Menangani Penyebaran COVID-19 Berdasar Ilmu Pengetahuan

Wabup Sumbawa saat diambil sampel dahaknya dalam tes massal di Kantor Bupati Sumbawa, Sabtu, 16 Mei 2020.(Suara NTB/ist)

* Oleh Dr. Arief Budi Witarto, B.Eng., M.Eng.*

Belum lama ini, penemuan pasien positif COVID-19 melonjak di Kabupaten Sumbawa. Secara keseluruhan di Indonesia, untuk mencapai 10.000 pasien positif baru juga waktunya makin singkat. Dari 60 hari pada tanggal 30 April menjadi hanya 6 hari pada tanggal 9 Juli 2020. Tidak heran Pak Jokowi menyampaikan di media massa kalau puncak COVID-19 pada bulan Agustus-September 2020 ini. Dalam tulisan ini kami menguraikan cara menangani COVID-19 dari sisi Lab Pemeriksa.

Iklan

Surveilens

Rezim pemeriksaan RT-PCR sekarang cenderung pasif. Menunggu orang datang ke RS (PDP/ODP), kemudian dari yang positif baru dilakukan contact tracing. Di awal wabah bulan April-Mei, upaya pemeriksaan menyeluruh untuk klaster giat dilakukan seperti klaster Gowa, Temboro, dll. Tapi masuk bulan Juni 2020, data pemeriksaan rujukan dari 7 RSUD se-Pulau Sumbawa, jumlahnya menurun 50%. Pada bulan April, 16 sampel/hari, ke 42 sampel/hari di bulan Mei lalu turun 28 sampel/hari di bulan Juni 2020. Kami menduga karena sudah memasuki masa “normal baru”, juga telah habisnya hasil contact tracing dari klaster sebelumnya, maka upaya proaktif mencari suspect, berkurang. Hal ini tentu mengkhawatirkan karena mayoritas pasien positif adalah OTG (> 50%).

Oleh karena itu, memasuki bulan Juli 2020, Lab kami yang juga menjadi anggota Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Sumbawa, mengusulkan kegiatan proaktif melakukan swab RT-PCR masif di pasar-pasar. Sampai saat ini kami sudah memeriksa 8 pasar utama di Kab Sumbawa dari Kecamatan Alas di Barat sampai Kecamatan Empang di Timur. Pemeriksaan di minggu pertama, semua pedagang pasar yang secara sukarela di-swab semua negatif. Dua minggu kemudian, secara mengejutkan kami mendapat 10 pasien positif dari 150 pedagang dan petugas pasar di 3 pasar utama. Dari temuan ini kemudian dilakukan swab RT-PCR untuk mayoritas pedagang pasar tersebut. Untungnya kami hanya mendapat 1 positif baru saja. Sampai saat ini 542 pedagang dan petugas pasar sudah diperiksa swab RT-PCR dengan kasus positif 11 orang (2%).

Apakah temuan ini menakutkan? Upaya berikutnya adalah kerjasama kami dengan KPUD Kab Sumbawa dan PEMDA Kab Sumbawa untuk melakukan pemeriksaan kepada Anggota KPUD dan PPDK (Pengawas PEMILU Desa dan Kelurahan). Dari total 1.012 orang yang diperiksa, temuan positif adalah 0. Mereka yang diperiksa sudah mewakili seluruh Kelurahan dan Desa sehingga bisa memberikan gambaran kondisi keseluruhan Kabupaten Sumbawa yang bisa disimpulkan masih aman. Dengan pemeriksaan masif, kombinasi rujukan RSUD program Provinsi dan upaya mandiri Kab Sumbawa, jumlah total pemeriksaan sudah mencapai 3,5 orang/1.000 penduduk (tertinggi se-P Sumbawa), melampaui rata-rata Nasional 2,8 orang/1.000 penduduk.

Tapi untuk mendapatkan gambaran yang lengkap, perlu melakukan pemeriksaan terhadap seluruh penduduk Kab Sumbawa dengan metode yang direkomendasi WHO (Buku, “Sampel Size Determination in Health Studies. A Practical Manual”, oleh S.K. Lwanga & S. Lemeshow, 1991). Metode ini seperti quick count dalam PEMILU, sampling acak terhadap populasi. Menggunakan tingkat kepercayaan 95%, margin error 5%, perkiraan kasus aktif 1-5% (paling moderat), jumlah orang yang perlu diperiksa untuk Kab Sumbawa “hanya” 1.496 orang. Kami sebut “hanya” karena dengan pengalaman pemeriksaan anggota KPUD > 1.000 orang, semua bisa diselesaikan dalam 2 minggu. Dengan data yang diperoleh, Pimpinan Daerah dapat punya pegangan akurat tentang positive rate dan kondisi real di lapangan, tanpa mengada-ada.

Swab RT-PCR

Bagaimana kami bisa melakukan pemeriksaan RT-PCR dalam jumlah besar dengan waktu singkat? Metode yang kami gunakan adalah pool-test. Pada tanggal 15 Mei 2020, kami sudah melakukan ujicoba terhadap 150 orang di Kecamatan Sumbawa dengan hasil semua negatif. Pada tanggal 1 Juni 2020, Pemerintah Kota Wuhan, China melakukan pemeriksaan swab RT-PCR untuk 9 juta penduduknya dalam waktu 2 minggu dengan metode pool test juga. 300 orang ditemukan positif (0,003%). Jadi metode ini sudah lazim digunakan.

Dalam metode ini, 10 cairan swab dari 10 orang, digabung menjadi 1, lalu diekstrak RNA-nya sebagai 1 kesatuan, kemudian diperiksa RT-PCR. Bila mendapatkan sinyal positif, maka cairan swab asal, diekstrak satu-persatu, lalu dilakukan RT-PCR juga satu-persatu. Dengan demikian, individu yang positif dapat dipastikan secara pasti. Sinyal RT-PCR yang kuat dari pengalaman kami terhadap sampel di P Sumbawa, masih tetap bisa dideteksi walau konsentrasi terdilusi sampai maksimal 1/10.

Metode ini bisa menggantikan metode yang selama ini digunakan untuk skrining yaitu Rapid Test. Dari pemeriksaan rutin di Lab kami, false-positive (positif palsu) untuk hasil reaktif rapid test bisa mencapai 80%. Kasus SECAPA TNI-AD tanggal 11 Juli 2020 adalah bukti pertama di Indonesia yang menunjukkan false-negative (negatif palsu). Dari sekitar 1.400 orang, 87% non-reaktif rapid test, tapi hasil RT-PCR, 91% positif. Jadi minimal ada 78% negatif palsu. Angka yang sangat tinggi. Biaya pemeriksaan rapid-test setara dengan swab RT-PCR metode pool test sekitar Rp. 300 ribu/pemeriksaan. Jadi salah satu penghematan biaya APBD adalah menghapus pengeluaran pengadaan rapid test dan menggantikan untuk penguatan metode pemeriksaan swab RT-PCR pool test. Lab kami mampu melakukan pemeriksaan 1.000 sampel/hari, meningkat dari 100 sampel/hari.

Super Spreader

Salah satu perkembangan yang perlu diwaspadai adalah munculnya super spreader. Dalam publikasi ilmiah di Amerika, dan bukti lapangan di Israel dan Hongkong, dibuktikan ada individu yang bisa menularkan ke > 5 orang. Mereka ini disebut “super spreader”. Individu ini sudah pasti OTG, penampilan sehat, tapi jumlah partikel virus/viral load di dalam tubuhnya tinggi. Sehingga lewat dropletnya jumlah virus yang ditularkan sangat mudah berpindah. Untuk gambaran, ketika normal baru akan diterapkan, indikator yang digunakan Pemerintah adalah Rt <1, yaitu 1 orang positif menularkan ke < 1 orang, baru kondisi disebut normal dengan penerapan protokol COVID-19 (menggunakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak).

Setelah memeriksa > 3.000 sampel sejak April 2020, bulan Juli 2020, pertama kali Lab Genetik Sumbawa Technopark menemukan pasien positif dengan Ct 20. Sebelumnya, pasien positif di P Sumbawa Ct-nya berkisar 35. Ct > 40 menunjukkan pasien negatif/sembuh karena jumlah partikel virusnya tidak terdeteksi. Berdasar penelitian kami membuat kurva standar menggunakan reagen pemeriksaan yang dibuat sendiri, Ct 35-an sama dengan jumlah partikel 10-an ribu/ml cairan. Pada level ini, kemungkinan menularkan ke orang lain, kecil, kecuali kontak sangat erat seperti anggota keluarga. Tapi pada Ct 20-an, jumlah partikel virus bisa mencapai 1-10 juta partikel/ml. Gambarannya dengan interaksi singkat saja, bisa menularkan ke banyak orang. Ada 3 orang yang ditemukan punya potensi seperti itu di Kab Sumbawa. Hasil contact tracing, ada 15 orang positif baru yang diduga tertular dari 1 orang pasien positif di salah satu Kecamatan di Kab Sumbawa. Walau demikian, 10 pedagang pasar, 15 orang kontak erat tersebut, semua OTG. Ini menggembirakan sebab ketika 1 orang terinfeksi dari 2 orang atau lebih, penderita baru ini langsung mendapat paparan virus jumlah besar. Inilah yang berpotensi menyebabkan sakit parah dengan potensi meninggal seperti di lihat di Surabaya, Italia dll, tanpa perlu memiliki penyakit bawaan.

Kesimpulan

Temuan baru positif yang banyak, bisa jadi menyakitkan di awal. Tapi seperti obat yang rasanya pahit, temuan karena upaya serius melakukan pemeriksaan adalah awal yang baik untuk pencegahan ke depan. Contoh di Kab Sumbawa semoga bisa dilakukan juga di Kab/Kota se-NTB. Pasar tradisional, kantor, sebagai tempat-tempat rentan penularan. Lalu surveilens ke seluruh penduduk (semacam quick count untuk PEMILU), akan memberikan gambaran yang jelas dan akurat posisi kita. Provinsi Sumatera Barat sudah melakukan lebih dahulu dan berhasil. Sehingga berikutnya tinggal kemauan kita menerapkan ilmu pengetahuan sebagai panglima dalam menangani COVID-19.

*Penulis adalah Direktur Sumbawa Technopark – Lab Rujukan Pemeriksa Swab RTPCR untuk Pulau Sumbawa.

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian dari tanggung jawab redaksi suarantb.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here