Mekanisasi Pertanian Disosialisasi dengan Praktik Lapangan

Dompu (Suara NTB) – Mekanisasi pertanian untuk efisiensi dan peningkatan produk hasil pertanian di Kabupaten Dompu dilakukan dengan praktik langsung di lapangan. Upaya ini berhasil mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini cenderung konvensional, namun mulai dihadapkan dengan kelangkaan tenaga kerja dan pemborosan biaya serta waktu.

Dandim 1614/Dompu, Letkol CZI Arief Hadiyanto, S.IP bersama Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Ir. H. Fakhrurrazi beserta jajarannya melakukan uji coba traktor mini untuk melihat proses pengolahan tanah, penyiapan bibit dan penanaman bibit menggunakan sistem mekanisasi di so Monta Kecamatan Woja, Selasa, 31 Januari 2017.

Iklan

Letkol CZI Arief Hadiyanto mengungkapkan, ada 1 unit traktor mini dan 75 hand traktor bantuan pusat yang dipegang masing – masing Koramil untuk dimanfaatkan para petani dalam rangka menyukseskan swasembada pangan nasional. “Kita ingin melihat langsung sistem kerja dan membandingkan hasilnya,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Ir H Fakhrurrazi melalui Kepala Bidang Tanaman Pangan, Syahrul Ramadhan, SP mengatakan, penggunaan mini traktor memiliki keuntungan tidak sampai membuang humus tanah dan tanah diproses dengan baik. Selain faktor cepat pengerjaannya. Namun idealnya dikelola untuk 1 hamparan lahan seluas 20 ha agar proses pengolahan tanah secara maksimal. “Satu ha lahan itu dikerjakan sampai lima jam,” ungkapnya.

Pemanfaatan transplenter (mesin tanam padi) juga jauh lebih efektif. Selain lebih efektif dan efisien, penggunaan alat ini jauh lebih cepat. Untuk 1 ha lahan, petani hanya menyiapkan lahan yang siap ditanami. Tapi bibit dan penanamannya disiapkan seharga Rp 2,7 juta. Biasanya, untuk pengadaan bibit hingga biaya tanam petani menghabiskan anggaran hingga Rp 4 juta. “Pola ini yang akan dilakukan sosialisasi kepada petani oleh pak Dandim bersama muspida,” ungkap Syahrul Ramadhan.

  NTB Kirim 3.000 Ton Beras ke Bali

Abdul Rajak, ketua gapoktan so Monta mengatakan, pihaknya menyiapkan transplanter sejak 2015 lalu. Proses pembibitan dilakukan pihaknya dengan usia 15 – 18 hari untuk ditanam dan lahan yang akan ditanami menjadi kewajiban petani membajaknya. “Kita hanya siapkan bibit dan menanam. Petani tinggal terima hasil,” ungkapnya.

Karena yang ditanam dalam 1 titik 3 – 4 bibit padi dengan jarak tanam tertentu, untuk menghindari serangan hama siput, sawah harus dibuatkan parit di pinggirnya untuk menghindari tergenangnya air di tengah. “Satu hari sebelum ditanam, petani kita minta untuk disemprotkan obat anti siput,” katanya.

Diakui Abdul Rajak, awalnya pola ini tidak banyak diminati petani. Setelah melihat hasil, kini para petani banyak minat. Bahkan pihaknya kewalahan melayani permintaan petani karena terbatasnya transplanter dan alat penyiangan bibit. (ula/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here