Masyarakat Miskin dan Rentan Miskin di NTB Bertambah Jadi 2,9 Juta Jiwa

Data Warga Miskin di NTB Tahun 2020.

Mataram (Suara NTB) – Menteri Sosial (Mensos) telah menetapkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) terbaru berdasarkan Kepmensos No. 19 Tahun 2020. Dari DTKS yang terbaru tersebut, jumlah masyarakat miskin dan rentan miskin di NTB bertambah menjadi 2,9 juta jiwa lebih dibandingkan DTKS sebelumnya yang mencapai 2,4 juta jiwa.

Kepala Dinas Sosial (Disos) NTB, H. Ahsanul Khalik, S.Sos., M.H., yang dikonfirmasi Suara NTB, Kamis, 7 Januari 2021 mengatakan bahwa data tersebut merupakan hasil perbaikan DTKS pada 2020 lalu.

‘’Validasi DTKS oleh kabupaten/Kota periode Agustus – Oktober 2020 yang kita gencarkan  sesuai jadwal Kemensos. Lalu ditetapkan hasil validasi tersebut  oleh Kementerian Sosial pada bulan Oktober 2020,’’ terang Khalik.

Mengacu DTKS 2020 yang telah ditetapkan Kemensos, jumlah masyarakat miskin dan rentan miskin di NTB sebanyak 2.927.951 jiwa atau 894.433 keluarga atau 860.117 rumah tangga. Dengan rincian Bima 304.939 jiwa, Dompu 137.418 jiwa, Kota Bima 72.970 jiwa.

Kemudian, Kota Mataram 150.985 jiwa, Lombok Barat 415.048 jiwa, Lombok Tengah 576.412 jiwa, Lombok Timur 851.764 jiwa, Lombok Utara 135.814 jiwa, Sumbawa 220.236 jiwa dan Sumbawa Barat 62.365 jiwa. DTKS memuat empat kategori kemiskinan, yaitu desil 1 sangat miskin, desil 2 miskin, desil 3 hampir miskin dan desil 4 rentan miskin.

Khalik mengatakan DTKS menjadi data acuan dalam program pengentasan kemiskinan. Baik berbagai program dari pemerintah pusat di semua kementerian. Karena sekarang intervensi program untuk pengentasan kemiskinan berdasarkan DTKS.

‘’Bahkan periode Januari – Maret 2021 kita sudah mulai juga validasi. Validasi ini menjadi perhatian khusus Pak Gubernur dan Ibu Wagub,’’ kata mantan Kepala Pelaksana BPBD NTB ini.

Sehingga, kata Khalik, data masyarakat miskin dan rentan miskin yang ada dalam DTKS 2020 bisa berubah. Sehingga masyarakat yang selama ini merasa miskin tapi tidak pernah dapat bantuan bisa tervalidasi dan masuk dalam data.

‘’Hal-hal seperti ini kan masih ada di masyarakat, dan untuk menjawabnya adalah validasi rutin (DTKS) secara  terjadwal,’’ pungkasnya. (nas)