Mati Listrik Warnai Hari Pertama UNBK SMK di NTB

Mataram (suarantb.com) – Hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat SMK di NTB sempat diwarnai kejadian mati listrik. Ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, H. Muh. Suruji saat ditemui di Kantor Gubernur NTB, Senin, 3 April 2017.

Mati listrik ini terjadi di salah satu SMK di Lombok Timur, namun dijelaskan Suruji listrik hanya padam untuk sementara. “Tadi terjadi mati listrik di SMK Wanasaba Lotim tadi pagi, waktu awal ujian hidup, kemudian mati. Pihak sekolah langsung lapor ke PLN. PLN langsung kirim teknisi, dicek ke gardu terdekat dan langsung nyala lagi,” jelasnya.

Iklan

Listrik yang padam di tengah proses pengerjaan UNBK menurut Suruji bukan masalah besar. Memang waktu pengerjaan soal akan terpotong, namun waktu akan ditambah sesuai dengan lamanya listrik mati. “Jadi kalau listrik mati 10 menit di tengah proses mengerjakan soal, nanti akan ditambah 10 menit lagi,” katanya.

Di luar insiden ini, pelaksanaan UNBK berjalan lancar. Khususnya di Kota Mataram, dimana seluruh SMK mengikuti UNBK. Di NTB sendiri sebanyak 201 SMK mengikuti UNBK dan 55 sisanya masih mengikuti Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).

Dari total 16 ribu lebih siswa SMK di NTB, hanya sekitar seribu siswa yang masih mengikuti UNKP. Pada hari pertama ini, menurut pantauan Dikbud pagi tadi ke sejumlah SMK ada dua siswa yang tidak hadir untuk UNBK. Salah satu siswa di SMKN 2 Mataram absen karena sakit dan di SMKN 3 ada satu siswa yang mengundurkan diri dan tidak mengikuti ujian.

“Ada yang ndak datang di SMKN 2 karena sakit. Dan di SMKN 3 ada satu siswa yang memang tidak ikut sejak ujian praktik, artinya dia mundur. Baru dua itu yang ndak masuk, ndak tahu sisanya yang lain. Tapi untuk yang sakit kan bisa ikut ujian susulan, tanggal 16 April nanti,” ujarnya.

Dijelaskan Suruji dari sisi materi soal tidak ada perbedaan antara UNBK dan UNKP. Hanya saja potensi hilangnya lembar soal atau lembar jawaban tidak ada, karena soal UNBK bukan dalam bentuk cetakan. Potensi terjadinya berbagai kecurangan-kecurangan lainnya juga lebih kecil.

“Kalau soal peretas kita tidak bisa lagi bicara, tapi yang pasti soal itu diperoleh sekolah malam hari. Menjelang pagi kan baru didownload lalu paginya sudah siap dipakai,” tambahnya. (ros)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here