Mataram Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Alam 147 Hari

Mahfuddin Noor. (Suara NTB/jun)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menetapkan status siaga darurat bencana alam selama 147 hari. Terhitung mulai November 2021 hingga Maret 2022. Kesiapsiagaan tersebut untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor dan angin puting beliung.

Kepala BPBD Mataram, Mahfuddin Noor kepada Suara NTB, Rabu, 1 Desember 2021 menyampaikan, resiko terjadinya bencana hidrometeorologi ditandai intensitas hujan yang cukup tinggi. Kondisi ini tentu berpotensi menyebabkan terjadinya banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan gelombang pasang. “Bencana hidrometeorologi ini adalah ditandai dengan intensitas hujan yang cukup tinggi. Ini cukup berdampak kepada adanya genangan air, kemudian longsor dan gelombang pasang,” ungkapnya.

Iklan

Disamping menetapkan status siaga darurat bencana alam, sebagai langkah antisipasi pihaknya sudah mengaktifkan posko komando di halaman Pendopo Walikota Mataram. Termasuk menyiapkan sarana prasarana penanggulangan serta logistik yang diperlukan masyarakat selama kondisi darurat.

Tak hanya itu, setiap OPD yang tergambung dalam satgas penanggulangan bencana alam sudah melakukan upaya pencegahan dini, seperti misalnya normalisasi saluran irigasi oleh PUPR. Kemudian perantingan pohon oleh DLH serta sosialisasi dan edukasi masyarakat agar senantiasa waspada dari BPBD berikut elemen terkait lain. “Posko komandonya satu di kota saja. Tapi tetap koordinasi sampai ke bawah, karena teman-teman di kecamatan dan kelurahan bagian dari posko komando,” jelasnya.

Dengan melihat berbagai kerawanan yang berpotensi terjadi di tengah curah hujan ekstrim ini, Mahfuddin Noor berharap masyarakat mulai meningkatkan kewaspadaan. Perhatikan pohon yang rentan tumbang saat berlalu lintas, pun tidak lagi membuang sampah sembarangan.

Ketika terjadi sesuatu hal baik genangan air, banjir, tanah longsor maupun berbagai dampak lain dari cuaca ini, warga dihimbau untuk segera melapor guna percepatan penanganan. “Apabila terjadi dampak bencana di lingkungan, misalnya genangan air supaya segera melapor. Seminggu yang lalu hasil asesmen kita gelombang pasang sempat terjadi di dua titik, tapi alhamdulillah tidak terlalu berdampak kepada masyarakat. Namun demikian, kita tetap antisipasi untuk dampak-dampak yang mungkin lebih buruk,” pungkasnya. (jun)

Advertisement