Melalui “The Power of 4P”, Dinas Dikbud NTB Bekali Sekolah Mengikuti Asesmen Nasional

Kepala Dinas Dikbud NTB, H. Aidy Furqan (memegang pelantang) didampingi jajarannya saat melakukan sosialisasi Asesmen Nasional bagi SMA Negeri Lombok Barat dan Mataram.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Asesmen Nasional (AN) dipastikan akan dilaksanakan mulai tahun 2021 ini. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB telah melakukan sosialisasi ke kepala sekolah dan guru sejak akhir tahun 2020 lalu. Selain itu, melalui strategi the power of 4P (profil, penampilan, pelayanan, dan prestasi), Dinas Dikbud NTB membekali sekolah untuk mengikuti asesmen nasional.

Kepala Dinas Dikbud NTB, Dr. H. Aidy Furqan, M.Pd., ditemui di ruang kerjanya menyampaikan, asesmen nasional untuk mengukur kemampuan anak di berbagai kompetensi. Terutama di mata pelajaran, baik dari aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap dengan mengambil sampel dengan pola tertentu.

Komponen asesmen nasional terdiri dari Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Untuk AKM terdiri dari literasi dan numerasi. Survei karakter terdiri dari enam sub topik yang akan disurvei. Diharapkan dari hasil survei karakter akan keluar sebuah paradigma profil pelajar yang disebut profil pelajar Pancasila. Sementara, survei lingkungan belajar, berupa survei kondisi belajar, metode belajar, dan lainnya.

Menurut Aidy, SMA, SMK, dan SLB di NTB sudah dibekali dengan strategi the power of 4P. Hal itu akan memudahkan sekolah dalam mempersiapkan asesmen nasional, karena sudah sejak sebelumnya sekolah dibiasakan menguatkan profil, penampilan, pelayanan, dan prestasi. “SMA, SMK, dan SLB sudah saya bekali dengan the power of 4P, buktinya sekarang digunakan di asesmen nasional, ini sangat matching,” katanya.

The power of 4P merupakan strategi yang dikembangkan Dinas Dikbud NTB sejak Aidy Furqan mulai menjabat sebagai Kepala Dinas Dikbud NTB sekitar awal tahun 2020. Terkait the power of 4P itu, Aidy menjelaskan, profil sekolah merupakan cerminan ketekunan dan ketelitian sekolah yang dinilai secara langsung oleh pemerintah dan masyarakat. Komponen profil antara lain akurasi data guru dan tata usaha, akurasi kompetensi, akurasi data siswa, akurasi data sarpras, dan lainnya.

“Profil sekolah menjadi satu bagian penting dalam penetapan program, peningkatan citra profesional yang dapat memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi untuk bersaing,” kata Aidy.

Terkait Penampilan, Aidy menjelaskan, penampilan sekolah merupakan cerminan citra diri sekolah yang dinilai secara langsung oleh masyarakat. Penampilan dapat menjadi modal utama bagi sekolah sebagai nilai jual di masyarakat dan orang tua. “Penampilan menjadi satu bagian penting dalam pembentukan dan peningkatan citra profesional yang dapat memberi rasa kepercayaan diri yang tinggi bagi seluruh warga sekolah,” jelasnya.

Sementara terkait Pelayanan, Aidy menyampaikan bahwa sekolah adalah lembaga sosial yang memiliki fungsi pelayanan terhadap warga sekolah, orang tua, dan masyarakat. Sebagai upaya sekolah melalui optimalisasi dari tugas dan fungsinya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif.

Mengenai Prestasi, Aidy mengatakan, prestasi merupakan hasil suatu kecakapan atau hasil kongkrit dari warga sekolah, baik prestasi siswa, pendidik dan tenaga kependidikan dalam bidang akdemik dan non akademik yang dapat dijadikan motivasi dan promosi sekolah.

Sementara itu, terkait asesmen nasional, pihaknya sudah melakukan sosialisasi kepada sekolah di bawah koordinator Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB, Drs. Lalu Muhammad Hidlir yang mengikuti lokakarya dan rapat koordinasi mengenai asesmen nasional di tingkat pusat. Menurut Aidy, asesmen nasional tidak begitu mengkhawatirkan, karena tidak diikuti semua siswa. “Diambil sampelnya saja, ini sebagai arah pemetaan mutu dan memperkuat arah kebijakan layanan pendidian di tingkat pusat dan di tingkat daerah,” jelasnya.

Aidy juga menekankan, hasil asesmen tidak menjadi syarat lulus seperti ujian nasional sebelumnya. Asesmen nasional diperuntukkan untuk pemetaan pendidikan, pemetaan kualitas pembelajaran, pemetaan mutu yang tersebar di seluruh Indonesia. Nantinya akan menjadi salah satu referensi melalukan kebijakan layanan pendidikan di Indonesia pada tahun berikutnya.

Sebelumnya, Kepala Seksi Kurikulum pada Bidang Pembinaan SMA Dinas Dikbud NTB, Purni Susanto mengingatkan, jangan sampai ada siswa, guru, kepala sekolah, dan orang tua membayangkan asesmen nasional seperti UN. Jika pemahaman seperti UN, maka sekolah akan cenderung akan membuat bimbingan belajar untuk siswa.

Menurut Purni, asesmen nasional akan dilaksanakan bulan Maret tahun 2021. Nantinya akan dipilih beberapa sekolah di masing-masing kabupaten/kota. Jumlah sekolah bergantung dari banyak atau sedikitnya jumlah sekolah di satu kabupaten/kota. “Jika banyak sekolah, akan dipilih maksimal 10 sekolah di satu kabuapten/kota, kalau sedikit, bisa kurang dari 10 sekolah,” ujarnya.

Purni menjelaskan, sekolah peserta asesmen nasional dipilih secara acak. Tidak semua siswa akan ikut asesmen nasional, akan dipilih dari kelas XI untuk jenjang SMA sederajat. Siswa akan dipilih maksimal 45 orang bukan seluruh siswa kelas XI. “Bukan ujian, akan diambil sampel, dilihat anak-anak ada di level mana, akan dilihat untuk perbaikan,” katanya.

Pihaknya belum tahu Kemendikbud akan memilih sekolah mana di satu kabupaten/kota. Hasil asesmen nasional akan dianalisa dan dikirim ke sekolah, bukan dikirim ke siswa. Hasil rapor bukan untuk kepentingan siswa, tapi untuk guru dan kepala sekolah untuk peningkatan kinerja.

Purni menegaskan, untuk siswa kelas XII di tahun 2021 hanya akan ikut ujian sekolah. Penentuan kelulusan dari rapor dan ujian sekolah. “Siswa kelas XII, hanya ikut ujian sekolah. Kelulusan ditetunkan sekolah berdasarkan nilai rapor dan ujian sekolah. Jangan sampai ada bayangan mereka (siswa kelas XII) ikut asesmen nasional,” tegasnya. (ron)