Memprihatinkan, Pantai Belongsong Jadi Tempat Penampungan Sampah

Kondisi Pantai Belongsong Desa Kidang dipenuhi sampah, khususnya sampah plastik.  (Suara NTB/kir)

Praya (Suara NTB) – Kondisi Pantai Belongsong Desa Kidang Kecamatan Praya Timur Lombok Tengah (Loteng) cukup memprihatinkan. Berada dekat dengan muara sungai, kawasan pantai yang cukup indah ini kini justru dipenuhi sampah. Terutama sampah-sampah plastik yang diduga berasal wilayah hulu.

Pantauan Suara NTB, Senin, 26 Oktober 2020, menunjukkan sampah berserakan di sepanjang kawasan pantai berpasir putih tersebut dengan sampah plastik yang paling mendominasi.

Iklan

Menurut warga setempat, sampah-sampah tersebut bukanlah sampah dari warga sekitar.  Pasalnya, di sekitar kawasan pantai hanya beberapa kepala keluarga (KK) saja yang menetap di wilayah pantai tersebut. Di situ juga ada dermaga kecil yang digunakan oleh nelayan setempat sebagai tempat menambatkan perahu.

“Kalau kita melihat, sampah-sampah ini bukan berasal dari warga sekitar. Walaupun ada, tapi tidak terlalu banyak,” ungkap Kepala Kesatuan Pengelolan Hutan (KPH) Pelanggan Tastura, Burhanuddin, usai penanaman mangrove di kawasan pantai di ujung timur Loteng tersebut.

Menurutnya sampah tersebut kemungkinan berada dari wilayah hulu, karena di dekat Pantai Belongsong ada muara sungai besar yang mengalir dari wilayah Praya Timur.

Melihat kondisi sampah yang cukup banyak tersebut, jelas butuh penanganan serius. Tidak bisa hanya dengan mengandalkan masyarakat apalagi dengan penanganan secara manual. Harus menggunakan alat berat. Baru kawasan pantai tersebut bisa dibersihkan dari tumpukan sampah yang begitu banyak.

Tidak kalah penting, penanganan sampah diwilayah hulu juga harus dilakukan. Dengan mengurangi aktivitas buang sampah di sungai, karena bagaimanapun sering kawasan pantai dibersihkan, tetap saja akan kotor kalau sampah di wilayah hulunya tidak ditangani. “Ibaratnya kalau pantai hanya akan jadi tempat penampungan sampai. Kalau sampah dari hulu tidak ditangani,” terangnya.

Burhanuddin mengatakan, laut memiliki mekanisme untuk membersihkan diri. Jika ada sampah yang masuk ke laut, secara perlahan akan dibawah kembali ke pantai oleh ombak. Kecuali kalau sampah-sampah berat seperti botol kaca, itu akan mengendap di dasar laut. Imbasnya, jelas akan merusak  ekosistem laut itu sendiri.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Duta Lingkungan NTB, L. Sopyan Ardi, mengaku prihatin dengan kondisi pantai tersebut. Karena terkesan kurang diperhatikan. Itu bisa dilihat dari banyak sampah yang seolah dibiarkan tanpa ada penanganan.   (kir)