Melon ‘’Hydroponic”, Manis Alaminya Bisa Direkayasa

Melon Hydroponic yang manisnya bisa direkayasa dengan sentuhan teknologi. (Suara NTB/rus)

Sentuhan teknologi membuat budidaya tanaman saat ini tidak hanya bisa dlakukan di atas tanah. Teknologi hydroponic salah satunya. Hal ini pun telah dibuktikan oleh Abdullah, warga Kelayu Utara Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur dengan merekayasa tanaman melon.

AWALNYA, budidaya melon hydroponic ini diakui lebih rumit. Akan tetapi, saat sudah berjalan hasilnya jauh lebih menjanjikan. Baik cara budidayanya maupun potensi pasarnya. Bahkan, melon hydroponic ini manisnya bisa direkayasa.

Iklan

Menjawab Suara NTB, Abdullah menuturkan, bagaimana pengalaman budidaya tanaman melon hydroponicnya. Percobaan perdananya dengan menanam melon hibrida varietas madesta f1. Yakni typical net jaring. Dirinya lebih memilih varietas jenis ini di antara beberapa jenis melon, seperti golden dan macan. “Tergantung selera kita mau budidaya yang mana,” tuturnya.

Abdullah membuat media tempat budidaya melon hydroponic-nya di atas lahan dua are. Menggunakan 240 polibag. Secara umum, faktor lingkungan itu sebenarnya sama antara yang ditanam di atas tanah langsung maupun dengan media hydroponic. Perbedaan mencoloknya adalah, harapan hidup tanaman menggunakan media hydroponic jauh lebih lama. Produktivitas juga diyakinkan lebih bagus dari konvensional.

Perlakuan tanaman memang relatif susah di awal-awal. Butuh keterampilan khusus pada aspek pengetahuan hydroponic. Tantangan terberatnya, investasi awal mahal. Tapi begitu dianalisa modal yang dibutuhkan meski lebih besar, namun hasilnya jauh lebih baik. Abdullah sendiri mengaku awalnya di atas lahan dua are itu membutuhkan modal Rp 15 juta. Katanya, kalau konvensional modalnya jauh lebih kecil. Tapi saat sudah semusim lebih murah lagi biaya yang akan dikeluarkan dibandingkan konvensional. Tanaman konvensional juga katanya butuh lebih banyak tenaga kerja. “Kalau hydroponic kan pakai mesin, tidak perlu terlalu banyak tenaga,” ucapnya.

Dalam setahun dipastikan modal sudah bisa kembali. Tahun kedua menanam, dikatakan sudah bisa untung. Berbeda denga konvensional yang pastinya kan mulai dari nol lagi modalnya. Lainnya lagi, tanaman yang dihasilkan dari media hydroponic ini jauh lebih segar.

Melon usia tanamnya 70-75 hari setelah tanam. Tanaman melon hydroponic ini bisa mudah mengenal matangnya. Melon hydroponic spesial juga perlakuan nya. Soal harga, Abdullah sendiri menjual Rp 20-25 ribu per kilogram.  Harga katanya memang jauh lebih mahal. “Unsur makro bisa diseting,” imbuhnya.

Melon hydroponic ini juga bisa merambah pasar menengah ke atas. Abdullah mengaku melonnya ini sudah ada yang lirik dari pengusaha hotel dan restoran yang ada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Lombok Tengah. ‘’Saat ini, sedang diurus sertifikasinya,’’ klaimnya.  (rus)

Advertisement Jasa Pembuatan Website Profesional