Masyarakat Sumbawa Khawatir Keterancaman Madu karena Perluasan Lahan Jagung

Abdul Walit menunjukkan madu murni hutan Sumbawa yang dipasarkan pada kegiatan pasar lelang yang diselenggarakan Dinas Perdagangan Provinsi NTB di Mataram kemarin.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Masifnya alih fungsi hutan menjadi lahan jagung memicu kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat Sumbawa. Terutama mereka yang selama ini banyak menggantungkan hidupnya dari hasil hutan. Sebut saja salah satunya madu hutan. Jika pemerintah tak mengendalikan alih fungsi hutan menjadi lahan jagung, jangan bermimpi dalam waktu tak lama lagi, madu tidak bisa lagi dijumpai, khususnya di Kabupaten Sumbawa.

Madu adalah ikon Sumbawa, bahkan ikon Provinsi NTB. Bagi orang luar daerah, berkunjung ke provinsi ini tak lengkap rasanya bila tak membawa buah tangan madu. Pun bagi mereka yang tidak bisa berkunjung langsung, terkadang madu ini harus dipesan khusus. Madu murni Sumbawa masih bisa dijumpai sekarang. Tapi tidak dijamin, beberapa tahun ke depan.

Iklan

Salah satu yang sangat khawatir akan keterancaman madu murni Sumbawa ini adalah Abdul Walit, Ketua Forum UMKM Sumbawa. Menurutnya, saat ini madu murni masih bisa didapat. Namun tetap terbatas. Dalam sekali produksi (musim panen), khusus di daerahnya di Desa Sempe, Kecamatan Moyo Hulu Kabupaten Sumbawa bisa didapat 5 ton sampai 6 ton. “Panen raya Bulan Juli sampai pertengahan Agustus, lumayan beberapa ton produksi. Tetapi karena perubahan iklim, terjadi penurunan produksi madu murni ini,” ujarnya.

Produksi bahkan sedang kosong. Panen diperkirakan pada akhir Bulan September ini lagi. Itupun tergantung cuacanya. Selama ini produksi madu emas di Sumbawa dikirim untuk memenuhi permintaan di seluruh Indonesia. Bahkan sampai ke luar negeri. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini permintaannya naik. Misalnya, ke Hongkong, Malaysia. Sekali kirim tergantung permintaan konsumen.

Walit kembali ke persoalan keterancaman madu murni hutan Sumbawa karena meluasnya lahan jagung. Sebelum ada program jagung, panen madu murni sangat luar biasa produksinya, sangat melimpah. Namun bergeser produksi madu hutan murni ini tiba-tiba menjadi langka akhir – akhir ini. “Karena makin tidak terkendalinya masyarakat yang membuka lahan hutan untuk pengembangan lahan jagung, ikon kita ini sangat terancam keberadaannya. Padahal sangat banyak masyarakat yang menggantungkan hidup dari berburu madu hutan ini,” ujarnya.

Bahkan hasil panen madu Sumbawa jaug lebih besar manfaatnya secara ekonomis, dibandingkan dengan jagung. Selain keseimbangan alam tetap terjaga. Masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk berproduksi. Cukup hanya memanen saat diyakini sudah terjadi pembuahan lebah-lebah madu. Masyarakat Sumbawa menurutnya sangat seringkali menyuarakan, agar masifnya lahan jagung ini bisa dikendalikan. Tetapi nyaris tidak terdengar. Pemerintah semakin memberikan dukungan untuk peningkatan produksi jagung.

“Kita yang berusaha mengingatkan terus kepada masyarakat agar menjaga ekosistem hutan agar madu ini lestari. Tetapi di satu sisi, pemerintah terus mendorong produksi jagung ditingkatkan. Ini persoalan yang kami khawatirkan. Semoga saja penentu kebijakan mendengar dan memperhatikan haparan kami,” demikian Walit. (bul)

AdvertisementJasa Pembuatan Website Profesional