Memetik Hari di Arena Baku Tembak

Mataram (Suara NTB) – Seiring perkembangan zaman, aktifitas menembak telah menjadi hobi yang digandrungi banyak orang. Keterampilan menembak tidak hanya menjadi kemampuan pasukan kesatuan baik TNI maupun Polri, namun keahlian tersebut dimiliki individu dari kalangan sipil. Tak terkecuali bagi orang – orang yang tergabung dalam Komunitas Carpe Diem Souljas Community (CDSC) dan Wira Bhakti Airsoft Club (WBAC).

Keduanya sama – sama komunitas pecinta airsoft gun. Bagi mereka, insiden kontak unit di dalam arena baku tembak merupakan permainan yang menyenangkan. Permainan airsoft gun adalah olahraga yang cukup menantang untuk saling beradu keterampilan memainkan unit (istilah untuk senjata airsoft gun), melumpuhkan musuh untuk menyelesaikan suatu misi dan memacu adrenalin melalui keterlibatan di arena baku tembak.

“Carpe Diem itu merupakan istilah dalam bahasa latin yang artinya petiklah hari. Maksudnya, kita harus menikmati setiap waktu yang kita punya. Kita menikmati waktu dengan hobi yang kita punya yakni dengan airsoft gun,” tutur Dwi Aquareza Ketua CDSC saat diwawancara, Jumat, 16 September 2016 lalu.

Salah satu jenis unit atau replika senjata yang dipamerkan Komunitas CDSC di LCC.

Bermain airsoft telah menjadi rutinitasnya sehari – hari. Selain untuk mengisi waktu luang, rutinitas yang dilakukannya juga menjadi ajang untuk melatih keterampilan menembak. Sebab, permainan yang digandrungi oleh kumunitas yang bernaung dibawah Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) dan Federasi Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi) ini akan segera menjadi Cabang Olahraga (Cabor). Setelah ditetapkan menjadi cabor, permainan ini tentunya akan menjadi kompetisi yang dipertandingkan.

“Tugas kami sebagai komunitas yakni mengedukasi publik dengan menyebarkan pemahaman tentang apa itu airsoft gun. Permainan ini bukan sesuatu hal yang berbahaya, namun tetap harus mengedepankan pengaman,” jelasnya.

Ketua CDSC yang akrab disapa Enchoz ini mengatakan, airsoft gun merupakan replika senjata api yang memiliki daya ledak dibawah 600 FPS (satuan daya tembak unit airsoft gun). Jarak ideal daya tembak replika senjata api tersebut mencapai 15 – 20 meter dengan peluru plastik. Peluru yang digunakan berdiameter 6 mm dengan bobot berkisar antara 0,2 hingga 0,25 gram.

“Jadi aman kalau pun ditembakkan ke badan. Kalau yang daya tembaknya diatas 600 FPS itu klasifikasinya sudah lari ke senapan angin atau air gun. Dan itu tidak layak ditembakkan ke badan manusia atau tubuh hewan maupun benda – benda yang berpotensi mengalami kerusakan,” ujarnya.

Senjata air gun tidak layak ditembakkan ke area badan karena sifatnya dapat melukai. Dampak yang dapat ditimbulkannya jauh lebih tinggi ketimbang unit air soft gun sendiri. Itulah sebabnya, permainan airsoft gun telah mendapat legalitas, sementara air gun tetap dilarang atau tidak diperkenankan jadi permainan.

Keterampilan Menembak

Permainan airsoft gun menjadi ajang mengasah keterampilan menembak. Permainan tersebut juga menjadi sarana menguji nyali, melatih kemampuan berfikir jernih ketika melakukan pergerakan yang bersifat reaksi cepat. Permainan airsoft bisa diwujudkan dalam suatu simulasi tempur, operasi penyergapan serta misi penyelamatan sandera. Itulah sebabnya, tiap – tiap airsofter (sebutan para pemain airsoft) dituntut memiliki kejelian, terutama dalam menjalankan strategi penyerangan demi melumpuhkan kekuatan lawan.

“Simulasi tempur yang biasa kita lakukan ada yang disebut three on three atau five on five. Itu maksudnya pertempuran tiga orang airsofter melawan tiga musuh, dan biasanya kalau yang out door kita menerapkan lima lawan lima,” kata Enzho.

Simulasi Tempur

Oleh karena permainan yang satu ini akan menjadi cabang olahraga, tiap – tiap komunitas terus berlatih sehingga kualitas permainan mereka tetap meningkat. Meski belum dipertandingkan dalam bentuk cabang olahraga, permainan ini sering dipertandingkan dalam kompetisi yang berbentuk event.

“Kita latihan biasanya dua kali dalam seminggu untuk meningkatkan kemampuan. Sebab, game ini juga sering dipertandingkan dalam kompetisi yang berbentuk event. Seperti pengalaman kami, CDSC pernah meraih juara satu di Jawa Barat,” ujarnya.

Strategi peningkatan kemampuan, utamanya skil menembak telah dirancang sedemikian rupa. Setiap individu yang tergabung dalam komunitas airsoft diwajibkan untuk mengedepankan aspek kedisiplinan. Para anggota komunitas utamanya CDSC diharuskan mematuhi aturan yang tertuang sebagai kode etik dalam Anggaran Dasar dan Aturan Rumah Tangga (AD-ART).

Dalam kode etik tersebut juga diatur mengenai bagaimana masing – masing pemilik replika senjata memperlakukan unitnya masing – masing. Setiap unit airsoft benar – benar harus diperlakukan seperti memelihara senjata api. Seorang airsofter sejati tidak diperkenankan menodongkan unitnya kearah wajah atau badan yang berpotensi berdampak buruk, artinya dapat menimbulkan dampak yang merugikan atau menyakiti orang lain diluar arena permainan.

hunting

Komunitas CDSC ketika bertanding dalam event airsoft yang terselenggara di Mako Kostrad Magelang Jawa Tengah, belum lama ini.

“Meskipun unit ini hanya replika, tetap kita harus memperlakukannya seperti senjata api. Tidak boleh ditembakkan kearah sembarangan yang ujungnya dapat menimbulkan dampak kerusakan. Memang selama ini belum ada semacam surat izin kepemilikan unit yang diberikan untuk masing – masing pemilik replika senjata ini,” jelasnya.

Meski begitu, status kepemilikan unit yang dipegang oleh masing – masing airsofter berada dibawah kontrol Aparat Keamanan dan Aparat Penegak Hukum (TNI-Polri). Tiap – tiap airsofter yang memiliki unit wajib melaporkan status kepemilikan alat permainan tersebut kepada badan intelijen dan keamanan.

“Komunitas kami bernaung dibawah perlindungan Perbakin, TNI dan Polri. Dimana perbakin memang telah menjadi lembaga resmi yang berada dibawah KONI. Jadi seluruh aktifitas dan kegiatan kami selalu berada dibawah pantauan aparat. Fungsi kontrol ditegakkan untuk mencegah terjadinya penyimpangan – penyimpangan, utamanya penyalahgunaan unit,” tandasnya.

Jadi Paket Wisata

Permainan airsoft gun pada dasarnya sudah lama menjadi paket wisata rekreasi adrenalin. Para pecinta airsoft gun khususnya di Kota Mataram ini berpendapat, Gedung Bekas Rumah Sakit Umum Daerah (Eks RSUD) Provinsi sangat layak dijadikan wahana rekreasi airsoft gun. Gedung yang sudah tidak dihuni itu cocok untuk dijadikan medan simulasi tempur masing – masing grup airsofter.

Penilaian diatas muncul lantaran para pemain airsoft dari komunitas CDSC sering menggelar latihan di tempat itu. Menurut mereka, gedung tersebut hanya membutuhkan sentuhan upaya pengelolaan, bila pihak – pihak yang memiliki kewenangan berkenan memanfaatkan aset daerah tersebut.

“Kami sering latihan di eks RSUD. Dan ternyata menurut kami bekas gedung rumah sakit tersebut sangat layak kalau mau dijadikan wahana rekreasi airsoft,” kata Enzho Ketua CDSC sebelumnya.

penembak

Beberapa anggota CDSC berpose saat mengikuti Pesta Komunitas Lombok di Lombok City Center (LCC), 15 -18 september 2016.

Wacana pemanfataan olahraga airsoft untuk menjadi sarana rekreasi juga timbul dari kalangan komunitas WBAC yang bernaung dibawah perlindungan Korem 162 WB dan Forum Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (Formi). Komunitas yang telah resmi dan tergabung dalam Federasi Airsof Indonesia (FAI) ini telah dua kali menyelenggarakan event kompetisi airsoft. Kedua event berskala nasional yang terselenggara di Objek Pariwisata Senggigi, Kabupaten Lombok Barat, itu benar – benar menyedot perhatian wisatawan. Tak heran, banyak wisatawan domestik menjadi tertarik untuk mendatangi daerah ini dengan kepentingan mengikuti kompetisi.

“Ada juga yang datang bersama rombongan keluarga untuk menyaksikan pertandingan. Kami melihat ini potensi yang dapat dikembangkan dan dijadikan produk yang ditawarkan menjadi paket wisata di daerah ini,” kata Islahudin, SIP Ketua Umum WBAC ketika ditanya beberapa waktu kemarin.

Dengan demikian, hobi yang mulai digandrungi banyak kalangan ini dapat dijadikan alat untuk mendongkrak angka kunjungan wisatawan. Olahraga airsoft masuk dalam klasifikasi out bound laiknya flying fox, refting, rivertubing dan beberapa jenis olahraga pemacu adrenalin lainnya.

“Olahraga menembak ini kan membantu kita untuk memacu adrenalin. Berpacu dalam kompetisi simulasi tempur dengan misi – misi tertentu. Jadi kita tergerak untuk bereaksi secepat mungkin sambil menguatkan soliditas untuk sebuah ketahanan,” katanya.

Olahraga airsoft dapat menjadi paket wisata petualangan yang menyenangkan. Di NTB telah tersedia sejumlah kawasan yang berpotensi ditetapkan menjadi lokasi rekreasinya. Risiko dari dampak yang berpotensi muncul dari permainan ini tidak patut menjadi bahan yang dikhawatirkan. Sepanjang para pemain mengedepankan aspek keamanan, tidak aka nada dampak fatal yang akan ditimbulkan.

“Standar keamanan yang utama itu pertama ialah kacamata pelindung. Sebab, mata merupakan bagian paling vital. Kedua, kita harus tetap menggunakan rompi, celana panjang topi dan masker. Itu saja yang paling wajib dikedepankan,” kata Agus Imam Santoso, Wakil Ketua WBAC disela – sela berlatih menembak di Arena Airsfot yang terletak di Meninting, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat.

Dalam permainan airsoft, para airsofter harus mengutamakan aspek sportifitas. Setiap pemain yang terkena peluru (Ball Biring/Ball Balet) wajib menyatakan hit untuk menandakan dirinya kalah. Setiap anggota tim yang telah terkena, secara kooperatif mengeluarkan diri dari arena simulasi tempur.

“Kalau sudah mengatakan hit, mengangkat senjata maka tidak boleh ditembaki lagi. Begitu juga, ketika pemain yang bersangkutan sudah hit, maka dia tidak boleh lagi untuk menembak lawan. Dalam setiap permainan, ada juri yang mengawasi. Mereka memantau pergerakan dua kubu yang sedang bertanding,” tandasnya. (met)