Membangun Sumbawa dari Desa, Perkuat Konsistensi dan Sinergi di Setiap Lini

0
H. Iswandi, H. Agus Talino, Rachman Ansori, Junaidi, Wirawan. (Suara NTB/why)

Mataram (Suara NTB) – Perencanaan pembangunan Kabupaten Sumbawa termasuk paling sinergi dengan perencanaan pembangunan Pemprov NTB. Kabupaten Sumbawa menginisiasi pembangunan dari desa untuk mewujudkan visi Sumbawa Gemilang dan Berkeadaban. Untuk mewujudkan visi yang selaras dengan NTB Gemilang tersebut dibutuhkan konsistensi perencanaan dan implementasinya di setiap lini.

Demikian benang merah diskusi terbatas Harian Suara NTB dengan tema “Membangun Sumbawa dari Desa” di Redaksi Harian Suara NTB, Selasa, 30 November 2021. Diskusi menghadirkan sejumlah penentu kebijakan di Pemkab Sumbawa dan Provinsi NTB dan dipandu oleh Penanggung Jawab Harian Suara NTB, H. Agus Talino.

IKLAN

Dalam diskusi tersebut, Kepala Bappeda Sumbawa, Ir. H. Junaidi, M.Si menjelaskan Pemda memulai pembangunan berdasarkan pendekatan perencanaan. Dari sisi dokumen perencanaan pembangunan, Bappeda berusaha maksimal menyinergikan perencanaan tingkat nasional, provinsi dan kabupaten bahkan sampai desa.

“Permasalahannya di tataran implementasinya. Sumbawa mencoba mengoptimalkan dokumen perencanaan yang dimiliki diimplementasikan dengan baik. Agar output atau hasil yang diharapkan sesuai dengan rencana,” kata Junaidi.

Namun antara dokumen perencanaan dengan implementasinya masih ada gap. Menurutnya, masih ada yang kurang maksimal dalam tataran  koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi dari program/kegiatan baik dari tingkat pusat, provinsi dan kabupaten sampai tingkat desa.

Sumbawa melihat pembangunan dari tingkat desa harus diperkuat. Hal ini untuk mencegah arus urbanisasi masyarakat desa ke kota. Sumbawa menginginkan desa sebagai pemerintahan terkecil menjadi semakin kuat. Jika desa kuat, maka kabupaten dan provinsi juga akan kuat.

Pemprov dengan visi NTB Gemilang dan Sumbawa dengan visi Sumbawa Gemilang dan Berkeadaban sudah sangat sinergi dari sisi perencanaan. Karena sejak awal, kata Junaidi, Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa membuat visi dan misi disinkronkan dengan Pemprov NTB. Sehingga RPJMD Sumbawa betul-betul selaras dengan RPJMD NTB.

Junaidi menyebutkan banyak program/kegiatan yang dimulai dari desa di Sumbawa. Seperti Program Desa Pesisir, Desa Wisata, Desa Berdinar, Kampung KB. Namun ia mengatakan masih ada ketidakkonsistenan dari sisi implementasi. “Penting ke depan dengan dokumen perencanaan yang kita miliki dan implementasinya bisa sinkron. Jangan sampai nanti apa yang direncanakan provinsi, kabupaten sampai tingkat desa tidak ada implementasinya,” katanya.

Menurut Junaidi, potensi sumber daya ada di desa. Tinggal sekarang bagaimana sentuhan program/kegiatan, kebijakan dan komitmen dari tingkat provinsi dengan kabupaten tetap mengikuti dokumen perencanaan yang telah dibuat.

“Ketika potensi yang ada di desa diungkit bersama saya pikir pembangunannya tidak terlalu sulit. Oleh karena itu, kami berharap tahun 2022, kita mulai merangkak bagaimana semangat mulai membangun lagi,” ajaknya.

Dengan inisiasi Membangun Sumbawa dari Desa, diharapkan bisa menjadi kekuatan di NTB. Pemprov NTB sendiri, kata Junaidi telah menetapkan 100 desa termiskin yang fokus diintervensi untuk mewujudkan NTB Mandiri dan Sejahtera. Yaitu, mempercepat penurunan angka kemiskinan, peningkatan nilai tambah industri dan pariwisata.

Disebutkan, produk domestik regional bruto (PDRB) Provinsi NTB dan Sumbawa masih dominan disumbang sektor pertanian di atas 40 persen. “Nilai tambah sektor pertanian yang kita harapkan dengan adanya pengembangan sektor pariwisata dan industri,” tandasnya.

Desa GERA

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Sumbawa, Rachman Ansori, S.Sos, M.Se mengatakan seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan Pemda pasti lokusnya di desa. Sehingga sangat wajar ketika Pemda ingin mewujudkan cita-cita yang besar harus dimulai dari cita-cita yang kecil. Yaitu visi NTB Gemilang dan Sumbawa Gemilang dan Berkeadaban (GERA).

DPMD Sumbawa kemudian memformulasikan bagaimana mewujudkan Sumbawa Gemilang dan Berkeadaban. Sehingga DPMD bersama Kepala Desa membangun spirit yaitu Sumbawa GERA (Gemilang Berkeadaban).

“Desa GERA itu entitas untuk mewujudkan Sumbawa Gemilang dan Berkeadaban. Oleh karena itu membangun Sumbawa dari desa merupakan bagian dari print out awal untuk menjawab tagline yang beredar, Sumbawa Dapat Apa?,” jelas Rahman.

Dijelaskan, desa-desa di Sumbawa mulai menggeliat dan menampakkan dirinya menjadi sebuah entitas. Ada Desa Berkemajuan Berkebudayaan.  Kemudian Desa Bersinar yang ditetapkan BNN sebanyak tiga, yaitu Desa Labuhan Burung, Labuhan Sumbawa dan Batutering.

Ada juga 10 Desa Cerdas yang ditetapkan Kemendes PDTT. Kemudian 40 desa wisata ditetapkan oleh Bupati Sumbawa, 9 desa wisata diantaranya telah ditetapkan sebagai desa wisata oleh Pemprov NTB.

Selanjutnya, Desa Industri dikembangkan secara mandiri yang dibina Diskoperindag. Produk yang dihasilkan Desa Industri tersebut telah berpartisipasi di gelaran World Superbike (WSBK) Mandalika, 19 – 21 November lalu.

“Kita berharap branding-branding desa yang sudah terbentuk dengan semangat kearifan lokalnya menjadi sebuah entitas yang bisa membentuk NTB Gemilang,” harapnya.

Rahman mengungkapkan desa wisata yang ditetapkan Pemprov NTB di Kabupaten Sumbawa butuh pembenahan infrastruktur seperti jalan. Karena infrastrukturnya masih kurang bagus. Jika ada wisatawan yang berkunjung ke sana pasti akan berpikir untuk kembali lagi. Karena dia akan berhadapan dengan medan yang aksesnya masih sulit.

“Itu tak hanya bisa dilakukan hanya berbekal dana desa. Apalagi dua tahun ini dana desa jor-joran untuk BLT hampir 60 persen. Sehingga sinergitas menjadi sangat penting,” sarannya.

Pusat Pertumbuhan

Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, Infrastruktur dan Pembangunan Setda NTB, H. Wirawan menjelaskan, cara paling efektif mencegah ketimpangan adalah memperbanyak pusat-pusat pertumbuhan berbasis desa. Sehingga, menurutnya,  inisiasi membangun Sumbawa Gemilang dari desa sangat tepat.

Dengan membangun dari desa, pemerataan pembangunan wilayah bisa dicapai. Ada beberapa peran Pemprov NTB dan Pemkab Sumbawa terkait dengan program membangun dari desa.

Yaitu, fasilitasi dari aspek sumber daya manusia (SDM) dengan meningkatkan kompetensi masyarakat desa. Ketika masyarakat desa kompeten maka partisipasi dan inovasi mereka akan meningkat. Yaitu, inovasi dalam mendukung program-program Pemprov NTB dan kabupaten Sumbawa.

Partisipasi masyarakat dalam semua tahapan pembangunan yang bersifat siklus. Dari tahap perencanaan sampai implementasi, masyarakat terlibat. “Tetapi kadang-kadang masyarakat terlibat dalam proses perencanaan di musrenbang. Tetapi dalam proses pelaksanaannya, partisipasi masyarakat dalam program-program desa sedikit,” ucapnya.

Aspek berikutnya,  kata Wirawan, fasilitasi kelembagaan masyarakat desa. Sumber daya yang dimiliki desa sangat kuat melalui APBDes. Sumber daya yang begitu besar tersebut harus disertai dengan petunjuk penggunaan agar APBDes tetap berjalan dalam mencapai prioritas nasional, provinsi, dan kabupaten yang dikawal dalam proses asistensi APBDes.

Aspek lainnya adalah fasilitasi pengembangan wilayah. Sektor unggulan dan potensi masing-masing desa harus bisa dipetakan. Ketika sektor unggulan masing-masing desa ditemukan maka itulah yang menjadi penggerak ekonomi di desa.

Selain fungsi fasilitasi, paling penting adalah fungsi sinergi untuk mencapai tujuan. Misal ada konsep Desa Gemilang. Potret ideal tentang sebuah desa yang diatur secara internasional yang dikenal Sustainable Development Goals (SDGs) Desa.

Ada 18 indikator SDGs Desa. Yaitu Desa tanpa kemiskinan, Desa tanpa kelaparan, Desa sehat dan sejahtera, Pendidikan desa berkualitas, Desa berkesetaraan gender, Desa layak air bersih dan sanitasi, Desa yang berenergi bersih dan terbarukan, Pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi desa, Inovasi dan infrastruktur desa.

Kemudian Desa tanpa kesenjangan, Kawasan pemukiman desa berkelanjutan, Konsumsi dan produksi desa yang sadar lingkungan, Pengendalian dan perubahan iklim oleh desa, Ekosistem laut desa, Ekosistem daratan desa, Desa damai dan berkeadilan, Kemitraan untuk pembangunan desa dan Kelembagaan desa dinamis dan budaya desa adaptif.

“Bagaimana mengkonkretkan 18 indikator SDGs Desa ke dalam perencanaan masing-masing harus jelas ketika berbicara Desa Gemilang. Tinggal masing-masing desa fokusnya dimana. Karena tak mungkin mengakomodir semuanya,” katanya.

Wirawan menambahkan Pemprov dan Pemda kabupaten bisa memberikan intervensi dalam bentuk bantuan keuangan bersifat khusus kepada desa. Program-program yang diintervensi sejatinya kewenangan desa tetapi menyangkut prioritas provinsi atau kabupaten.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya kolaborasi dalam pembangunan di desa. Tidak hanya pemerintah yang bergerak. Tetapi juga masyarakat, komunitas masyarakat, media, termasuk diaspora.

Satu Hati

Kepala Bappeda NTB, Dr. H. Iswandi,  M.Si, mengatakan NTB yang Gemilang tak bisa diwujudkan dengan baik jika setiap kabupaten/kota tidak gemilang.

Oleh karena itu, mulai 2022, Pemprov NTB mengkonkretkan langkah-langkah mewujudkan NTB Gemilang melalui perwujudan Desa Gemilang. NTB Gemilang diwujudkan melalui pembangunan Desa Gemilang. Sehingga sangat relevan dengan tema diskusi ”Membangun Sumbawa Gemilang dari Desa”.

“Pemprov NTB dengan Sumbawa betul-betul satu hati. Kita ini sudah ada kemajuan yang luar biasa dengan adanya Sirkuit Mandalika,” ujar Iswandi.

Lalu apa yang harus diperbuat dengan adanya Sirkuit  Mandalika. Supaya masyarakat NTB tidak menjadi penonton. Tiga bulan ke depan,  NTB akan menjadi tuan rumah MotoGP 2022.

“Semua kabupaten/kota harus berpikir apa yang akan kita kerjakan untuk kesejahteraan masyarakat. Bukan kita bertanya bisa dapat tiket gratis atau tidak,” katanya.

Sekarang, kata Iswandi, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menjadi lokomotif pertumbuhan kawasan Lombok dan Sumbawa, juga kawasan regional Bali dan Nusa Tenggara untuk memulihkan pariwisata nasional. Inilah yang menjadi  dasar dibangunnya Mandalika menjadi destinasi super prioritas.

“Tugas kita adalah menyiapkan masyarakat untuk bekerja. Kita harus bisa jadikan Mandalika sebagai semangat baru mempercepat penurunan kemiskinan di NTB,” kata Iswandi.

Menurutnya, penurunan kemiskinan bisa dipercepat jika semuanya berbasis  desa yaitu menggunakan Sistem Informasi Desa sebagai basis pembangunan. Semua program di desa harus berbasis data yang valid, akurat, dan mutakhir.

“Lokusnya didekatkan kepada masyarakat baru ini akan efektif. Ini yang akan menjadi strategi dalam percepatan penurunan angka kemiskinan,” imbuhnya.

Sebanyak 1.005 desa di NTB didorong mengimplementasikan Sistem Informasi Desa secara luas dan menjadi basis perencanaan. Pemprov NTB menargetkan persentase kemiskinan turun menjadi 11 persen tahun 2023 mendatang. Namun beroperasinya KEK Mandalika dengan keberadaan sirkuitnya yang akan menggelar sejumlah event balap internasional, angka kemiskinan diharapkan bisa turun di bawah 10 persen atau satu digit.

Pemprov juga berharap pendapatan perkapita penduduk tidak terlalu senjang dengan Bali maupun secara nasional. Saat ini, pendapatan perkapita penduduk NTB masih berada di posisi sepertiga dari pendapatan perkapita penduduk Bali. Pendapatan perkapita penduduk NTB sekitar Rp20 juta setahun. Sedangkan di Bali sudah di atas Rp50 jutaan. “Target kunjungan wisatawan harus digenjot lagi. Dengan adanya Mandalika ditargetkan tumbuh 6,1 persen lebih pertahun. Diharapkan meningkatkan pendapatan per kapita dua sampai tiga kali lipat dari sekarang,” ujarnya.

Sehingga pendapatan perkapita penduduk NTB bisa mendekati provinsi Bali dan tidak terlalu senjang dengan pendapatan per kapita secara  nasional. Intuk itu, kata Iswandi, peningkatan pendapatan perkapita menjadi indikator utama dalam RPJMD NTB 2019 – 2023.

“Jadi ukurannya adalah tidak hanya naik berapa persen. Tapi coba dibandingkan antar kabupaten/kota. Jangan sampai Sumbawa kalah dengan Dompu atau KSB. Selain naik, dia mendekati, tidak terlalu jauh perbedaannya dengan berbagai kabupaten/kota di NTB. Sumbawa bisa menjadi lokomotif untuk mendorong peningkatan pendapatan per kapita NTB,” katanya.

Jika di Pulau Lombok ada KEK Mandalika, maka di Pulau Sumbawa ada kawasan Teluk Saleh, Moyo dan Tambora (Samota). Menurut Iswandi, Samota bisa menjadi saudara kembar Mandalika.

“Karena Lombok dan Sumbawa menjadi destinasi wisata super prioritas termasuk Samota yang punya keunikan dengan hiu paus yang tidak ada di tempat lain.  Itu akan menjadi sudara kembar Mandalika. Akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di Sumbawa,” ujarnya. (nas)