Mataram dan Lobar “Ladang” Miras Tradisional

Mataram (Suara NTB) – Operasi Pekat (penyakit masyarakat) Gatarin 2018 resmi berakhir. Polisi menyasar ‘pemain’ miras tradisional. Dari sejumlah penindakan, terungkap wilayah produksi dan peredaran miras terbanyak berada di Kota Mataram dan Lombok Barat.

Buktinya, penyitaan miras terbanyak oleh Polres Mataram yang menggerebek produsen brem di Narmada dan Lingsar, Lombok Barat serta beberapa tempat di Cakranegara dan Sandubaya, Mataram dengan barang bukti hampir 3 ribu liter.

Iklan

Polda NTB pun pekan lalu melakukan penggerebekan di kawasan yang sama dengan barang bukti sekitar 5 ribu liter.

Wakapolda NTB, Kombes Pol Tajuddin menyebutkan, penindakan miras melalui operasi Pekat ini untuk menjaga kondusivitas jelang bulan Ramadhan.

“Miras ini selain pidana juga persoalan moral. Perkelahian, penganiayaan, bahkan pembunuhan itu akibat dari miras. Kita serius melakukan upaya-upaya penindakan ini,” ujarnya ditemui kemarin usai video conference analisa dan evaluasi Ops Pekat 2018 di Mapolda NTB.

Tajuddin menyebutkan, penindakan terhadap para pemain miras itu beragam disesuaikan dengan tingkat pelanggarannya. Ada yang berupa penutupan tempat produksi sampai diproses tindak pidana ringan (tipiring).

“Dari hasil operasi pekat ini, terbanyak penindakanya di wilayah Polres Mataram, kemudian Lombok Timur. Lombok Tengah juga banyak,” sebut dia.

Miras tradisional merupakan bahan baku untuk membuat miras oplosan. Campuran miras dengan bahan lain berbahaya bagi tubuh. “Miras tradisional ini yang banyak dioplos,” ungkap Tajuddin.

Salah satu contoh naas yakni seperti yang menimpa Ida Bagus Gede Graha Bhakti Prajaniti Subali (24) warga Abiantubuh Utara, Cakranegara, Mataram. Korban meregang nyawa Selasa (3/4) usai menenggak miras oplosan.

Polri dalam kasus lain mencoba membuat terobosan dengan mengenakan pasal pembunuhan berencana terhadap pembuat miras oplosan. Hal itu diterapkan di daerah lain. Namun untuk NTB, penyidikan belum mengarah ke unsur pidana tersebut.

“Kalau dia membuat (oplosan) untuk dirinya sendiri belum sampai ke sana. Tapi kalau dia membuat untuk orang lain, lalu ada yang tewas mungkin bisa masuk (pembunuhan berencana),” pungkas Wakapolda. (why)