Melihat Perjuangan Guru di Masa Pandemi, Kesasar saat ‘’Home Visit’’ dan Khawatir Siswa Belum Kumpulkan Tugas

Kegiatan belajar siswa di SMPN 1 Terara yang tetap menerapkan protokol kesehatan di masa pandemi Covid-19. (Suara NTB/ist)

Kinerja guru di masa pandemi Covid-19 cukup berat. Namun, demi pendidikan siswa, guru rela kesasar mencari rumah siswa. Bahkan, panik saat siswa belum mengerjakan tugas. Sementara, waktu pembagian rapor tinggal sebentar.

Tidak puas memberikan materi pelajaran menjadi salah satu permasalahan saat belajar di masa pandemi Covid-19.  Padahal, siswa dan guru sedang semangat-semangatnya belajar. Minimnya waktu membuat pelajaran di kelas jadi tidak maksimal. Sementara siswa ingin belajar lebih lama lagi. Namun, bunyi bel sekolah yang menandakan berakhirnya masa pelajaran tidak bisa ditoleransi lagi.

Inilah yang dialami Baharuddin, S.Pd., guru di SMPN 3 Belo Kabupaten Bima. Guru yang memegang mata pelajaran Bahasa Inggris ini harus rela belajar singkat, yakni sampai jam 10 pagi. Sementara di satu sisi, belajar di sekolah baru beberapa bulan diterapkan setelah sempat dilarang di awal pandemi Covid-19.

Diakuinya, sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolah tempatnya mengajar ada 3. Pertama, home visit (datangi rumah siswa), belajar dari rumah secara daring dan tatap muka. Secara home visit, guru datang ke rumah siswa untuk belajar bersama. Di rumah siswa ini, siswa yang berasal dari satu dusun atau desa belajar bersama-sama selama beberapa jam. Dalam proses belajar mengajar, siswa dan guru wajib menerapkan protokol kesehatan. ‘’Guru dan siswa wajib memakai masker, jaga jarak dan mencuci tangan menggunakan air mengalir atau hand sanitizer,’’ tuturnya, Jumat, 18 Desember 2020.

Saat home visit ini, guru memberikan materi pelajaran di lembar yang sudah dipersiapkan. Nantinya, siswa mengerjakan tugas dan dikumpulkan langsung pada hari itu juga. Sementara pada pembelajaran daring, pihaknya memberikan materi lewat grup WA yang ada. Nantinya dikumpulkan saat bertemu secara tatap muka di sekolah.

‘’Kalau lewat tatap muka, kita belajar hanya sampai jam 10 pagi. Kita bagi, yang satu kelas menjadi 2 kelas. Dan siswa yang masuk ke sekolah harus menggunakan masker, jaga jarak dan mencuci tangan,’’ ujarnya, seraya menambahkan, pihaknya juga berupaya mencegah adanya kerumunan siswa agar penularan Covid-19 di kalangan siswa tidak terjadi.

Beda halnya dengan Mursyid Azmy, SPd., salah satu guru di SMPN 1 Terara Lombok Timur. Diakuinya, saat pembelajaran tatap muka belum diizinkan di Lombok Timur,  guru-guru di tempatnya mengajar harus mengunjungi rumah siswa untuk memberikan pelajaran. Dirinya pernah merasakan kesasar mencari rumah siswa, karena alamat yang diberikan siswa pada guru tidak akurat. Akibatnya, dirinya harus kesasar ke dusun lain, karena tidak menemukan alamat yang dicari.

Meski demikian, apa yang dialaminya ini merupakan pengalaman baru mengajar di era Covid-19, sehingga hal seperti ini tidak akan dilupakannya. Namun, sejak diizinkan pembelajaran tatap muka di sekolah di Lombok Timur membuat bebannya bersama guru-guru yang lain menjadi berkurang. Mereka tidak perlu lagi harus menyusuri jalan-jalan asing yang belum dikenalnya untuk mencari rumah siswa. Sekarang ini, siswa sudah masuk sekolah dan diberikan batas waktu hanya beberapa jam untuk mengajar, karena sekarang ini masih Covid-19.

‘’Sama seperti sekolah lain. Siswa dan guru yang baru datang harus diukur suhu tubuhnya, jaga jarak, pakai masker dan mencuci tangan,’’ ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah sekolah di Lombok Barat masih belum diizinkan untuk menggelar tatap muka. Pemda Lombok Barat baru mengizinkan beberapa sekolah menggelar belajar tatap muka dengan syarat cukup ketat.

Salah satu sekolah yang belum diizinkan menggelar tatap muka adalah SMPN 1 Narmada. Sekolah yang tertua di Narmada ini masih menggelar pembelajaran secara dalam jaringan (daring). Siti Aisah, S.Pd., salah satu guru di sekolah ini menuturkan bagaimana pengalamannya menggelar pelajaran secara daring.

Memegang mata pelajaran di jumlah kelas yang banyak dan secara daring membuat dirinya mencoba memahami tentang perkembangan teknologi yang berkembang saat ini. Saat ini, para guru yang sebelumnya tidak tahu Google Classroom atau menggunakan aplikasi komputer lainnya secara perlahan dan pasti mulai bisa beradaptasi.  Begitu juga sebagai wali kelas untuk mengisi rapor secara elektronik sudah bisa dilakukan dengan cepat.

Meski demikian, karena sekolahnya masih belum diizinkan menggelar tatap muka, dirinya harus berusaha menerapkan kebijakan yang diberikan. Bahkan, dirinya pernah merasa panik dan khawatir dengan siswa yang belum menggumpulkan tugas, padahal rapor sebentar lagi akan dibagikan.

Seminggu sebelum penggumpulan rapor atau saat mid semester digelar, sebagai wali kelas dan guru pengampu pelajaran Seni dan Budaya dirinya menemukan banyak siswa yang belum menggumpulkan tugas. Padahal siswa itu sudah tergabung dalam grup WA di kelas yang diajarnya. Sebagai guru dan wali kelas, dirinya tidak ingin nilai anak-anak itu kosong di rapor yang dibagikan Sabtu, 19 Desember 2020.

Dirinya berusaha mencoba menghubungi siswa agar segera menggumpulkan tugasnya secara daring atau langsung ke sekolah. Jika siswa tidak menggumpulkan tugasnya, ujarnya, akan berdampak pada nilai yang ada di rapor. Selain itu, dirinya meminta orang tua siswa yang anaknya belum menggumpulkan tugas datang ke sekolah. Di sana, orang tua siswa diingatkan mengawasi anak-anaknya selama di rumah, termasuk mengawasi anak-anak saat mengerjakan tugas.

‘’Karena dari pengakuan orang tua siswa, katanya anaknya sudah menggumpulkan tugas. Tapi faktanya tidak ada. Ini yang kami ingatkan pada orang tua siswa,’’ ujarnya.

Untuk itu, sebagai guru mengharapkan pandemi segera berakhir, sehingga kegiatan pembelajaran kembali normal seperti biasa. Baginya, sekolah secara tatap muka lebih baik, karena guru tidak perlu bekerja dua kali. ‘’Kalau saat ini, ada anak tidak kumpulkan tugas, kita yang panik. Kita telepon anak itu agar segera menggumpulkan tugas. Tapi setelah kita tunggu, tugasnya belum datang, sehingga orang tuanya kita panggil ke sekolah. Ini yang membuat beban kita bertambah,’’ tambahnya.  (ham)