Meletakkan Fondasi Industrialisasi di Dua Tahun Kepemimpinan Zul-Rohmi

Halus Mandala, M. Firmansyah.  (Suara NTB/dok) 

Mataram (Suara NTB) – Kepemimpinan Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur NTB, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah dinilai telah mampu meletakkan fondasi industrialisasi di bidang ekonomi. Diharapkan nantinya, dari hulu sampai hilir industrialisasi mengakomodasi banyak sumber daya lokal.

Hal itu disampaikan pemerhati ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram (Unram), Dr. M. Firmansyah, M. Si. Menurutnya, selama dua tahun kepemimpinan Zul-Rohmi, sapaan Gubernur dan Wakil Gubernur, terlihat kesuksesan mereka meletakkan fondasi industrialisasi.

Iklan

‘’Zul-Rohmi sukses mewacanakan, menjadikan diskursus industrialisasi ini, menjadi konsumsi public. Sehingga banyak orang berbicara industrialisasi dan mulai memproduksi,’’ ujarnya. Momentum industrialiasi itu juga didukung oleh masa pandemi Covid-19 ini. Pemprov NTB membuat Jaring Pengaman Sosial (JPS) dengan menggunakan produk lokal. Hal itu, menurut Firmansyah, kembali menggairahkan produk lokal.

 Tata kelola JPS bisa menjadi contoh baik untuk peningkatan ekonomi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ke depan. ‘’Kita rapikan, kita buat jadi tata aturan untuk pengembangan industri yang sudah diletakan fondasinya secara bagus saat ini,’’ ujarnya. Kemudian munculnya motor listrik dan beberapa produk lainnya yang mencuat ke permukaan.

Firmansyah mengatakan, hal itu juga menjadi fondasi industrialisasi yang patut diapresiasi. Walaupun sebenarnya yang paling penting dari industrialisasi itu jika dari hulu sampai hilirnya bisa mengakomodasi banyak sumber daya lokal. ‘’Baik tenaga kerjanya, maupun sumber daya bahan bakunya. Ini yang ke depannya perlu diperhatikan,’’ sarannya.

Ia mengatakan, nantinya produk lokal dari NTB bisa didorong menjadi sumber industrialisasi. Kalau hal itu bisa dilakukan, maka persoalan daerah soal pengangguran, kekurangan lapangan kerja, dan stabilisasi bisnis bisa terjamin. Di samping itu, beberapa hal perlu dibenahi terkait bidang ekonomi. Firmansyah menyebutkan, Pemprov NTB perlu mengintensifkan pengelolaan aset.

Menurutnya, ada beberapa aset yang belum dimanfaatkan, walau sudah diberikan hak guna usaha ke investor. Ia menyarankan, pemerintah perlu selektif melihat investor. Perlu diperhatikan agar investor yang datang membawa modal, membangun pabrik atau membangun bisnis, menyerap tenaga kerja, dan bisa mentransfer teknologi ke masyarakat lokal.

‘’Mereka (investor) harus memanfaatkan bahan baku lokal. Ini investor yang perlu diprioritaskan ke depan. Tidak hanya sekadar bawa uang, mengambil keutungan, tanpa transfer teknologi dan juga harus gunakan sumber daya lokal,’’ sarannya.

Potensi sumber daya di NTB yang melimpah dan menjadi kebutuhan primer juga perlu dimanfaatkan. Firmansyah menyampaikan, salah satunya aspek kelautan. Ia belum mendengar lompatan jauh di bidang kelautan terkait industrialisasi. Belum lagi terkait industri berbasis pertanian. ‘’Padahal kita punya potensi laut yang luar biasa.  Di Sumbawa punya Teluk Saleh, Teluk Bima, dan seterusnya,’’ katanya. Namun, ia menekankan, Zul-Rohmi sudah meletakan fondasi, bahwa masyarakat NTB agar keluar dari keterpurukan harus melalui industrialisasi. Meskipun, harus diakui, Zul-Rohmi menjadi kepala daerah di era yang tidak mendukung. Karena berbagai bencana yang menimpa NTB, seperti gempa bumi dan pandemi Covid-19.

Perhatian Zul-Rohmi terhadap pariwisata juga diapresiasi oleh akademisi bidang pariwisata. Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Dr. Halus Mandala, M.Hum, mengatakan, perhatian pemerintah terhadap pariwisata sudah luar biasa. Namun kondisi pandemi Covid-19, menyebabkan pariwisata di NTB belum bisa maju.

‘’Andaikata tidak terjadi pandemi Covid-19 ini, saya yakin pariwisata NTB melejit dengan perhatian pemerintah yang luar biasa terhadap pariwisata,’’ ujar Halus. Menurutnya, pihaknya dari lembaga pendidikan pariwisata menyambut baik komitmen Pemprov NTB terhadap pariwisata. Walau kondisi pandemi Covid-19, gubernur dan wakil gubernur tetap menggaungkan pariwisata.

Salah satu program yang diapresiasinya yaitu menggalakkan protokol kesehatan cegah Covid-19. Selain itu meluncurkan Peraturan Daerah (Perda) nomor 7 tahun 2020 tentang Penanggulangan Penyakit Menular, yang tujuannya untuk mengurangi peningkatan masyarakat terinfeksi Covid-19.

‘’Kesan yang patut dibangun adalah bahwa pariwisata NTB itu aman, itu yang penting, dan itu sudah dilakukan melalui peraturan dan sosiaslaisi. Saya nilai itu bagus, agar ada kesan dulu, agar NTB aman dikunjungi, itu penting. Sebab kalau itu tidak aman, siapa yang mau berkunjung,’’ ujar Halus.

Walaupun saat ini diprioritaskan untuk wisatawan lokal, tapi tetap juga harus mempersiapkan untuk wisatawan mancanegara. Karena itu, dibuatlah suasana bahwa NTB ini aman dan siap dikunjungi wisatawan. ‘’Itu penting. Harapan saya pemerintah fokus mewujudkan rasa aman dan nyaman itu. Dengan demikian harus kerja keras mengajak masyarakat menciptakan itu,’’ ujarnya.

Selain itu ia juga menyarankan perlunya pembenahan Sumber Daya Manusia (SDM) di destinasi wisata. Karena masih saja ada komplain dari wisatawan. Terutama penguatan dalam bidang keamanan. Diperlukan edukasi ke masyarakat, terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 ini. Penguatan dalam bidang keamanan perlu dilakukan.

‘’Mudah-mudahan gubernur dan wakil gubernur terus menerus fokus pada pariwasata. Karena pariwisata adalah salah satu andalan NTB, mengingat luar biasa potensi yang dimiliki NTB,’’ pungkasnya. (ron)