Melihat Penerapan Protokol Kesehatan di Desa Gegelang, Punya Rumah Isolasi Mandiri hingga Lokasi Skrining Sendiri

Tempat cuci tangan yang disediakan Pemdes Gegelang sebelum masuk kantor desa. Tempat cuci tangan ini juga langsung dipergunakan untuk menyiram tanaman yang ditanam di media limbah botol bekas. (Suara NTB/ham)

Hamparan hijau menghiasi pemandangan saat memasuki Desa Gegelang Kecamatan Lingsar Lombok Barat (Lobar). Saat wabah pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) ini mulai terjadi di NTB, warga desa yang terletak di perbatasan Kota Mataram inilah yang berisiko paling tertular Covid-19. Apalagi, sebagian besar warga berprofesi sebagai pedagang di Pasar Mandalika. Rentannya warga tertular Covid-19 ini membuat pihak desa termotivasi untuk menyadarkan warganya agar terhindar dari Covid-19. Seperti apa upaya jajaran Pemerintah Desa (Pemdes) Gegelang dalam menekan jumlah warganya terpapar Covid-19?

AWAL mewabahnya Covid-19 sempat membuat sendi kehidupan, seperti perekonomian, pariwisata, pendidikan dan agama tidak berjalan maksimal. Warga yang sebelumnya cukup nyaman dengan profesinya tiba-tiba merasakan dampak dari Covid-19. Mereka tidak bisa menjalankan kesehariannya, bahkan harus berhenti dari pekerjaannya. Wilayah-wilayah yang berbatasan dengan episentrum penularan Covid-19 berusaha agar wabah ini tidak masuk ke wilayahnya.

Iklan

Inilah juga yang dilakukan Pemdes Gegelang dan jajarannya. Desa yang merupakan pemekaran Desa Lingsar dengan jumlah penduduk saat desa ini berdiri tahun 2010 lalu adalah 3.170 jiwa dan data tahun 2015 sebanyak 3.338 jiwa. Dari jumlah penduduk ini sekitar 85 persen warganya berprofesi sebagai pedagang di Pasar Mandalika.

Berbekal instruksi dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, jajaran Pemdes kemudian membuat Satgas Covid-19. Satgas ini terdiri dari berbagai macam unsur, seperti unsur pemerintah desa, perangkat desa, semua lembaga desa dan tim medis. Melihat profesi warga yang banyak berinteraksi dengan warga dari luar saat di Pasar Mandalika, Desa Gegelang yang dipimpin H. Husnu Muhtar ini berikhtiar mendisiplinkan pola hidup sehat pada warganya. Hal ini sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan desa dan warga dari paparan Covid-19.

Waktu itu,  menurut Sekretaris Desa Gegelang Azmi, SPd., ada warga di desa tetangga yang terkena Covid-19. Hal ini menjadikan pihaknya mengambil kebijakan isolasi mandiri desa dengan menerapkan terhadap semua warga, baik yang berasal dari dalam Desa Gegelang atau luar desa. Bahkan,  warga Desa Gegelang dibuatkan shower disinfektan di semua pintu masuk desa sekaligus dibuatkan portal.

‘’Jadi keadaan seperti itu, warga yang khawatir beraktivitas karena pemberitaan tentang Covid-19 cukup tinggi dan proses penularan begitu cepat dan gampang. Akhirnya warga yang separuhnya berprofesi sebagai pedagang di pasar mulai kalap,’’ tuturnya pada Suara NTB di ruang kerja Kepala Desa Gegelang H. Husnu Muhtar, Selasa, 10 November 2020.

Sejak saat itu, ujarnya, pihaknya mencoba menggagas ketahanan pangan masyarakat desa bagi warga yang tidak bisa mencari nafkah di luar desa, khususnya ke pasar. Ketahanan pangan yang dikembangkan seperti rumah tani milenial, posko ketahanan pangan, rumah ketahanan pangan yang terintegrasi satu sama lain. ‘’Di desa ini ada petani milenial, ada Kelompok Wanita Tani (KWT) bekerjasama dengan unsur lainnya di desa, seperti BUMDes dengan membangun pola kerjasama terintegrasi,’’ terangnya.

Sementara saat Lomba Kampung Sehat, pihak desa dan satuan gugus tugas menerapkan 4 indikator. Pertama, kelembagaan, kesehatan, sosial ekonomi dan keamanan. Di bidang kelembagaan menguatkan aturan yang dibuat BPD bersama pemerintah desa untuk menguatkan pemerintah desa secara regulasi dalam menjalankan kegiatan-kegiatan yang ada di desa dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Azmi mencontohkan, Desa Gegelang punya Peraturan Desa (Perdes) tentang Covid-19. Perdes ini untuk penegakan hukum selama masa pandemi. Namun, ada produk khusus di perdes, seperti bagaimana pola hidup bersih yang baik dengan menggunakan masker, menjaga jarak dan selalu mencuci tangan. Cuci tangan yang diatur di perdes tidak di perumahan saja, tapi di bidang tata niaga. Untuk itu, pihaknya menyediakan banyak tempat cuci tangan di beberapa lokasi yang strategis.

‘’Jadi tempat-tempat umum, tempat ibadah selalu kita siapkan tempat cuci tangan. Terlebih pada acara sosial dan keagamaan, penggunaan masker selalu menjadi prioritas untuk disampaikan,’’ terangnya.

Selain itu, pihaknya intens melakukan sosialisasi, baik secara formal atau non formal, seperti zikiran dan tahlilan. Meski demikian, di Desa Gegelang terdapat 6 warganya terpapar Covid-19. Dari jumlah ini, 5 pasien sembuh dan 1 meninggal akibat penyerta. Mereka dirawat di Rumah Sakit Siloam dan Rumah Sakit Awet Muda Narmada.

Punya Rumah Isolasi

Meski desa punya rumah isolasi mandiri, Kepala Desa Gegelang H. Husnu Muhtar berharap tidak ada warganya yang diisolasi. Pihaknya yakin dengan penerapan protokol Covid-19 di masyarakat, maka penyebaran Covid-19 di desanya bisa diminimalisir. Namun, pihaknya tetap fokus terhadap warga yang baru balik dari luar daerah. Pada warga yang baru balik diminta untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari setelah terlebih dahulu dicek kesehatannya di Kantor Desa. Terlebih, ujarnya, Desa Gegelang memiliki alat khusus skrining tersendiri, sehingga cepat mengetahui kalau ada warga yang terpapar Covid-19.

‘’Desa juga punya tempat skrining bagi warga yang baru pulang dari luar daerah atau masyarakat yang masuk katagori komorbid,’’ terangnya, seraya menambahkan, dalam memberikan pelayanan di kantor desa tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Pada bagian lain, pihaknya juga berbangga sebagai Kampung Sehat yang digelar Polresta Mataram. Meski di tingkat provinsi hanya masuk nominasi, tidak menyurutkan pihak desa memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai standar protokol Covid-19. ‘’Ada juara atau tidak ada juara, kami tetap laksanakan protokol Covid-19 sampai pandemi berakhir,’’ ujarnya. (ham)

Advertisementfiling laporan pajak Jasa Pembuatan Website Profesional