Mayat Ditemukan Dalam Kondisi Terbakar, Polisi akan Otopsi

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Kasus penemuan mayat Supri Haryanto (50) pegawai Kementerian PU pada 7 Oktober 2015 lalu hingga saat ini belum diketahui penyebab kematiannya. Dalam hal ini polisi berencana melakukan otopsi terhadap jasad korban untuk menguak peristiwa tersebut.

Kasat Reskrim Polres Sumbawa, AKP Yusuf Tauziri, SIK kepada wartawan belum lama ini membenarkan adanya rencana otopsi tersebut. Menyusul adanya permintaan keluarga, dalam hal ini istri korban beberapa waktu lalu. Pihaknya sudah bersurat ke Dokkes kedokteran forensik untuk permintaan bongkar tubuh dan otopsi. Selain itu juga sudah bersurat ke Ditreskrim Polda untuk meminta asistensi dan backup. Mengingat kasus ini tergolong kasus sulit, dan membutuhkan saksi ahli. “Kami akan melakukan otopsi untuk menyelidiki kasus ini,” ujarnya.

Iklan

Dijelaskannya, penyidik sempat terhambat dalam melakukan penyelidikan. Mengingat adanya penolakan dari pihak keluarga untuk melakukan otopsi. Sehingga dari penolakan tersebut, penyidik belum dapat menyimpulkan penyebab kematian korban. Dimana di dalam hukum dan Perkab mengenai otopsi, untuk kasus-kasus penemuan mayat dan kematian yang tidak wajar secara hukum hanya otopsi yang bisa menjadi dasar penyebab kematian.

“Penyelidikan yang dilakukan sebelumnya sempat buntu. Karena ada penolakan otopsi dari pihak keluarga,” tukasnya.

Saat ini sambungnya, pihaknya sudah didatangi keluarga korban untuk melakukan otopsi. Untuk otopsi sendiri belum ditentukan waktunya. Pihaknya masih menunggu kesiapan Dokkes kedokteran Forensik. Selain itu, kasus ini akan dilakukan gelar perkara kembali dengan tim asistensi Polda.

“Setelah ada kesiapan dari Dokkes dan melakukan gelar perkara, barulah kita melakukan otopsi,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, Supri Haryanto (50) seorang PNS yang tinggal di Gang Pendidikan, Kelurahan Lempeh, Kecamatan Sumbawa, ditemukan meninggal dunia dengan kondisi terbakar di lokasi Kokar Tempoa, Dusun Lamurung. Tepatnya di ruas jalan Sumbawa-Lunyuk KM 56, pada 7 Oktober 2015 lalu. Sebelum meninggal, korban yang merupakan pegawai Kementrian PU ini sempat menghilang selama tiga hari setelah pamit melakukan survei dan memgawasi proyek hotmix di wilayah selatan Sumbawa. (ind)