Ranggo.

“Ini karena faktor kemampuan modal dan perajinnya juga,” jelasnya.

Diakui Muhammad, tenun Nggoli yang banyak digunakan para peserta tarian massal 1 April lalu didominasi oleh tenun yang didatangkan dari Bima. Karena produk dalam daerah belum mampu menyiapkan tenun sebanyak itu. Saat ini pihaknya membantu pengrajin tenun di Saka Desa Mangge Asi alat tenun bukan mesin (ATBM) sebanyak 10 unit. Alat ini akan mempercepat proses pengerjaan tenun, sehingga semakin mempercepat penyiapan kain tenun.

“Sekarang kita sedang melakukan pelatihan di showroom Saka Desa Mangge Asi. Karena pelatihan yang dilakukan beberapa waktu lalu belum cukup, sehingga ditambah waktu pelatihannya sekarang,” ungkapnya.

Muhammad juga mengakui, sejak bergulirnya peringatan dua abad meletusnya gunung Tambora dan menjadi momentum awal pelaksanaan festival pesona tambora (FPT) tahunan mendorong lahirnya industri kreatif di Dompu. Karena keterbatasan anggaran yang dimiliki, pendampingan dan pelatihan bagi industri kreatif masih mengandalkan pendanaan dari Provinsi.

“Tahun kemarin ada permintaan lima orang untuk desain, kita kirim mengikuti pelatihan yang diadakan di Provinsi,” katanya. (ula/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here