Membangun Partisipasi di Tengah Pluralitas

MEMIMPIN sebuah desa dengan masyarakatnya yang heterogen, baik agama, suku, sosial budaya dan lainnya, seperti Desa Karang Dima, Kecamatan Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, tentu memiliki kesulitan tersendiri. Namun sosok Bahari Boya, Kepala Desa (Kades) Karang Dima mampu membangun partisipasi dan keterlibatan lebih luas masyarakatnya di tengah semangat pluralitas. Didukung kebijakan dan regulasi yang demokratis, tak heran jika desa ini mampu meraih banyak penghargaan hingga level nasional.

Karang Dima desa dengan bearagam karakteritiknya. Sebagian masyarakatnya bertani di lahan basah dan di lahan kering sekitar bukit. Sebagian lagi warganya yang tinggal di pinggir pantai sebagai nelayan. Sebagai daerah pinggiran kota, ada pula warganya yang berprofesi sebagai pedagang dan pelaku usaha.  Termasuk jasa pariwisata sebagai daerah penyangga Kota Sumbawa Besar.

Desa Karang Dima dihuni beragam suku, Samawa, Sasak, Bali, Mbojo, Jawa, Bugis dan lainnya.  Dengan jumlah penduduk  6.638 jiwa yang tersebar di tujuh dusun, Pamulung, Batu Nisung, Sumir Payung, Kayangan, Buin Pandan dan Bangkong.

Menyatukan masyarakat dalam perbedaan itulah yang justru menjadi rahmat sekaligus tantangan bagi Bahari Boya untuk membangun Karang Dima. Membangun partisipasi dan menggerakkan masyarakat melalui pendekatan tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokon pemuda. Ditunjang peran BPD, LPM hingga mengoptimalkan fungsi perangkat desa hingga ke tingkat RT/RW. Termasuk memberdayakan kelompok pemuda seperti Remaja Masjid dan Karang Taruna. ‘’Kita rangkul semua elemen dan kita berdayakan masyarakat,”kata Bahari saat berbincang dengan Suara NTB, Senin (11/7/2016), tentang konsep sederhananya membangun partisipasi publik secara luas.

Selain itu, masyarakat juga dilibatkan secara aktif dalam pengambilan kebijakan desa secara demokratis. Apalagi ketika memutuskan sebuah regulasi. Terutama dalam penyusunan Peraturan Desa (Perdes). Contohnya Perdes tentang pelarangan penebangan hutan dan Perdes tentang ternak yang berkeliaran. Sebelum disahkan, Kades dan BPD turun menyerap aspirasi memita saran dan masukan dari masyarakat. Kemudian disosialisasikan, apakah layak atau tidak Perdes dimaksud diterapkan atau tidak di Karang Dima. Kalau layak seperti apa sanksi yang pantas diterapkan. Sehingga Perdes yang dihasilkan mendapatkan dukungan dan legistimasi kuat dari masyarakat. ‘’Termasuk ketika sanksi diterapkan bagi mereka yang melanggar Perdes, juga tidak ada yang protes,’’ujarnya.

Di Karang Dima juga terdapat Perdes yang mengatur iuran bagi pengusaha di wilayah tersebut, dari pengusaha besar sampai kepada pengusaha kecil batu bata. Besaran iuran disesuaikan dengan besar kecilnya usaha. Tapi bukan pajak, karena bertentangan dengan aturan diatasnya. Iuran ini akan menjadi pemasukan bagi desa, yang diatur dalam Perdes dimaksud. Bentuk kontribusi pengusaha untuk ikut membangun desa.

Beberapa program unggulan juga diluncurkan dalam mengoptimalkan potensi desa. Mulai dari pertanian sebagai program prioritas. Terutama dengan hadirnya kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang mengelola penangkar benih sejak dua tahun lalu kerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH). Dari kelompok inilah bibit padi disebar ke wilayah lainnya di Sumbawa. Kemudian, memperkuat Kelompok Sadar Wisata yang ditunjang keberadaan dua sanggar seni, Saling Sayang dan Gita Samawa. Fokus utamanya wisata budaya menggandeng pihak Tambora Hotel sebagai sponsor untuk atraksi seperti Barapan Kebo (Karapan Kerbau). Didukung seni tari, ratib, karaci, dan lainnya. Wisata kuliner di Pantai Goa juga terus dikembangkan. “Ke depan, kita butuh bantuan Pemkab melalui SKPD teknis untuk promosi Pamulung sebagai desa wisata,”harap Bahari.

Salah satu dusun di Karang Dima, Batu Nisung juga telah dicanangkan sebagai Kampung KB percontohan di Sumbawa. Para SKPD pun kini tengah ‘’mengepung’’ Batu Nisung dengan program. Bantuan pertanian, ternak, hingga program rumah kumuh dan kelompok lansia serta sanitasi air sedang berproses. Salah satu program yang menarik dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) adalah mengolah air limbah dan kotoran manusia menjadi pupuk. Potesi lain yang juga sedang digarap membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Begitu banyak terobosan yang dibangun Kades dan masyarakatnya di Karang Dima diganjar dengan banyak penghargaan. Juara I Keluarga Harmonis Nasional, Juara III KB Lestari Nasional, Juara I Pospa BKB Provinsi, Juara II Lomba Kepala Desa Peduli Hutan Tingkat Provinsi, dengan keberhasilan program penghijauan di daerah rawan Bencana Bangkong dan Pamulung. Kemudian Juara I Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Kabupaten, Juara I Lomba Posyandu yang diwakili Posyandu Bayam Merah Tingkat Kabupaten dan pada puncaknya tahun ini Juara I Lomba Desa Tingkat Kabupaten. Yang telah diikutkan pada Lomba Tingkat Provinsi dan kini sedang menunggu pengumuman. ‘’Semua prestasi dimulai dari membangun partispasi masyarakat,’’ pungkasnya. (arn)